Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Busana Pengantin Kraton Yogyakarta - Kraton, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta |
| Karya Budaya | Kemahiran Kerajinan Tradisional |
| Karya Budaya Sub | Pakaian Tradisional |
| Kondisi Saat Ini | Sedang Berkembang |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Yoga |
| Pencatat Karya Budaya | Dwi Hastuti, S.Pd. |
| Narasumber | Mari Condronegoro |
| Provinsi | DI Yogyakarta |
| Kabupaten/Kota | KOTA YOGYAKARTA |
| Penginput Data | Subiyantoro, S.Sn. |
Busana pengantin merupakan hal yang sangat penting dalam penyelenggaraan upacara pernikahan. Setiap daerah memiliki gaya atau corak busana pengantin yang berbeda-beda, Pada umumnya, busana pengantin merupakan bentuk peniruan busana bangsawan daerah setempat. Dalam perkembangannya busana pengantin khas daerah sering mendapat pengaruh dari luar, berupa tambahan asesoris maupun motif-motifnya.
Pada upacara adat perkawinan Kraton Yogyakarta, calon pengantin menajalani upacara-upacara tertentu yang merupakan dari seluruh upacara perkawinan. Pada saat menjalani bagian-bagian dari upacara tersebut calon pengantin mengenakan busana tertentu sesuai dengan maksud diadakannya bagian upacara tersebut, misalnya upacara nyantri dan pingitan, siraman, midodareni, ijab, panggih, sepasaran dan selapanan,
Upacara adat perkawinan Kraton Yogyakarta diawali dengan upacara sengker dan nyantri. Pada saat disengker atau dipingit calon pengantin melakukan tuguran (berjaga-jaga) (tidak boleh keluar). Pada saat itu calon pengantin putri memakai busana kampuhan yang terdiri dari kampuh, udhet cindhe, dan kain batik sebagai lapisan dalam. Pada masa HB VIII, busana ini lebih sederhana lagi yaitu hanya mengenakan nyamping batik biasa bermotif cakar ayam, atau nagasari, semekan angser dan baju kebaya tanpa lis. Selama dalam pingitan calon pengantin putri mengenakan kain batik bermotif nitik dan semekan yang sewarna dengan warna dhestar calon pengantin pria. Busana tersebut menggambarkan kesederhanaan. Tuguran dilakukan selama 5 hari Calon pengantin pria memakai busana berupa nyamping batik, baju surjan dari sutra kuluk kanigara, peniti, rante dan karset. Jika calon pengantin pria bukan putra dalem maka busana yang dipakai berupa baju sikepan lugas (tanpa ornament), kuluk kanigara, celana cindhe , dan kain kampuh tanpa tengahan.
Pada masa sekarang ketika pernikahan agung putri dalem HB X upacara nyantri dan pingitan lebih disederhanakan dan dipersingkat waktunya. Calon pengantin pria nyantri di dalem Kasatriyan. Pada saat nyantri calon pengantin pria mengenakan pakaian atela (warna putih), mengenakan kain wiron engkol, keris yang dikalungi untaian bunga melati serta mengenakan alas kaki (selop).
Pada upacara siraman, busana yang dipakai oleh calon pengantin wanita berupa semen sidoasih, semekan nitik polos dan kebaya yang serasi dan diselimuti kain motif grompol dan motif lainnya yang baik. Pada acara ngratus yaitu meratusi rambut calon pengantin wanita ditambah dengan rimong.
Saat midodareni, busana yang dipakai oleh calon pengantin wanita berupa nyamping batik truntum wiron, ukel tekuk, dengan tlesepan rasukan bikakan, semekan dringin, memakai kacu sutra dengan hiasan dompyong, dan sengkang cemeng, dan tidak memakai alas kaki. Busana yang dipakai oleh pengantin pria berupa pranakan yang dibuat dari kain lurik tradisional dengan motif garis dan mamakai destar atau tutup kepala. Pada saat midodareni ada upacara tantingan, yaitu untuk memastikan jawaban dari calon pengantin wanita. Busana yang dipakai oleh calon pengantin pria sama dengan busana yang dipakai saat midodareni.
Pada saat upacara ijab atau akad nikah, calon pengantin pria mengenakan busana seperti para pangeran atau bupati, akan tetapi tidak memakai perhiasan rantai, kretep dan sebagainya, Sedangkan calon pengantin putri memakai busana berupa nyamping seredan, ukel tekuk, kebayak, semekan..
Pada upacara dhauping pengantin, busana yang dipaki berupa busana pengantin paes ageng atau corak basahan. Untuk pengantin putri berupa kain cindhe, kampuh. Sisa kampuh akan digulung, dililitkan kebelakang dan diletakkan di bawah slepe membentuk songgo pocong.Sisa songgo pocong, ujungnya yang runcing, menjuntai ke depan disebut dengan belalai.
Setelah selesai dipasang udhet cindhe dan slepe atau cathok, Selanjutnya mengenakan perhiasan sengkang ronyok, gelang kana, sangsangan, kelat bahu dan cincin. Sedangkan busana yang dipakai oleh pengantin pria berupa kuluk berwarna biru bagi pengantin tingkat Pangeran dan putih bila pengantin Bupati. Bagian kepala memakai pethat atau sisir dengan rambut palsu terurai dan cundhuk mentul. Memakai kampuh sidomukti bersulam emas, dengan model kunco dua, di belakang. Memakai celana cindhe, dilengkapi dengan kamus dan moga dari renda, serta lontong. Pada lengan memakai kelat bahu bermotif ular menghadap ke belakang serta mengenakan binggel kana dan cincun. Pada sumping digantungi oncen bunga. Bagi pangeran memakai kalung sungsun dan jam karsat, yaitu jam plus rantainya tergantung sampai melintasi perut. Memkai keris warangka branggah yang digantungi untaian bunga.
Pakaian yang dikenakan pada upacara sepekenan berupa corak kasatriyan. Pengantin putri mengenakan baju panjang dan riasan tapi tidak mengenakan perhiasan. Kainnya berupa kain batik motif sidoasih, sidoluhur, truntum atau lainnya. Sedangkan pakaian yang dikenakan oleh pengantin pria berupa destar dan tanpa hiasan.
Pada upacara Selapanan yang nerupakan upacara terakhir dari seluruh rangkaian upacara pernikahan, tidak ada pakaian khusus yang harus dikenakan oleh pasangan pengantin baru.
Makna simbolis dari busana yang dikenakan oleh pengantin kraton Yogyakarta banyak diwarnai oleh corak batik, seperti sidomukti, sidoluhur, parangkusumo, truntum, semen rama, cakar ayam, babon angrem dan udan riris. Kain batik tersebut memiliki makna yang sama yaitu pengertian mengenai hidup, cinta dan kebahagiaan
Sedangkan perlengkapan busana yang dikenakan oleh pengantin juga mempunyai makna tersendiri, misalnya sengkang ronyok mempunyai makna dan harapan terciptanya sesuatu yang kekal abadi.