Geridhoan - Banyuwangi, Jawa Timur

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaGeridhoan - Banyuwangi, Jawa Timur
Karya BudayaAdat Istidat Masyarakat
Karya Budaya SubRitus
Kondisi Saat IniSudah Berkurang
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasHasnan Singodimayan
Pencatat Karya BudayaTh. Esti Wuryansari, S.Ant.
NarasumberAbdullah Fauzi
ProvinsiJawa Timur
Kabupaten/KotaKAB. BANYUWANGI
Penginput DataDwi Hastuti, S.Pd.
Masyarakat Osing Banyuwangi dikenal sebagai komunitas masyarakat adat yang memiliki banyak tradisi, termasuk di dalamnya hal membangun rumah tangga. Sebelum sampai ke kursi pelaminan di malam pernikahan, mereka para „jebeng‟ dan „thulik‟ (sebutan untuk anak gadis dan jejaka keturunan masyarakat Osing seringkali masih harus melewati berbagai ritual adat maupun tradisi yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Ritual adat atau tradisi tersebut tidak hanay pada saat menjelang prosesi pernikahan saja tetapi ada pula yang dilakukan jauh-jauh hari sebelum ada kepastian tentang pernikahan yaitu perjodohan atau semacam mencari calon pasangan. Salah satu tradisi yang unik dan menarik dalam hal perjodohan adalah tradisi geridhoan yang berkembang di beberapa Desa di wilayah Kecamatan Kabat dan Rogojampi. Tradisi geridhoan merupakan ajang bagi muda-mudi Osing untuk mencari calon pasangan hidupnya. Tradisi ini pada awalnya muncul disela-sela persiapan yang dilakukan oleh masyarakat dalam rangka perayaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Masya-rakat Desa Tambong dan Desa Macanputih, kecamatan Kabat selalu menggelar perayaan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW secara besar-besaran yang puncaknya ditandai dengan menggelar pawai keliling desa. Dalam acara tersebut berbagai macam atraksi ditampilkan dalam acara pawai tersebut. Atraksi tersebut diantaranya adalah penggambaran sifat-sifat manusia yang divisualisasikan dalam bentuk boneka. Untuk acara tersebut diperlukan persiapan sejak beberapa hari sebelumnya. Masyarakat sibuk mempersiapakan berbagai hal yang diperlukan termasuk memasak makanan dan kue-kue yang akan disuguhkan kepada para tamu. Karena itu banyak keluarga yang sengaja mengundang sanak-saudaranya yang tinggal di desa lain untuk datang membantunya. Pada saat itulah muncul wajah-wajah baru yang merupakan sanak-saudara warga desa yang tinggal di daerah lain. Momen itulah yang kemudian dimanfaatkan sebagai ajang mencari jodoh. Cara pendekatan yang dilakukan pun tergolong unik, pertama pemuda yang mengincar seorang gadis harus tahu dulu dimana si gadis tersebut tinggal. Kemudian pada malam hari ketika si gadis sibuk membantu keluarganya memasak di dapur, sang pemuda datang mengendap-endap untuk mengintip dan menyapa si gadis dari balik dinding dapur yang umumnya masih terbuat dari gedheg bambu. Sambil berusaha menyapa si gadis, si jejaka juga memberi isyarat kepada si gadis tentang perasaan dan maksud kedatangannya dengan cara memasukkan batang lidi melalui sela-sela gedheg. Dan si gadis yang sudah paham dengan isyarat tersebut kemudian akan memberi jawabannya. Jawaban tersebut bisa saja menerima maupun menolak. Bentuk respon yang menerima adalah si gadis akan mematahkan ujung lidi tersebut. Respon ini sekaligus sebagai tanda bahwa si gadis sudah mulai terbuka untuk menerima kehadiran sang jejaka. Dan si jejaka boleh bertamu untuk berkenalan dan menjalin hubungan lebih jauh dengan si gadis dan orang tuanya. Tradisi ini umumnya sampai berakhir dengan lamaran dan pernikahan. Sebaliknya jika si gadis menolak maka lidi tersebut akan tetap utuh tanpa ada patahan. Menurut Budayawan Banyuwangi Hasnan Singodimayan, tradisi mencari jodoh ala muda-mudi Osing hanya terjadi di wilayah Kecamatan Kabat dan Kecamatan Rogojampi. “Geridho itu kan artinya menggoda”. Jadi tradisi tersebut berlaku buat mereka yang masih single, bisa gadis, perjaka, duda maupun janda. Tradisi geridhoan sekarang ini sudah mulai berkurang karena sekarang rumah-rumah penduduk mayoritas terbuat dari tembok permanen dan sudah jarang rumah yang masih menggunakan gedheg.