Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Batik “Kinanthi” - Semarang, Jawa Tengah |
Sejarah:
Batik merupakan salah satu karya budaya asli Indonesia. Secara historis batik mulai dikenal sejak masa kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Batik kemudian berkembang di berbagai daerah, baik di pulau Jawa mapun di luar pulau Jawa Untuk menelusuri batik Semarang dapat diketahui dengan keberadaan Kampung Batik di Kawasan Bubakan. Pada akhir abad ke-15 kawasan Bubakan pernah menjadi tempat kediaman Ki Pandan Arang I, yang bertugas sebagai juru nata (pejabat Kerajaan) di bawah kekuasaan Kerajaan Demak. Karena kawasan menjadi tempat tinggal sang juru nata maka tempat tersebut juga terkenal dengan Jurunatan. Suatu hal yang lazim di Jawa adalah bahwa di sekitar pusat-pusat kekuasaan kuno terdapat nama-nama tempat yang sesuai dengan profesi penduduknya. Seperti Kampung Batik yang terdapat di pusat Pemerintahan Kota Semarang Kuno merupakan sentra perajin batik sampai dengan kedatangan Jepang pada tahun 1942 yang kemudian terbakar habis. Selanjutnya pada tahun 1980an muncul perusahaan batik “Sri Retno” yang cukup penting bagi industri batik di kota Semarang. Setelah itu batik Semarang seolah-olah lenyap karena terdesak oleh batik printing.
Baru sekitar tahun 2006 batik di Kota Semarang mulai bangkit kembali. Setelah Pemerintah Kota Semarang melalui Disperindag kota Semarang mencari embrio perajin batik dari generasi muda yang ada di kampung Semarang untuk dibina secara teknis dasar cara pembuatan, gambar pewarnaan, pencelupan warna natural/alam, sampai ke ketrampilan magang ke lokasi industri batik di kota batik terkenal. Pembinaan juga meliputi pemasaran dengan memberikan bantuan stand serta menggelar berbagai even pameran dan lomba rancang busana.
Salah satu perajin batik yang mengikuti pembinaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Semarang tersebut adalah Siti Kholifah yang kemudian biasa dipanggil Ibu Olif. Sebenarnya Ibu Olif bukan pembatik melainkan pedagang batik. Namun setelah mengikuti pembinaan dari Pemerintah Kota Semarang melalui Disperindag Kota Semarang Ibu Olif kemudian menekuni usaha pembuatan batik. Berbagai even pameran dan lomba merancang busana diikuti oleh Ibu Olif. Berkat ketekunan dan keuletan Ibu Olif batik hasil produksi Ibu Olif mendapat sambutan baik dari pecinta batik.
Deskripsi:
Batik Kinanthi Semarang merupakan batik hasil produksi dari Ibu Siti Kholifah. Batik Kinanthi termasuk batik Semarang, Jawa Tengah. Batik Semarang adalah batik yang diproduksi oleh orang atau warga Kota Semarang di Kota Semarang dengan motif atau ikon-ikon Kota Semarang. Secara umum motif batik Semarang tidak beda jauh dengan motif batik di kota-kota pesisir utara pulau Jawa yaitu bebas atau tidak terikat pada aturan-aturan tertentu, ragam hias flora dan fauna, ragam hias besar dan tidak rinci, serta warna cerah menyolok. Tapi jika diamati secara teliti, ada detail perbedaannya. Diantaranya pada warna dasar batik umumnya batik Semarang berwarna dasar oranye kemerahan. Sedangkan motif batik semarang di pengaruhi oleh budaya Cina, yaitu menampilkan motif fauna yang lebih menonjol dari pada flora, contohnya: merak, kupu-kupu, jago, cendrawasih, burung phunix, dan sebagainya.
Pada umumnya motif batik Semarang bersifat naturalistik baik fauna atau flora serta realistik seperti ikan, kupu-kupu, burung, ayam, bunga, pohon, bukit, dan rumah. Orang semarang jarang membatik dengan motif yang bertema simbolis. Motif naturalistik dan realistik menjadi ciri khas batik yang diproduksi oleh masyarakat pesisir utara Jawa. Ciri ini dapat dimaknai sebagai karakter masyarakat pesisir yang lebih terbuka, bebas, dan lebih ekspresionis.
Batik Semarang termasuk hasil karya seni kerajinan yang mempunyai nilai seni yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Seperti apa yang dilakukan oleh seorang pengusaha batik Ibu Siti kholifah yang biasa dipanggil Ibu Olif . Pada awalnya Ibu Olif bukanlah seorang perajin batik, melainkan seorang pedagang batik. Ibu Olif mulai tertarik untuk membuka usaha batik setelah mengikuti pelatihan tehnik serta cara mengkreasikan motif batik yang diadakan oleh pemerintah Kota Semarang melalui Desperindag kota Semarang pada tahun 2006. Kemudian ia mulai mengembangkan usaha batiknya dengan menciptakan motif-motif khas Semarang. Selain itu Ibu Olif juga sering mengikuti berbagai pameran batik dan juga lomba merancang busana batik.
Seperti pembatik lain di kota Semarang,Ibu Olif membatik dengan menggunakan ikon Kota Semarang sebagai ciri batik Semarang. Di samping itu Ibu Olif juga me-repro batik kuno khas daerah setempat dan menambah detail yang dibuat dengan gayanya sendiri. Sehingga tanpa sengaja penambahan detail yang dilakukan oleh Ibu Olif menandakan bahwa batik itu adalah karyanya. Hal ini dapat dilihat pada banyaknya pelanggan yang langsung mengenali batik yang dilihatnya adalah batik Kinanti hasil produksi Ibu Olif. Pada perkembangan terkini batik Semarang sekarang mengangkat motif ikon kota Semarang seperti Tugu Muda, Lawang Sewu, serta Legenda yang ada di kota Semarang misalnya Legenda Jatingaleh, Legenda Lawang Sewu dan masih banyak lagi. Seperti motif batik karya dari Ibu Olif seperti Blekok Kasmaran, Ayam Kepala Patung, Buket Merak, Lakon Wayang, Pantai Maron, Isining Marina dan masih banyak lagi motif-motif lain semuanya merupakan motif khas Semarang.
Sedangkan makna filosofis dari motif batik Semarang, misalnya motif burung merak memiliki makna yang bagus untuk kehidupan yaitu lambang keagungan,keindahan,pelindung keturunannya dari segala bahaya, serta dapat mengusir pengaruh buruk. Motif pohon bambu mempunyai makna permohonan doa. Di samping itu pohon bambu juga sebagai lambang kemudahan dalam kehidupan dan lain sebagainya.
Adapun proses pembuatan batik, yang pertama adalah menggambar motif. Setelah ada inspirasi mengenai suatu motif maka selanjutnya membuat gambar di atas kertas dengan pensil sebelum dipertebal dengan bolpoin yang nantinya akan dialihkan ke atas kain putih. Untuk selanjutnya mencanting, yaitu membubuhkan lilin pada kain untuk menangkal warna. Proses ini merupakan proses terpenting dalam pembuatan batik tulis. Pada proses pencantingan membutuhkan ketrampilan khusus. Untuk selembar kain batik membutuhkan waktu yang lama tergantung motif dan ragam hiasnya. Karena proses yang sangat rumit itulah sehingga membuat nilai batik tulis sangat tinggi. Berbeda dengan batik cap, pada pembutan batik cap untuk membubuhkan lilin sebagai penangkal warna dengan menggunakan panel cap dengan motif tertentu. Proses ini lebih cepat apabila dibandingkan dengan pembuatan batik tulis. Setelah diberi lilin atau malam proses selanjutnya adalah pewarnaan. Bahan pewarna yang digunakan oleh batik Kinanthi adalah bahan pewarna alami. antara lain tegeran, tingi, secang, jambul dan jolare. Proses pewarnaan dapat dilakukan beberapa kali, tergantung berapa warna yang diinginkan. Apabila proses pemberian warna sudah selesai maka malam dilunturkan dengan proses pemanasan. Batik yang sudah jadi kemudian direbus hingga malam yang menempel leleh dan terlepas dari kain. Setelah perebusan selesai, batik direndam pada air dingin dan kemudian dijemur. Selanjutnya kain batik siap untuk dipasarkan.
Pemasaran batik merek Kinanthi selain melalui showroom yang dimiliki Ibu Olif yang terletak di Kanfer Raya Blok T No 15 Banyumanik Semarang dan juga melalui berbagai pameran yang diikuti oleh batik Kinanthi. Di samping itu pembeli juga dapat memesan melalui media elektronik yang dibuka oleh Ibu Olif. Pemasaran bati merek Kinanthi .sudah sampai ke Yogyakarta dan Jakarta. Bahkan ada pula desainer dari Jakarta yang senantiasa memesan batik buatan Ibu Olif untuk baju rancangannya. Sebagian besar pelanggannya mengenal batik produksinya melalui pameran yang sering diikutinya. Dalam menjaga pelanggannya Ibu Olif mempunyai kiat khusus, yaitu selalu ingin memenuhi keinginan pelanggan.