Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaPanggung Sangga Buwana - Surakarta. Jawa Tengah
Panggung Sangga Buwana merupakan salah satu bangunan yang terdapat di Keraton Kasunanan Surakarta. Bangunan tersebut didirikan oleh Sri Susuhunan Paku Buwono III pada tahun 1708 tahun Jawa atau 1728 Masehi. Tahun pembuatan tersebut dapat dilihat dari hiasan yang ada di puncak bangunan Panggung Sangga Buwana yang berbentuk seperti topi bulat terdapat sebuah hiasan seekor naga yang dikendarai oleh manusia sambil memanah. Hiasan tersebut tidak hanya sekedar hiasan semata namun menurut Babad Surakarta hal itu merupakan sengkalan milir. Sengkalan milir tersebut bila diterjemahkan berbunyi Naga Muluk Tinitihan Janma yang berarti tahun 1708 Jawa atau 1782 Masehi yang merupakan tahun berdirinya Panggung Sangga Buwana (Naga=8, Muluk=0, Tinitihan=7, dan Janma= 1). Sengkalan milir tersebut juga mempunyai arti lain yakni 8 diartikan dari bentuk panggung sangga buwana yang bentukya segi delapan, 0 diartikan dari tutup bagian atas bangunan yang berbentuk seperti topi, 7 adalah manusia yang mengendarai naga sambil memanah dan 1 diartikan sebagai tiang/bentuk bangunan yang seperti tiang. Nama dari panggung sendiri juga merupakan sebuah sengkalan milir yang merupakan kependekan dari kata Panggung Luhur Sinangga Buwana. Nama tersebut melahirkan dua sengkalan sekaligus dan bila diterjemahkan terdapat dua jenis tahun yang berbeda yaitu tahun Jawa dan Hijriah. Sengkalan untuk tahun Hijriah dari kata Panggung yang merupakan gabungan dari PA dan AGUNG. Pa adalah huruf Jawa dan Agung adalah besar berarti huruf Jawa Pa besar yaitu angka delapan, sedangkan Sangga merupakan gabungan daro SANG (sembilan) dan GA adalah huruf Jawa yang nilainya satu, kata Buwana yang berarti dunia bermakna angka satu juga sehingga menunjukan angka tahun 1198 Hijriah. Untuk sengkalan tahun Jawa kata Panggung Luhur Sinanga Buwana, panggung yang merupakan gabungan dari PA dan AGUNG yang berarti huruf Jawa Pa besar sama dengan delapan, luhur mempunyai makna tanpa batas yang berarti angka 0, sinangga bermakna angka 7 dan buwana bermakna angka 1, sehingga bila digabungkan menunjuk tahun Jawa 1708. Bangunan Panggung Sangga Buwana bila dilihat sebagai sumbu dari bangunan keraton yang menghadap ke utara maka bangunan yang berada di sebelah kirinya mempunyai hubungan vertikal dan sebelah kanan hubungan horizontal. Hubungan vertikal yaitu hubungan kepada Tuhan YME sebagai kegiatan spiritual (bangunan Jonggring Selaka, Sanggar Palanggatan, Sanggar Segan, Masjid Bandengan, Masjid Pudyasana, Masjid Suranatan, Masjid Agung, Gereja Protestan Gladag dan Gereja Purbayan. Sedangkan hubungan horizontal yaitu kegiatan duniawi (Pasar Gading, Pasar Kliwon, Pasar Gedhe, Bengawan Solo). Panggung Sangga Buwana juga mempunyai arti sebagai penyangga bumi dan memiliki ketinggian + 30 meter. Panggung Sangga Buwana selain dulunya digunakan sebagai tempat untuk mengintai musuh juga sebagai tempat raja melakukan meditasi dan tempat yang biasa digunakan oleh raja untuk bertemu dengan Kangjeng Ratu Kidul oleh karena itu letak Panggung Sangga Buwana persis segaris lurus dengan jalan keluar Kota Solo menuju ke Wonogiri. Karena merupakan tempat pertemuan antara raja dan ratu Kidul maka Panggung Sangga Buwana sangat disakralkan tidak semua orang bisa masuk ke tempat tersebut kecuali raja dan para abdi dalem yang sudah disumpah. Abdi dalem yang sudah disumpah tersebut tidak diperbolehkan untuk menceritakan kepada siapa pun terkait dengan yang ada di dalam tempat tersebut maupun aktivitas yang sedang berlangsung ditempat tersebut. Panggung Sangga Buwana sebagai tempat yang dihormati maka pada saat-saat tertentu juga dilakukan upacara sesaji (caos dhahar) yaitu setiap Selasa Kliwon (Anggara Kasih), setiap malam Jumat dan saat menjelang upacara-upacara kebesaran keraton.