Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaShalawat Gembrungan - Madiun, Jawa Timur
Shalawat Gembrungan merupakan kesenian yang memadukan antara budaya Islam dengan budaya Jawa. Kesenian ini merupakan kesenian peninggalan nenek moyang dari zaman para wali dahulu yang digunakan sebagai media maupun alat untuk menyebarkan agama Islam kepada masyarakat. Kesenian tersebut mengintegrasikan tradisi pembacaan shalawat dengan iringan musik terbang yang dikolaborasikan dengan gamelan dan kendang serta irama lagu gending tradisional sebagai seni budaya lokal khas Jawa. Kata ‘gembrung’ sendiri merupakan nama yang berasal dari suara atau bunyi dari alat musiknya yang ketika ditabuh menghasilkan suara tung, tak, tung, brung. Syair atau lagu yang dibawakan sebagian besar merupakan shalawat yang secara khusus merujuk pada berkah dan permohonan kepada Nabi Muhammad SAW. Shalawat gembrungan biasa dipentaskan dalam acara-acara hajatan warga seperti (ritual selamatan bayi tujuh bulan dalam kandungan), piton-piton (ritual tujuh bulan setelah banyi lahir), aqiqahan, sunatan (perayaan khitan), dan sebagainya. Dalam hari-hari besar Islam shalawat gembrungan juga dipentaskan dan dikumandangkan. Hari-hari tersebut antara lain Maulid Nabi SAW, Isra’ Mi’raj, dan Suro (tahun baru Islam). Pada hari-hari tersebut shalawat gembrungan terdengar dilantunkan saat malam hari di mushola maupun masjid. Shalawat gembrungan yang ada di Desa Kaibon, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun awal mulanya dibawa atau diperkenalkan oleh K.H Ahmad Mustofa pada tahun 1968. Beliau merupakan tokoh yang sangat penting di Desa Kaibon. Dahulu di Desa Kaibon masyarakatnya belum paham betul dengan agama Islam. Lambat laun dengan hadirnya kesenian gembrungan, masyarakat menjadi lebih memahami dan taat beragama. Dalam shalawat gembrungan ini penyanyi atau vokal menyanyikan syair-syair gembrungan dengan di iringi lantunan musik terbang dengan gendang, kemudian dijawab oleh anggota lainnya, beserta penabuhnya juga. Pada pembukaan shalawat gembrungan diawali dengan melantunkan syair Sholawat Khotaman Nabi SAW, setelah itu lagu-lagu atau syair seperti tembang Jawa. Begitu seterusnya sampai syair yang dinyanyikan habis atau waktu sudah menunjukkan pukul 24.00 Dalam menyanyikan lagu atau syair kesenian gembrungan cukup sulit, karena semua syair yang ada merupakan nada-nada tinggi dan cengkokan-cengkokan lagunya yang cukup menyulitkan mengatur nada. Memerlukan stamina yang fit, dan betah melek dimalam hari karena pementasan pasti diwaktu malam. Pementasan shalawat gembrungan pada umumnya dilaksanakan mulai pukul 8 malam hingga pukul 12 malam. Akan tetapi semua itu tidak terasa lela jika menikmati. Syair yang dilantunkan memang keras dan bernada tinggi, tapi siapa saja yang mendengarnya pasti merasa nyaman di hati atau ayem tentrem ning batin. Dalam shalawat gembrungan terdapat nilai-nilai yang bisa diambil. Nilai-nilai tersebut antara lain: - nilai pendidikan, nilai pendidikan yang dimaksud yakni nilai pendidikan yang berkaitan dengan sholawat gembrungan, karena didalamnya menceritakan kisah Rasulullah SAW. Pendidikan yang merupakan cerminan dari tauladan rasulullah SAW yang selalu dan tidak pernah lelah untuk menambah ilmu, beliau juga orang yang sempurna, cerdas. - nilai religi, kesenian gembrungan cukup kental dengan religi, beraromakan Islam. Lagu atau syair yang ditujukan untuk umat dan menjunjung nabi agung Muhammad SAW. Juga digunakan oleh para ulama zaman dahulu untuk menyebarkan/menyiarkan agama Islam kepada masyarakat. - nilai etika, para pemain gembrung bersama-sama melantunkan lagu juga digunakan untuk mengajak masyarakat untuk berperilaku baik, sopan dan santun kepada semua orang, karena sifat seperti itu adalah sifat yang dimiliki oleh Rasulullah SAW. - nilai budaya, shalawat gembrungan yang merupakan peninggalan dari para leluhur, merupakan tradisi masa lalu dari budaya yang dulunya memang masih kental dengan Jawa, walaupun kemudian budaya tersebut dipadukan dengan budaya Islam. - nilai spiritual, hubungan atau kebutuhan antara manusia dan sesuatu yang diagungkannya. Sudah jelas kesenian gembrungan mengajak para umat atau masyarakat untuk meneladani dan mencintai Rosulullah SAW. Jika mencintai Rosulullah juga sama saja mencintai Allah SWT, karena nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang paling dimuliakan oleh Allah. - Nilai seni, sudah jelas juga gembrungan adalah sebuah kesenian, perpaduan antara Jawa dan Islam, alat-alat musiknya juga merupakan seni yang tak ternilai harganya. Alat musik seperti kendang yang sangat erat dengan budaya jawa. - nilai kekeluargaan, setiap pemain shalawat gembrungan sangat menjalin erat tali silaturahmi dalam setiap pementasan yang menyanyikan lagu secara bersama-sama.