Cerita Sumur Puteri Pajang Surakarta- Surakarta, Jawa Tengah

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaCerita Sumur Puteri Pajang Surakarta- Surakarta, Jawa Tengah
Karya BudayaTradisi dan Ekspresi Lisan
Karya Budaya SubCerita Rakyat
Kondisi Saat IniSudah Berkurang
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasMasyarakat Tegal Keputren
Pencatat Karya BudayaTh. Esti Wuryansari, S.Ant.
Narasumber-
ProvinsiJawa Tengah
Kabupaten/KotaKOTA SURAKARTA
Penginput DataDwi Hastuti, S.Pd.
Cerita tentang sumur puteri sampai saat ini masih berkembang di masyarakat Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta. Sumur Puteri berada di wilayah RT 03 RW 05 Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta tepatnya dipinggir sebuah kampung yang bernama Tegal Keputren. Secara geografis sumur puteri terletak dipinggir sungai Pajang dan diapit oleh dua kampung yaitu Kampung Tegal Kembang dan Tegal Keputren. Pada saat ini sumur tersebut sudah tidak tampak lagi karena tertutup oleh pohon kamboja yang konon tidak boleh ditebang. Berdasarkan cerita yang berkembang dimasyarakat Tegal Keputren, keberadaan sumur ini tidak lepas dari Keraton Pajang yaitu sebuah kerajaan yang ada di tanah Jawa yang berdiri tahun 1549-1587. Keberadaan sumur tersebut dulunya berada di lingkungan keputren Keraton Pajang yang sering digunakan untuk mandi para puteri-puteri keraton setelah mandi di sendang. Lingkungan keputren dan taman tersebut dikelilingi oleh benteng yang cukup tinggi. Terkait dengan cerita mengenai sumur puteri ada kaitan dengan peristiwa tragis yang melibatkan keluarga Keraton Pajang yaitu peristiwa percintaan antara Raden Pabelan dengan Puteri Sekar Arum yang merupakan puteri sekarkedaton Keraton Pajang. Dikisahkan bahwa pada waktu itu, Tumenggung Mayang mendapat tugas untuk mengumpulkan informasi terkait Kerajaan Pajang yang akan digunakan untuk menaklukan Kerajaan Pajang. Niat penaklukan itu dipicu oleh dendam kepada Raja Pajang yaitu Sultan Hadiwijaya yang pernah berjanji kepada Ki Ageng Pamanahan bahwa akan memberikan hutan Mentaok sebagai tanah perdikan atas jasanya menaklukan pemberontakan Adipati Jipang Panolan Haryo Penangsang, namun janji itu tidak kunjung diberikan. Adapun alasan kenapa tidak diberikan adalah karena adanya ramalan dari Sunan Giri bahwa siapa pun yang memiliki bumi Menthaok akan menurunkan Raja-raja besar di tanah Jawa sehingga ada ketakutan dalam diri Sultan Hadiwijaya jika ramalam tersebut benar-benar terjadi. Akhirnya pada tahun 1556 Ki Ageng Pamanahan berhasil mendapatkan tanah Mentaok tersebut yang kemudian dibuka dan dibangun menjadi tanah Mataram. Sepeninggal Ki Ageng Pamanahan pada tahun 1575, kedudukannya digantikan oleh Sutawijaya yang bergelar Senapati Ingalaga. Senapati kemudian menugaskan Tumenggung Mayang untuk mengumpulkan semua informasi terkait dengan Kerajaan Pajang. Untuk mendapatkan informasi Tumenggung Mayang menugaskan Raden Pabelan yang mempunyai wajah rupawan sebagai trik untuk memikat puteri-puteri Keraton Pajang. Raden Pabelan berhasil memikat hati puteri Sekararum dan mereka saling jatuh cinta. Pada suatu hari Raden Pabelan dan Puteri Sekararum kepergok oleh Nyai Emban Inya sedang memadu kasih. Nyai Emban Inya yang bertugas sebagai pangarsaning emban kaputren tidak mau mengambil resiko dan segera melapor kepada Sultan Hadiwijaya bahwa di keputren telah kemasukan maling aguna (pencuri). Sultan Pajang setelah mendapat laporan kemudian murka dan memerintahkan Wimbasara untuk menyiapkan pasukan dan dan Kanjeng Raden Ngabehi Surakarti dan Wiratanu untuk menangkap maling tersebut (Raden Pabelan). Dalam penangkapan tersebut Raden Pabelan tewas dan jasadnya dibuang ke kali Laweyan. Putri Sekararum yang mendengar kalau Raden Pabelan telah tiada kemudian kemudian menceburkan diri ke dalam sebuah sumur yang ada dipinggir sendang dan jasadnya tidak pernah ditemukan. Kabar tewasnya Raden Pabelan sampai juga di telinga Senapati ing Ngalaga putra Ki Ageng Pamanahan yang sekaligus sebagai putra angkat Sultan Hadiwijaya. Semenjak peristiwa terbunuhnya Raden Pabelan, Danang Sutawiijaya (Senapati Ing Ngalaga) tidak pernah mengikuti pisowanan di Kerajaan Pajang dan sudah dicap sebagai pembelot. Dan perang antara Mataram dengan Pajang pun tidak terhindar, pasukan Pajang dapat dipukul mundur. Sekembalinya dari perang, Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dan dimakamkan di Desa Butuh. Sebelum meninggal Hadiwijaya meninggalkan sebuah wasiat supaya jangan ada yang membenci Sutawijaya karena perang antara Mataram dan Pajang adalah sebuah takdir. Sementara jasad Putri Sekararum yang menceburkan diri ke sumur dekat sendang tidak pernah ditemukan. Sumur tersebut oleh masyarakat hingga sekarang masih dianggap wingit.