Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTradisi Nginguk Sumur Gede - Madiun, Jawa Timur
Tradisi Nginguk Sumur Gedhe merupakan sebuah tradisi yang dilaksanakan hingga sekarang oleh masyarakat Dusun Sumberejo, Desa Sambirejo, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun terkait dengan tradisi yang harus dilakukan oleh pasangan yang akan menikah. Menurut masyarakat Dusun Sumberejo jika tradisi tersebut tidak dilaksanakan maka akan mendatangkan malapetaka bagi pengantin itu sendiri maupun masyarakat pendukungnya. Tradisi Nginguk Sumur Gedhe tersebut berawal dari cerita Ki Irahuda dan istrinya. Pada suatu hari Ki Irahuda bersama istrinya tersebut tiba di Gunung Pandan sekitar Dusun Sumberejo. Di tempat tersebut mereka merasa aman dan tenteram sehingga mereka kemudian menebang hutan (babad alas) dan mendirikan padepokan. Ki Irahuda bersama istrinya betah tinggal ditempat yang baru mereka buka tersebut, yang membuat mereka resah adalah tidak adanya air disekitar daerah tersebut. Ki Irahuda kemudian melakukan semedi untuk memohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa agar kebutuhan air untuk sehari-hari dapat terpenuhi dan anak cucunya kelak tidak mengalami kekurangan air. Suatu hari saat Ki Irahuda bersemedi dia didatangi oleh seorang yang sudah renta yang mengajaknya ke suatu tempat dan disamping kanan kirinya ditumbuhi oleh pohon besar. Orang tersebut mengarahkan telunjuknya pada tengah-tengah pohon besar tersebut sambil tersenyum. Keesokan harinya Ki Irahuda mulai mencari tempat seperti yang ditunjukan oleh orang tua yang datang di dalam semedinya. Ternyata tempat tersebut tidak jauh dari tempat tinggalnya. Mulai saat itu juga Ki Irahuda mulai menggali tanah yang letaknya paling tengah diantara pohon besar. Baru beberapa meter menggali dari dalam tanah tersebut mengucur sumber air yang sangat jernih. Ki Irahuda sangat senang dan segera pulang untuk memberitahukan berita tersebut kepada istrinya. Dari tahun ketahun kehidupan Ki Irahuda semakin membaik, apalagi dia telah dikaruniai enam orang putra yaitu Irakunci, Irasana, Iradipa dan ketiga saudaranya yang lain. Saat pernikahan putranya yang pertama yaitu Irakunci, Ki Irahuda ingin merayakannya secara besar-besaran. Oleh karena itu dia mengundang orang-orang yang tinggal di daerah sekitar (yang paling dekat dengan rumahnya). Saat resepsi berlangsung Ki Irahuda didatangi oleh orang tua yang dulu pernah menunjukan sumber air. Orang tua tersebut mengaku bernama Mbah Aruk Danyang Sumur Gede. Mbah Aruk menceritakan bahwa ia memiliki beberapa anak. Anaknya yang teakhir yang bernama Sukilah mengalami kelumpuhan dan tak bisa kemana-mana. Tetapi ia ingin sekali melihat perayaan terutama melihat pengantin. Ia paling suka melihat orang yang dirias karena terlihat cantik dan tampan. Oleh karena itu ia meminta kepada Ki Irahuda untuk mengantarkan pengantin ke Sumur Gede agar anaknya Sukilah dapat melihatnya. Mbah Aruk juga mengatakan kalau hal itu tidak dilaksanakan maka ia akan marah dan bisa berbuat apa saja. Untuk menghargai dan menghindari malapetaka Ki Irahuda memenuhi permintaan Mbah Aruk yaitu mengantarkan pengantin ke Sumur Gede. Tradisi tersebut sampai sekarang masih dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Sumberejo. Pelaksanaan tradisi Nginguk Sumur Gede dibedakan menjadi dua yaitu sebelum Nginguk Sumur Gede (tradisi mususi) dan tradisi Nginguk Sumur Gede itu sendiri. Ubarampe yang digunakan dalam tradisi sebelum Nginguk Sumur Gede (tradisi mususi) dan tradisi Nginguk Sumur Gede adalah sama. Tradisi sebelum Nginguk Sumur Gede dilaksanakan sebelum pengantin Nginguk Sumur Gede atau sebelum resepsi pernikahan berlangsung. Tradisi mususi meliputi pageran, ngobong menyan (membakar menyan), mususi (mencuci beras), adang sego (menanak nasi) dan Guwakan. Pageran dilaksanakan untuk memohon kepada Yang Maha Esa agar pelaksanaan pernikahan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan khususnya segala masakan yang dimasak bisa dimakan dan tidak menimbulkan penyakit. - Pageran dilaksanakan sekitar jam 09.00 WIB oleh sesepuh Dusun atau siapa saja yang mengerti tentang pageran. Dalam pelaksanaan pageran ini hal-hal yang perlu dipersiapkan antara lain: beras yang akan dicuci di Sumur Gede, cabe, kelapa, air putih, gula, garam, mie, rokok, bawang putih, bawang merah, kacang hijau dan semua kebutuhan lain yang akan digunakan untuk memasak. Semua kebutuhan atau perlengkapan tersebut diambil sedikit-sedikit dan ditaruh di dalam suatu wadah seperti nampan atau tampah. Setelah semuanya lengkap maka seorang sesepuh Dusun atau orang yang tahu tentang pageran (mathoklek) akan membacakan doa yang intinya memohon kepada Yang Maha Esa agar dalam pelaksaan hajatan bisa selamat dan semua masakan yang dimasak bisa dimakan (tidak menimbulkan penyakit). - Ngobong Menyan (membakar kemenyan) setelah upacara pageran selesai, maka perlengkapan yang sudah diberi doa dibawa kedapur dan dicampur dengan perlengkapan yang lain. Sedangkan beras yang akan dicuci dibawa ke Sumur Gede. Pelaksanaan mususi ini dilaksanakan oleh dua orang wanita, yang pertama adalah wanita yang menggendong beras. Wanita yang menggendong beras ini tidak memerlukan syarat-syarat tertentu, jadi bisa wanita muda maupun wanita yang sudah tua. Yang kedua adalah wanita yang membawa ubarampe mususi. Syarat wanita yang membawa ubarampe ini adalah wanita yang sudah tua (wanita yang sudah pernah menikahkan anaknya). Ubarampe yang diperlukan dalam upacara membakar kemenyan ini antara lain: merang (tangkai ketan), kemenyan dan dua takir. Takir pertama berisi kembang Boreh atau kembang untuk menyekar yaitu bunga kantil, bunga mawar, bunga kenanga, daun pandan, minyak serimpi dan enjet (batu kapur yang sudah terendam air). Takir yang kedua berisi kacang hijau, kemiri, bawang merah, bawang putih, cabe, telur dan kembang bantal (gambir yang dibungkus dengan daun sirih dan biasanya digunakan untuk menginang). Setelah sampai di Sumur Gede, maka wanita yang membawa ubarampe tadi menuju salah satu sisi dinding Sumur Gede yang sudah tersedia untuk membakar kemenyan. Wanita tersebut akan mulai membakar merang yang di dalamnya disisipka kemenyan, sambil membaca doa atau ujub yang ditujukan kepada danyang Sumur Gede (roh penunggu Sumur Gede). - Mususi (mencuci beras) Saat merang (tangkai ketan) sudah terbakar, maka beras akan mulai dicuci. Wanita yang menggendong beras tadi akan menimba air di Sumur Gede, sedangkan wanita yang membawa ubarampe yang mencuci beras. Pada pelaksaan tradisi mususi ini tidak ada ujub atau doa tertentu. Tradisi mususi ini dilaksanakan seperti mencuci beras pada umumnya. Setelah beras sudah basah semua maka proses mususi sudah dianggap selesai. Dalam mususi beras tidak perlu dicuci hingga bersih karena upacara tersebut hanya syarat saja, jadi setelah tiba dirumah (ditempat orang yang punya hajat) beras tersebut bisa dibersihkan lagi. - Adang Sego, beras yang sudah dibersihkan (dipususi) tadi dimasak dalam panci atau dandang (seperti menanak nasi pada umumnya). Selain menanak nasi juga ada memasak makanan yang dibutuhkan dalam hajatan terutama memasak untuk selamatan dan Guwakan. Adapun masakan yang harus dimasak antara lain sayur tempe, mie goreng, blendung (isi kacang panjang atau disebut kacang tolo yang dimasak dengan santan kelapa dengan bumbu ketumbar, bawang merah, bawang putih, laos, garam, daun salam dan vitsin), ayam kampung yang dipanggang, kering tempe (tempe yang di iris persegi panjang kemudian digoreng dan diberi bumbu bawang merah, bawang putih, cabe merah, kecap, garam, laos dan vitsin), sambal goreng kentang (kentang yang di iris kotak seperti dadu, kemudian digoreng dan diberi bumbu bawang merah, bawang putih, cabe merah, cabe rawit, tomat, laos, garam dan serai), sambal goreng rempelo ati, srondeng (parutan kelapa yang digoreng kemudian diberi bumbu bawang putih, ketumbar dan garam) dan memberi kue atau jajanan seperti rangginang, jadah (tetel putih), jenang (tetel merah), tape dan apem. - Guwakan, setelah semuannya sudah masak, maka seorang peracik (orang yang bertanggung jawab atas urusan dapur) akan mempersiapkan bekal untuk Guwakan. Guwakan akan dilakukan di enam tempat yaitu di Sumur Gede, sendang, belik gandri, belik mbag, belik juwar dan belik sambi. Setiap tempat tersebut akan diberi tiga macam Guwakan yaitu : a) Jajanan yang berisi jadah, jenang, tape, apem dan pisang. b) Sego kokoh (nasi yang berisi sayur tempe) dengan lauk mie, blendung, kecambah dan kaki ayam (ceker). c) Sego uduk (nasi untuk slamatan) dengan lauk kering tempe, srondeng, sambel goreng kentang, sambel goreng rempelo ati, kepala ayam dan kaki ayam. Dalam membuat Guwakan yang harus di dahulukan atau diutamakan adalah Guwakan di Sumur Gede dan di sendang. Untuk Guwakan di Sumur Gede dan sendang, ayamnya harus bagian kepala, sayap dan kaki. Sedangkan untuk Guwakan yang lain ayamnya bisa apa saja. Bila semuanya sudah siap, maka Guwakan akan dilakukan oleh dua orang laki-laki. Yang pertama adalah Guwakan di Sumur Gede dan sendang. Yang ke dua memasang Guwakan di belik gandri, belik juwar, belik sambi dan belik mbak. Masyarakat Sumberejo percaya bahwa sumber air yang ada dilokasi penelitian dijaga oleh seorang danyang. Oleh karena itu disetiap sumber air di beri Guwakan, hanya saja danyang yang menjaga sumber air di Sumur Gede dan sendang lebih berkuasa dari pada danyang yang menjaga sumber air di belik gandri, belik mbag, juwar dan belik sambi. Hal tersebut mengakibatkan isi Guwakan di Sumur Gede, sendang dengan belik gandri, belik mbag, juwar dan belik sambi sedikit berbeda. Pelaksanaan tradisi Nginguk Sumur Gede di Dusun Sumberejo merupakan kelanjutan dari tradisi sebelum Nginguk Sumur Gede (tradisi mususi). Setelah pelaksanaan tradisi sebelum Nginguk Sumur Gede selesai, maka keesokan harinya baru dilaksanakan resepsi pernikahan yang kemudian dilanjutkan dengan upacara tradisi Nginguk Sumur Gede. Biasanya resepsi pernikahan dilaksanakan pada siang hari antara jam 11.00 sampai jam 15.00. Setelah para tamu beranjak pulang maka pengantin akan dibawa atau di antarkan ke Sumur Gede oleh para peladen (pelayan) dan perias manten. Kedua pengantin harus menggunakan pakaian kemanten. Dulu pengantin diantarkan ke Sumur Gede dengan berjalan kaki tetapi sekarang bersamaan dengan berkembangnya zaman tidak jarang pula pengantin yang datang diantarkan dengan menggunakan mobil. Tradisi ini meliputi : ngobong menyan (membakar kemenyan), pengantin Nginguk Sumur Gede dan pengantin masuh sikil ing Sumur Gede (pengantin membasuh kaki di Sumur Gede). - Ngobong menyan (membakar kemenyan), setelah pengantin tiba di Sumur Gede maka wanita yang akan memberi doa mendekati sisi dinding Sumur Gede untuk membakar kemenyan. Tradisi membakar kemenyan ini prosesnya sama dengan tradisi membakar kemenyan yang dilakukan sebelum tradisi Nginguk Sumur Gede (tradisi mususi). Proses pembakaran dan ubarampenya juga sama. - Pengantin Nginguk Sumur Gede, setelah membakar kemenyan, maka pengantin akan mendekati bibir sumur. Hal tersebut dilakukan agar lebih mudah dalam upacara Nginguk Sumur Gede. Bila sudah siap makan pengantin akan Nginguk Sumur Gede secara bersamaan. Upacara tersebut dilakukan sebanyak tiga kali. Setelah selesai Nginguk Sumur Gede pengantin akan mundur dari beberapa langkah dari bibir Sumur untuk memudahkan upacara selanjutnya. - Pengantin masuh sikil ing Sumur Gede, tahap yang terakhir adalah pengantin membasuh kaki di Sumur Gede. Pada saat pengantin mundur beberapa langkah dari bibir sumur maka wanita yang sebelumnya memberi doa dan membakar kemenyan akan menimbakan air untuk membasuk kaki pengantin. Dalam pelaksanaan membasuh kaki ini tidak ada syarat tertentu untuk pengantin, seperti pada saat temu manten (bertemunya kedua mempelai) yang mengharuskan pengantin wanita membasuh kaki pengantin laki-laki. Upacara membasuh kaki di Sumur Gede ini bisa dilakukan sendiri-sendiri yaitu pengantin wanita membasuh kakinya sendiri begitu pula pengantin laki-laki juga membasuh kakinya sendiri. Setelah semua pelaksanaan tradisi tersebut selesai maka pengantin beserta rombongannya akan kembali pulang kerumah (ketempat yang punya hajat), kemudian pengantin baru mengganti pakaiannya. Perlengkapan atau ubarampe tradisi sebelum Nginguk Sumur Gede dan tradisi Nginguk Sumur Gede dilaksanakan dengan menggunakan berbagai macam perlengkapan atau ubarampe yang bermacam-macam jenisnya. Ubarampe yang digunakan dalam pelaksanaan tradisi sebelum Nginguk Sumur Gede dan tradisi pada saat Nginguk Sumur Gede adalah sama dan harus lengkap tidak boleh ada yang kurang. Ubarampe yang digunakan dalam tradisi tersebut antara lain : 1. Merang Merang atau tangkai ketan ini harus satu ikat dan alat pengikatnya harus dari tangkai ketan juga 2. Kemenyan Kemenyan yang digunakan tidak boleh terlalu besar dan terlalu kecil yang sedang saja atau sebesar biji kemiri. 3. Takir Takir ini terbuat dari daun pisang yang dibentuk seperti mangkok, kemudian kedua ujungnya diberi tusuk dari lidi. Guna takir ini adalah sebagai wadah kembang Boreh (bunga untuk menyekar) dan telur, kacang hijau, kembang bantal, bawang putih, bawang merah, cabe dan kemiri. 4. Telur Telur yang dimasukan dalam takir haruslah telur ayam Jawa. 5. Kembang Boreh Kembang Boreh ini biasanya digunakan untuk menyekar. Isinya antara lain bunga mawar, bunga kenanga, bunga kantil, daun pandan, minyak serimpi dan enjet (batu kapur yang sudah terendam air). 6. Kacang hijau Kacang hijau adalah sejenis kacang-kacangan yang biasanya digunakan untuk membuat bubur. 7. Kembang bantal Kembang bantal terbuat dari gambir yang dibungkus dengan daun sirih. Dan daun sirih ini biasanya digunakan untuk menginang. 8. Kemiri 9. Bawang putih 10. Bawang merah 11. Cabe rawit