Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTradisi Tambengan - Kab. Sampang, Jawa Timur
Sejarah: Setiap masyarakat memiliki budaya yang berbeda terkait dengan siklus daur hidup manusia. Begitu juga yang terjadi di Taman Sare, Camplong, Sampang terkait dengan budaya atau tradisi upacara kematian. Masyarakat Taman sare memiliki tradisi Tambengan dalam rangkaian upacara kematian. Tradisi Tambengan dilaksanakan oleh masyarakat Taman Sare, Kecamatan Camplong, Sampang. Tradisi ini sudah dijalankan sebagai sebuah budaya turun-temurun dari nenek moyangnya hingga sekarang. Mereka tetap memegang tradisi itu dan melaksanakan ketika ada seseorang dalam keluarganya yang meninggal dunia. Dalam tradisi ini, setiap orang yang bertakziyah, selama jenazah belum dikuburkan akan diberikan uang oleh keluarga yang ditinggalkan. Pemberian itu tidak ternilai dan keluarga yang ditinggalkan melakukan hal itu sampai jenazah dimakamkan. Setelah dimakamkan bukan berarti tugas keluarga yang ditinggalkan selesai. Keluarga yang ditinggalkan selanjutnya meletakkan uang di atas kuburannya sebelum meninggalkan makam, dan itu semua adalah bagian dari budaya tambengan. Deskripsi: Sebuah budaya tambengan terlaksana ketika ada salah satu anggota keluarga yang meninggal dunia. Setiap orang yang bertakziyah, selama jenazah belum dikuburkan keluarga yang ditinggalkan memberikan sebuah uang terhadap orang yang bertakziyah. Pemberian itu tidak ternilai dan keluarga yang ditinggalkan melakukan hal itu sampai jenazah dimakamkan. Setelah dimakamkan bukan berarti tugas keluarga yang ditinggalkan selesai sampai disitu, keluarga yang ditinggalkan meletakkan uang diatas kuburannya sebelum meninggalkan makam, dan itu semua adalah bagian dari budaya tambengan. Alasan dilaksanakannya Tradisi Tambengan sebagai berikut. 1. Memberikan uang terhadap orang yang bertaksiyah selama jenazah belum dikuburkan itu dilakukan oleh keluarga yang ditinggal. Pembagian uang terhadap orang yang bertaksiyah berlangsung sampai jenazah dimandikan, disholatkan, dan dimakamkan. 2. Memberikan uang dianggap sebagai sedekah yang terakhir untuk mengharap pahala yang bisa dibawa ke alam akherat. Sebuah pengorbanan dan kepasrahan tidak sia-sia. 3. Meletakkan uang di atas kuburan bertujuan sebagai bekal bagi yang meninggal, dan setelah tujuh langkah orang terakhir terangkat dari kuburannya wujud dan sapaan salam Munkar dan Nakir tidak terlalu mempersulit dalam keberadaan jenazah di liang lahat pada malam pertama dalam tempatnya yang baru. 4. Semua yang dilakukan oleh mereka untuk jenazah bisa mempermudah dalam pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir, dan semua pertanyaan itu semua bisa terjawab dengan mudah oleh jenazah. 5. Tahap-tahap dari pembagian saat belum dimandikan, saat dimandikan, dan dalam perjalan, sampai disaat di area pemakaman itu sebuah simbol bagi mereka agar bisa melawati tahap-tahap ketika dialam mash’ar, di antaranya bisa melewati tahap penimbangan dosa dan amal, rupa dan penampakan pada saat hidupnya, dan ketika menyeberangi jembatan sirotul mustaqim yang tajamnya melebihi samurai, dan sekecil rambut. Semua itu adalah simbol dari apa yang dilakukan keluarga yang masih hidup itu yang berupa tradisi tambengan Berdasarkan beberapa alasan inilah mereka tetap menjalankan semua tradisi itu sebagai budaya di Desa Taman Sare. Dalam menjalankan tradisi itu, mereka tanpa mempertanyakan lagi kebenarannya, Karena bagi mereka itu adalah warisan dari sesepuh mereka.