Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Pethik Tirta - Purworejo, Jawa Tengah |
Pethik Tirta merupakan upacara selamatan desa atau yang dikenal dengan Merti Desa yang dijadikan tradisi di Desa Jenarlor, Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo. Istilah Pethik Tirta berasal dari kata Pethik yang berarti mengambil dan Tirta yang berarti air. Pethik Tirta berarti upacara mengambil air yang dilakukan di Sumur talang yang dipercaya membawa berkah.
Tradisi ini berkembang didasarkan atas kepercayaan bahwa ketika masa Hindu daerah ini diperintah oleh Bethara Loano. Asal usul ini berkaitan erat dengan keberadaan Bulak Kethip (Angkruk Kethip), yang berupa lahan persawahan yang sangat luas merupakan hasil perjuangan nenek moyang. Suatu ketika Bethara Loano ingin mengalirkan air menuju persawahan kering di daerah Bulak Kethip, dengan cara membuat talang (bambu yang disusun memanjang sambung menyambung). Air dialirkan dari sumber air Tuk Mudal (sekarang Kelurahan Mudal Kecamatan Purworejo).
Ketika aliran air sampai di Desa Jenarlor, tepatnya di Dusun Talang Bagus, talang itu terputus dan mengalirkan air terus menerus, sehingga terbentuk sebuah cengungan hingga akhirnya terbentuklah sumur. Dan tatkala begitu derasnya air mengalir pada saluran lahan persawahan terjadilah semburan dan pusaran air amat besar hingga tempat tersebut diberi nama sawah “Si Mudal” . kemudian Bethara Loano menggunakan tempat sumur itu sebagai tempat sebagai tempat peristirahatan sehabis menggarap sawah. Pada saat membajak sawah beliau menggunakan satu ekor sapi dan satu ekor kerbau dipasangkan namun ketika itu sapi tidak kuat lagi menarik beban hingga Bethara Loano menjadi kesal dan marah berakibat kepala sapi tersebut dipenggal hingga tewas dan tempat tersebut diberi nama sawah “Si Lembu”. Perkembangan berikut berubah nama menjadi sawah “Si Plembon” hingga sekarang. Konon menurut ceritera masyarakat setempat pada tahun 1980-sekian, di sawah tersebut pernah ditemukan fosil/batu menyerupai punuk sapi. Kemudian masih dalam kondisi kesal dan marah sambil membawa pecut/cemethi, Bethara Loano menuju tempat yang biasa untuk istirahat lalu menancapkan pecut/cemethi tersebut ke dalam tanah dan berubahlah pecut/cemethi tadi menjadi pohon rotan hingga sekarang masih hidup subur sepanjang masa. Dan oleh karena kesaktian Bethara Loano, air yang berasal dari Sumur Talang tersebut dipercaya membawa berkah. Kepercayaan ini masih berkembang subur sampai sekarang, sebagimana ditunjukkan dengan kedatangan banyak orang baik pada hari biasa hari tertentu untuk keperluan ngalap berkah.
Menurut tradisi lisan keberadaan Bulak Kethip bermula ketika terjadi perpecahan Keraton Pajajaran sekitar tahun 1350 M. ketika kerajaan Pajajaran pecah, dua orang putera raja Pajajaran yang suka berkelana pergi meninggalkan keraton. Kedua putera tersebut adalah : Kebo Angon-Angon (pendiri Desa Walikoro) dan Singgelo (babad alas antara Bagelen sampai Loano). Singgelo lebih terkenal dengan nama Bethara Loano atau Bebuyut Singgelo. Buyut Singgelo sangat gemar bertani dengan cara membuka hutan dan rawa-rawa yang sangat luas terletak di Desa Jenar, Walikoro, Sruwoh, Wonoboyo, Singkil, Wingko, Pundensari dan Sendang. Keadaan rawa yang terletak di tengah desa-desa tersebut sangatlah luas, hingga dinamakan Bulak Kethip.
Demikianlah asal muasal atau riwayat dari nama suatu tempat yang melandasi keyakinan masyarakat setempat untuk menyelenggaraan kegiatan selamat desa/merti desa yang akhirnya dikenal dengan nama Upacara Pethik Tirta.