Semanggi/Pecel Semanggi

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaSemanggi/Pecel Semanggi
Karya BudayaKemahiran Kerajinan Tradisional
Karya Budaya SubMakanan / Minuman Tradisional
Kondisi Saat IniTerancam Punah
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasBelum diisi
Pencatat Karya BudayaDwi Hastuti, S.Pd.
Narasumberjengjeng.matriphe.com/pecel-semanggi-surabaya-makanan-tradisonal-yang-hampir punah.html
ProvinsiJawa Timur
Kabupaten/KotaKOTA SURABAYA
Penginput DataDwi Hastuti, S.Pd.
Sejarah: Di Surabaya Pecel semanggi telah berkembang sejak lama dan hingga kini masih bertahan walaupun tidak sebanyak dahulu. Banyaknya penjual pecel semanggipada waktu dulu karena banyaknya tumbuhan semanggi yang terdapat di pinggiran rawa maupun persawaha n yang terdapat di Surabaya Barat yaitu Benowo. Deskripsi: Kota Surabaya memiliki daya tarik yang beragam untuk tujuan wisata. Di antaranya mencakup daya tarik kuliner dari bebrapa jenis makanan tradisional yang telah puluhan tahun lalu menjadi kegemaran masyarakat. Makanan khas Suroboyo-an yang popular di antaranya semanggi atau pecel semanggi. Di waktu lalu, para penjual semanggi menjajakannya dari kampung ke kampung dan menyusuri ruas-ruas jalan jalan kota. Tradisi kuliner yang berkembang sejak lama itu hingga kini masih tetap bertahan. Selain dijajakan, juga banyak ditemui di berbagai tempat, yakni di pinggiran jalan maupun di rumah makan serta menjadi menu di hotel-hotel berbintang dengan penyajian yang lebih menarik. Cita rasa masakan semanggi menunjukkan kekhasannya, terutama saat mencicipi bahan baku utama berupa daun semanggi dan sambal yang terbuat dari ubi jalar serta cabe rawit. Semanggi tumbuh di pinggiran rawa maupun areal persawahan, dan tanaman jenis paku air itu tumbuh bayak terdapat di pinggiran Surabaya Barat yakni Benowo. Itulah sebabnya, sebagian besar pedagang semanggi sejak dulu berasal dari daerah yang berdekatan dengan sentra tanaman itu meliputi Benowo dan Manukan. Umumnya penjual makanan tersebut dilakukan oleh wanita setengah baya yang menggendong dagangannya keliling kampung, sambil menawarkan dagangannya dengan suara melengking. Selain daun semanggi, racikan bahan lainnnya adalah kecambah/taoge, bunga turi, bayam dan dilengkapi krupuk puli yang berbahan baku beras. Penyajiannya menggunakan pincuk atas alas daun pisang. Harga jualnya berkisar Rp 3.500 รขโ‚ฌโ€œ Rp 5.000 perpincuk