Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Samplok- Nganjuk, jawa Timur |
Samplok merupakan nama salah satu jajanan atau kudapan khas Nganjuk yang dibuat dari bahan dasar ketela pohon atau singkong. Disajikan dengan menarik di atas daun pisang, berpadu kontras antara warna kuning singkong yang berbalut parutan kelapa menambah nikmat kudapan tersebut.
Meskipun Samplok termasuk kudapan sederhana, namun proses pembuatannya cukup menghabiskan waktu dan tenaga. Dimulai dari ketela dikupas hingga bersih kemudian dicuci, kemudian diparut atau dihaluskan dengan mesin penggiling sampai halus. Setelah itu dilakukan pembuangan rasa getir dan pahit ketela dengan cara diperas menggunakan tangan, seperti memeras kepala parut. Selanjutnya ketela tadi diberi garam secukupnya dan dimasak sampai matang. Setelah matang parutan ketela tersebut ditumbuk agar menjadi padat dan lebih halus. Baru setelah itu dibentuk bulat-bulat sesuai selera.
Samplok bisa dinikmati kapan saja, baik pagi ataupun sore hari. Pada umumnya masyarakat biasa membeli Samplok di pasar tradisional seperti Pasar Wage, Pasar Gondang, atau Pasar Kertosono saat pagi hari, sehingga Samplok lebih cenderung dinikmati di pagi hari.
Makanan ini wujudnya berwarna kuning keemasan Dibalut parutan kelapa yang menambah nikmat makanan asli orang pedesaan Nganjuk. Tak banyak warga desa yang bisa membuat samplok. Hanya segelintir orang saja yang masih mempertahankan keberadaan penganan ini. Lebih kerap ditemui adalah wanita yang sudah beranjak sepuh. Bagi mereka, menjual samplok dan makanan tradisional lainnya adalah profesi yang masih mampu mereka jalani hingga kini. Meski keuntungan yang didapat pun tak seberapa. Dibuat dari bahan dasar ketela pohon alias singkong, tumbuhan yang cukup mudah ditemukan di wilayah Nganjuk baik di musim hujan maupun kemarau.
Membuat samplok ternyata tak semudah seperti membuat gethuk. Meski dari ketela, namun proses pembuatannya sendiri lumayan rumit di samping perlu waktu dan tenaga ekstra. Awalnya, ketela dikupas sampai bersih dan dicuci. Kemudian baru diselep (dihaluskan dengan mesin penggiling) biar halus. Baru setelah itu dilakukan pembersihan dari rasa getir dan pahit dengan cara diperas dan ditekan dengan tumpukan batu hingga cukup atus/tak mengandung air, selanjutnya, dilakukan pemisahan dan pencampuran dengan garam secukupnya untuk selanjutnya di masak hingga matang. Setelah itu, dilakukan penumbukan agar menjadi padat dan lebih halus untuk selanjutnya dicetak bulat-bulat sesuai dengan ukuran pemesan. Tak lupa kelapa muda diparut sebagai pelengkap rasa. Sehingga rasa gurih dari parutan kelapa ikut terasa saat samplok disantap.
Meski sama-sama termasuk penganan kelas berat, samplok masih kalah bersaing dengan roti. Disamping tidak tahan lama karena cara pembuatannya yang alami tanpa bahan pengawet, juga lantaran banyak memerlukan tenaga. Di kota sedang seperti Nganjuk saja, industri roti bak jamur yang banyak tumbuh di kota bahkan pedesaan. Hal ini berbeda dengan samplok yang hanya dibuat oleh segelintir orang saja. Menyedihkan memang, tapi itulah kenyataan. Namun diantara segelintir orang Sumini termasuk salah satunya. Wanita 43 tahun asal Dusun Gilis Desa Sonobekel Kecamatan Tanjunganom ini tak bisa mengelak nasibnya yang kini menuntunnya menjadi pembuat dan penjual samplok. Semua itu tak lepas dari sejarah masa kecilnya yang sudah akrab dengan samplok. Kegiatannya membuat samplok dilakukannya pada saat saat senggang seperti sedang menunggu panen padi. Dengan memanfaatkan waktu luang, Sumini mengajak ibu-ibu di desanya membuat samplok.