Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | WAYANG TOPENG JATIDUWUR- JOMBANG, JAWA TIMUR |
Wayang Topeng Jatiduwur merupakan salah satu dari kekayaan budaya yang dimiliki oleh Kabupaten Jombang. Lokasi topeng Jatiduwur di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Topeng Jatiduwur dibuat pada akhir abad ke-19, oleh oerang yang bernama Mbah Purwo. Sampai saat ini topeng Jatiduwur berjumlah 33 buah dan masih terawat dengan baik di rumah Mbah Sumarni yang diyakini masih merupakan keturunan keenam pewaris Topeng Jatiduwur. Bersama anaknya yang bernama Sulastri Widyanti, Mbah Sumarni masih setia menjaga dan merawat 33 buah topeng Jatiduwur. Pada setiap tanggal 1 Suro, seluruh topeng diruwat dan diupacarai sesuai dengan tradisi yang sebelumnya pernah dilakukan oleh generasi pendahulunya. Kesenian wayang topeng Jatiduwur biasanya ditanggap oleh orang-orang yang punya nadzar. Dalam pertunjukkannya melibatkan beberapa pemain/wayang orang yang bertopeng sesuai dengan kebutuhan lakon dan seorang dalang serta para pengrawit. Lakon yang diangkat dalam pertunjukan wayang topeng Jatiduwur bersumber dari cerita Panji. Wayang topeng Jatiduwur ini merupakan bagian dari budaya Panji yang berkembang di daerah Jawa Timur, salah satunya di Jombang ini.
Tari Topeng Jatiduwur mulai ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Desa Jatiduwur dijadikan sebagai daerah munculnya Tari Topeng Jatiduwur, sebab dulunya Desa Jatiduwur merupakan pemberhentian ribuan kapal besar Kerajaan Majapahit. Sekitar tiga dekade silam, Tari Topeng Jatiduwur masih cukup populer. Pada setiap malam para pemuda keluar rumah dan memainkan wayang topeng ini, hanya dengan iringan musik gamelan dan mengenakan karakter Topeng Jatiduwur, mereka menari-nari sesuai dengan alur ceritanya.
Bagi penduduk setempat yang sebagian besar sebagai petani, pagelaran Tari Topeng Jatiduwur merupakan hiburan. Sehingga karena jauh dari pusat kota Jombang, menari Tari Topeng Jatiduwur adalah hiburan yang menyegarkan.
Dalam pertunjukannya Tari Wayang Topeng Jatiduwur mempunyai seorang Dalang yang menuturkan penceritaan. Seluruh penari pun mengikuti penuturan Dalang dalam gerakan maupun perubahan tempat. Inilah yang menjadi sebuah keistimewaan Tari Wayang Topeng Jatiduwur di luar seluruh estetika yang ada. Kesesuian gerak penari dan penuturan Dalang merupakan suatu kohesi yang menakjubkan.
Tidak ada latihan khusus bagi para penarinya. Cukup dengan memperhatikan gerakan penari lainnya. Masyarakat sudah hafal di luar kepala, termasuk dengan penceritaan didalam Tari Topeng Jatiduwur manakala harus berpindah tempat atau posisi berdiri berjalan begitu saja.
Saat ini Tari topeng Jatiduwur kondisinya bisa dikatakan redup, hidup segan mati tak mau, meskipun begitu, para pelestarinya kadang masih latihan. Situasi dan kondisi jaman saat ini sangat mempengaruhi keberlangsungan Tari Topeng Jatiduwur sebagai hiburan masyarakat, sehingga saat ini pertunjukan dilakukan ketika ada hajatan atau permintaan saja.