Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKesenian Jaranan Pogogan - Nganjuk, Jawa Timur
Kesenian jaranan pogogan merupakan kesenian asli dari Kabupaten Nganjuk, kesenian jaranan yang unik serta berbeda dengan kesenian jaranan yang berasal dari daerah lain. Keunikan jaranan terletak pada pementasan yang tidak ada adegan kesurupan serta tidak menggunakan kemenyan yang identik dengan hal-hal yang berbau mistis seperti kesenian jaranan pada umumnya. Jaranan pogogan dikenal masyarakat sebagai jaranan wayang orang karena dalam pementasannya ada lakon (jalan cerita) serta setiap pemain dirias seperti tokoh-tokoh wayang orang. Hal yang paling menonjol pada kesenian ini adalah adanya tokoh pogog (ndagel). Pogog dalam bahasa Jawa berarti terpotong (tugel), karena dalam pementasan selalu berbuat usil serta riasan yang tidak pada umumnya sehingga mengundang gelak tawa dari penonton. Asal mula kesenian jaranan pogogan berasal dari cerita rakyat tentang pasukan berkuda dari Prabu Klono Sewandono yang berasal dari Kerajaan Bantarangin ketika sedang beristirahat di sebuah tempat saat menuju Kediri untuk melamar Dewi Songgolangit. Ketika sedang beristirahat tersebut meraka asyik berbincang dan bersenda gurau. Dari cerita rakyat itulah kemudian menjadi asal usul terciptanya kesenian jaranan pogogan. Kesenian jaranan pogogan lahir di Dusun Jimbir, Desa Sugihwaras, Kecamatan Prambon, pada tahun 1956. Nama grup kesenian jaranan pogogan “Teguh Rahayu” yang dipimpin oleh Bapak Maridjo. Tahun 1965 hingga tahun 1975 merupakan masa keemasan kesenian jaranan pogogan Teguh Rahayu, walaupun terjadi gejolak politik di Indonesia pada tahun 1965 namun tidak menyurutkan eksistensi kesenian jaranan pogogan. Tahun 1978 hingga 1980 merupakan kemunduran kesenian jaranan pogogan, banyak kesenian lain yang lebih digemari oleh masyarakat serta munculnya kesenian jaranan yang beradegan kesurupan yang membuat jaranan pogogan semakin meredup.