Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Mitos Dusun Kasuran - Sleman, DIY |
| Karya Budaya | Tradisi dan Ekspresi Lisan |
| Karya Budaya Sub | Cerita Rakyat |
| Kondisi Saat Ini | Masih Bertahan |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Wartilah |
| Pencatat Karya Budaya | Dwi Hastuti, S.Pd. |
| Narasumber | Wartilah |
| Provinsi | DI Yogyakarta |
| Kabupaten/Kota | KAB. SLEMAN |
| Penginput Data | Dwi Hastuti, S.Pd. |
Dusun Kasuran terletak di Desa Margodadi, Kecamatan Sayegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Dusun tersebut terdapat suatu mitos yang hingga kini masih dipercaya oleh penduduk dusun setempat. Penduduk dusun tersebut sama sekali tidak menggunakan kasur sebagai alas tidurnya. Walaupun kalau dilihat kebanyakan penduduk Dusun Kasuran termasuk banyak orang yang mampu. Namun karena adanya mitos tersebut maka mereka takut menggunakan kasur. Penduduk dusun percaya bahwa apabila ada warga yang melanggar mitos tersebut maka akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, misalanya sakit-sakitan bahkan ada yang sampai meninggal, sehingga masyarakat akan mengaitkan bahwa sakit yang dialaminya tersebut disebabkan karena kasur yang digunakannya. Larangan memakai kasur tersebut hanya berlaku pada jenis kasur yang terbuat dari kapas. Sementara untuk kasur yang terbuat dari busa boleh dipakai untuk alas tidur. Pantangan untuk tidur tanpa menggunakan kasur tersebut sudah berlangsung cukup lama, yaitu sejak ratusan tahun yang lalu.
Menurut cerita dari sesepuh dusun yang sekaligus menjadi Kepala Dukuh di dusun tersebut, bahwa munculnya mitos atau mite yang ada di Dusun Kasuran berawal ketika Sunan Kalijaga yang datang di dusun tersebut, yaitu sekitar 600 tahun yanga lalu ketika Sunan Kalijaga menyebarkan agama Islam. Pada saat itu Sunan Kalijaga singgah di rumah Djanu di Dusun Jaron (sekarang Dusun Kasuran). Pada saat itu Dusun Jaron berada di tengah hutan belantara. Karena mendapatakan tamu yang merupakan tokoh besar, Djanu menyiapkan ruangan yang dilengkapi dengan kasur yang terbuat dari kapas untuk beristirahat. Pada saat itu di DusunJaron terdapat orang bernama Soncondalu yang merupakan tokoh berpengaruh karena ilmunya yang tanpa tanding. Melihat kedatangan Sunan Kalijaga ke Dusun Jaron untuk beristirahat sekaligus menyebarkan agama Islam, Soncondalu merasa terusik. Kemudian Soncondalu mengirim santet ke kasur yang dipakai oleh Sunan Kalijaga. Saat bangun Sunan Kalijaga merasa badannya tidak enak. Kanjeng Sunan tahu siapa yang telah mengirim santet, namun demikian Kanjeng Sunan Kalijaga memaafkan apa yang telah dilakukan oleh Soncondalu.
Melihat kerendahan hati dan kebijaksanaan Sunan Kalijaga, akhirnya Soncondalu berubah sikap, yang tadinya membenci justru mengikuti Sunan kalijaga. Setelah sekitar 1 bulan Sunan Kalijaga berada di Dusun Jaron, kemudian beliau melanjutkan perjalanannya untuk menyebarkan agama Islam. Namun sebelum meninggalkan Dusun Jaron Sunan kalijaga berpesan kepada Djanu bahwa kasur yang telah dipasang santet tidak boleh dipakai sebagai alas tidur oleh siapapun. Sebab santet yang ada di kasur tersebut belum dibersihkan. Djanu diminta untuk menguburkan kasur tersebut.
Namun pesan Sunan Kalijaga tersebut oleh Djanu diubah. Djanu bercerita kepada warga Dusun Jaron agar jangan ada yang tidur beralaskan kasur sebelum ilmunya setara dengan Suanan Kaalijaga. Cerita tersebut terlalu dilebih- lebihkan sehingga menjadi mitos yang dipercaya secara turun temurun oleh warga Jaron Pada tahun 2012 cerita yang salah tersebut kemudian sudah diluruskan.