Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTradisi Maleman di Masjid Agung Demak - Demak, Jawa Tengah
Tradisi maleman atau selikuran merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Demak secara turun temurun sejak zaman Walisongo. Waktu pelaksanaan tradisi ini pada malam tanggal 21 di bulan Ramadhan bertempat di Masjid Agung Demak. Pelaksanaan tradisi ini berupa ritual khusus yang dilakukan pas pukul 00.30 WIB sampai dengan pukul 02.00 WIB. Adapun prosesi pelaksanaan tradisi maleman dimulai pukul 00.30 WIB. Pada puku 03.00 WIB kyai pembimbing datang, kemudian memberi pengarahan selama 30 menit. Materi yang disampaikan pada acara pengarahan tersebut mengenai keutamaan malam Lailtul qodar. Kemudian Sang Imam memimpin rangkaian ibadah yang dilakukan secara berjamaah. Setelah itu sang imam berdo’a sebagai penutup ritual. Ritual khusus tersebut berlangsung sampai pukul 02.00 WIB. Kemudian setelah ritual khusus selesai waktu sepenuhnya diserahkan kepada para jamah untuk i’tikaf masing-masing. Sebagian jamaah ada yang langsung pulang dan ada pula yang melanjutkan ibadahnya sampai waktu sahur. Tradisi maleman di Masjid Agung Demak tergolong unik karena berbeda dengan tradisi maleman di tempat lain. Kunikan yang terdapat pada tradisi maleman di Masjid Demak ini antara lain : adanya ritual khusus yang dilakukan secara berjamaah yang merupakan istihad baru yang tidak dilaksanan di masjid-masjid lain. Selain itu jumlah jemaah yang mengikuti ritual khusus maleman Demak Masjid Agung Demak melebihi jumlah jemaah sholat Jum’at, sholat Ied dan sholet teraweh, bahkan tempat tyang dipergunakan untuk beribadah sampai mencapai alun-alun. Meskipun demikian tidak semua orang mengikuti maleman di masjid Agung Demak mengikuti ritual khuis yang dilakukan secara berjamaah. Ada yang datangnya setelah acara ritual khusus, yaitu sengaja mengikuti maleman yang beriktikaf dan beribadah secara individu. Keunikan yang lain yaitu antusiasme masyarakat untuk mengikuti ritual khusus maleman tidak hanya masyarakat sekitar masjid Demak akan tetapi masyarakat yang datang dari luar Kabupaten Demak. Mereka biasanya datang secara berombongan, baik tua, muda mapun anak-anak. Biasanya mereka datang sejak menjelang maghrib, sehinggga mereka membawa bekal untuk berbuka puasa dan makan sahur. Mereka baru pulang ke rumah masing-masing pada pagi hari berikutnya setelah sholat subuh secara berjamaah. Untuk memerihkan acara maleman di Masjid Agung Demak di alun-alun diadakan karnaval dengan mengendarai mobil hias, pesta kembang api, dan berjalan mengitari alun-alun. Di samping itu banyak pedagang yang berdatanagan untuk menjajakan dagangannya hingga pagi hari. Adapun yang mereka jajakan berbagai jenis makanan, alat-alat rumah tangga, pakaian dan maianan anak-anak dan lain sebagainya.