Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Jodhangan Sadranan Paseban - Bayat, Kab. Klaten, Jawa Tengah |
| Karya Budaya | Adat Istidat Masyarakat |
| Karya Budaya Sub | Upacara Tradisional |
| Kondisi Saat Ini | Sedang Berkembang |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Yoga |
| Pencatat Karya Budaya | Dra. Dwi Ratna Nurhajarini, M.Hum. |
| Narasumber | - |
| Provinsi | Jawa Tengah |
| Kabupaten/Kota | KAB. KLATEN |
| Penginput Data | Subiyantoro, S.Sn. |
Jodangan Sadranan pada dasarnya adalah upacara tradisi yang digelar oleh masyarakat Paseban, Bayat, Klaten. Pada bulan Ruwah, ada banyak daerah yang memiliki tradisi ziarah ke makam leluhur. Seperti tradisi yang telah lama berkembang di Paseban, masyarakat melakukan tradisi ziarah kubur di kompleks makam tokoh besar dalam syiar agama Islam di Jawa yakni Sunan Pandanaran. Tokoh yang memiliki nama besar tersebut sering pula disebut dengan Sunan Bayat. Sunan Pandanaran menerima perintah dari Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam Di tanah Jawa bagian Selatan, dan sampailah di daerah Bayat dan bermukim serta dimakamkan di tempat tersebut. Oleh karena itu di tempat makam Sunan Pandanaran tidak hanya diziarahi oleh para penduduk Bayat, namun juga para peziarah dari daerah lain.
Tradisi sadranan atau nyadran yang dilakukan masyarakat Paseban juga dikenal dengan nama jodangan, hal itu merujuk pada jodhang tempat yang dipakai untuk membawa nasi kenduri yang lazim dibawa oleh para peserta tradisi ini. Prosesi upacara juga dikenal dengan Haul Agung ini khas dengan tradisi kirab jodhangan berisi nasi kenduri menaiki anak tangga menuju pemakaman.
Pada acara Sadranan ini sekaligus juga dilakukan pasang langse atau mengganti kain penutup makam, dengan kain yang baru. Petugas untuk acara pasang langse sudah ditunjuk dan tidak sembarang orang boleh mengganti kain penutup makam tersebut.