Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Kuntulan (Hadrah Kuntulan) - Banyuwangi, Jawa Timur |
Kuntulan atau Hadrah Kuntulan adalah kesenian tradisional yang ada di daerah Banyuwangi, Jawa Timur. Perkembangan kesenian kuntulan tidak bisa dilepaskan dengan sejarah perkembangan Islam di Blambangan sebab kesenian ini bermula dari seni Hadrah Berzanji di kalangan santri dan pesantren di desa-desa. Syair dalam seni kuntulan adalah syair-syair barzanji dengan gerak rodat yang sangat monoton.
Pada tahun 1955-an, pergerakan kesenian di daerah Blambangan mengalami perkembangan khususnya di kalangan santri seperti daerah Kecamatan Kabat dan Kecamatan Rogojampi antara lain seperti Desa Bodean, Tambong, Kawang, Pendarungan, Pengantigan, dan lain- lain. Perkembangan ini ditandai dengan mengembangan seni hadrah ini menjadi seni Kuntulan.
Pada dasarnya kesenian Kuntulan dapat dilihat dalam beberapa aspek di antaranya:
1. Pemain
Pemain atau penyaji kesenian Kuntulan semuanya adalah laki-laki. Pemain rodatnya berjumlah 7-8 orang sedangkan pemain musik pengiring berjumlah 10-12 orang. Dalam sebuah pementasan biadanya ada 2-3 orang yang bertugas untuk membantu hal-hal teknis yang membantu dalam persiapan penyajian namun tidak ikut tampil sebagai penyaji.
2. Tarian
Jenis tarian pada Kuntulan berbentuk gerakan silat dengan pola posisi lantai. Penari rodat dan pemain musik berbaris saling berhadap-hadapan. Gerakannya cenderung cepat, serempak dengan mengikuti dinamikan ritme permainan musik rebana. Di samping gerakan tari silat, ada juag penyajian semacam orang menembak, menghromat, dan sebaginya.
3. Peralatan Musik
Salah satu cirikhas dari musik Kuntulan adalah suara jedor besar yang cukup keras. Peralatan pada kesenian Kuntulan terdiri dari 8-10 rebana, 2 jedor kecil (semacam tenor) yang berfungsi sebagai penerus dan sebuah jedor besar sebagai bass atau gong.
4. Materi Gending atau Lagu
Secara umum penyajian lagu atau syair berbentuk qosidah, puji-pujian dalam Bahasa Arab atau Bahasa Using, namun tak jarang pula menyanyikan lagu-lagu nasional berisi tentang pesan pembangunan dan perjuangan. Jika dilihat sepintas, kadar syiar pada kesenian ini 75% adalah syiar Islam dan 25% adalah hiburan. Lagu yang cukup terkenal dalam kesenian Kuntulan adalah "Tamba Ati" dan juga lagu-lagu bertema perjuangan seperti "Garuda Pancasila" serta lagu daerah "Perjuangan 45". Penyajian lagu dibawakan oleh seorang penyanyi atau perodat yang juga sesekali menari mengikuti irama musik yang sedang dimainkan. Tidak ditemukan dialog dalam kesenian Kuntulan tetapi hanya berbentuk bagian- bagian kecil yang sifatnya menunjang gerakan-gerakan tari seperti perintah atau komando misalnya; "beri salam", "hormat satu kali", "hormat dua kali", "tembak satu kali", "dhor-dhor" dan sebagainya.
5. Busana
Pemain rodat berbusana dengan warna serba putih dalam bentuk kemeja lengan panjang dan mengenakan celana panjang. Beberapa grup Kuntulan ada juga yang mengenakan baju putih dengan rompi berwarna gelap dengan hiasan utaian manik-manik dengan warna yang berkilau dan mengenakan selempang warna emas yang mencolok. Selain itu juga ditambang dengan dasi kupu-kupu berwarna gelap dengan aksesoris semacam tanda pangkat di bahu kiri dan kanan. Pada bagian penutup kepala biasanya mengenakan kopyah atau songkok hitam namun saat ini banyak juga yang mengenakan peci dengan ujung berbentuk runcing (smacam peci pejuang) berwarna putih dengan rumbai yang berfungsi sebagai aksesoris. Perlengkapan lainnya yaitu kaus tangan dan kaus kaki berwarna putih. Namun demikian, saat ini perkembangan busana dalam kesenian ini telah mengalami perkembangan di antaranya yaitu warna busana yang mereka kenakan tidak hanya warna putih, tetapi menyesuaikan seragam dan selera dari pemain.
Kesenian kuntulan pada awalnya difungsikan untuk mengarak pengantin dengan waktu penyajian yang tidak terbatas, namun biasanya sekitar 30 menit pada setiap lagu atau sesi. Saat ini Kuntulan banyak dimainkan pada acara-acara semacam festival atau diundangan dalam sebuag acara dan tidak terbatas pada acara pengantin saja.
Pada tahun 1976 sempat muncul kesenian Kuntulan Wadon atau kuntulan yang pemainnya adalah wanita. Semua aspek yang ada pada Kuntulan adalah sama baik itu busana, musik, syair namun yang membedakan adalah pemainnya adalah wanita (Jawa: wadon). Namun Kuntulan Wadon ini tidak sempat bertahan lama dan hanya sempat bertahan 1 tahun. Kuntulan Wadon saat itu berada di di Kecamatan Rogojampi yang diinisai oleh Sumitro Hadi.
Pada tahun 1984 muncul Kuntulan garapan baru yang diberi nama Kundaran (Kuntulan Dadaran) di wilayah Kecamatan Rogojampi. Kesenian ini memadukan antara pemain laki-laki dan perempuan