Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Tumpeng Songo - Banyuwangi, Jawa Timur |
Masyarakat Desa Glagah, Kecamatan Glagah, Banyuwangi menggelar ritual adat Tumpeng Gelar Songo, sebagai simbol bersih desa serta tolak balak dari segala mara bahaya. Maksud dari kegiatan ini tidak lain adalah ungkapan rasa syukur warga desa Glagah khususnya atas nikmat Tuhan Yang Maha Esa yang telah menganugerahkan nikmat berupa tanah persawahan yang subur, masyarakat yang sejahtera dan tentunya dijauhkan dari wabah penyakit dan di hindarkan dari musibah yang melanda.
Acara ini dilaksanakan di suatu tempat yang biasa disebut Petahunan, dimana ditempat ini terdapat sebuah petilasan seorang sesepuh yaitu KA’I atau buyut (Mbah Gringsing : sebutan masyarakat desa setempat) yang ada didesa Glagah tersebut, letak nya tepat dibelakang Polsek Glagah. Kegiatan tersebut di gelar setiap setahun sekali tepat pada tanggal 10 Muharram penanggalan jawa.
Acara bersih desa Gelar Songo dinamakan Songo yang berarti merujuk pada angka sembilan. Angka sembilan diwujudkan dalam sesaji berupa tumpeng yang berjumlah sembilan berserta uborampe yang menyertainya. Satu tumpeng besar berada ditengah berisi ayam kampung satu ekor yg sdh matang dipanggang dan tumpeng kecil berjumlah 9 buah mengelilingi tumpeng besar tadi, setelah itu sembilan pisang cangkir (muda), 9 pisang goreng biasa, kiping dan jumputan berjumlah 9, gecok pakis dan jagung, gecok gempol, ikan mentah bagian cengor sapi (mulut), gelang gelangan, kinangan dan picis (uang).
Makna dari tumpeng berjumlah 9 ini adalah untuk mengingatkan kepada manusia tentang anggota tubuh ciptaan Tuhan yaitu mata (kiri kanan, telinga(2 lubang) ,hidung (dua lubang) mulut(1lubang) alat kelamin(1 lubang) dan dubur (1 lubang). Kesembilan lubang dari anggota tubuh manusia sepatutnya digunakan demi kebaikan. Selain itu, sunan yang membawa agama Islam ke tanah Jawa berjumlah 9 yakni Wali Songo.
Sejarah Gelar Songo ini berawal dari kedatangan seorang tokoh dari Madura bernama Buyut Gringsing yang akhirnya di kenal sebagai Buyut Kai ke kawasan Desa Glagah di tahun 1825 silam. Saat itu, di daerah setempat banyak masyarakat terserang berbagai macam penyakit aneh. Lalu, Buyut Kai meminta masyarakat untuk menggelar selamatan nasi tumpeng yang di beri nama Gelar Songo untuk menolak balak agar terhindar dari segala mara bahaya dan penyakit.
Acara Gelar Songo dimeriahkan dengan rangkaian acara pawai, arak arakan kesenian tradisional setempat (barong cilik, kesenian patrol, paju gandrung), menjelang petang ada suguhan tumpeng berjumlah 70 an yang dipersembahkan warga setempat untuk dimakan bersama-sama, ditutup malam hari dengan doa bersama di pandu (dari pengeras suara masjid di lingkungan balaidesa) oleh salah satu kyai dari desa setempat, perlu diketahui bahwa acara Gelar Songo ini, dananya berasal dari swadaya warga Desa Glagah
Masing masing warga di 3 dusun di desa setempat membawa nasi tumpeng yang ditempatkan di nyiru, sebuah tempat berbentuk bulat terbuat dari anyaman bambu. Selanjutnya mereka berkumpul di masing masing titik disetiap dusun, lalu berjalan bersama sama menuju ke tempat acara. Uniknya, tumpeng tersebut di bawanya dengan cara di letakkan di atas kepala yang selanjutnya berjalan bersama sama.