Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Tradisi Lisan Santi Swara Laras Madya - Purworejo, Jawa Tengah |
Santiswara berasal dari kata “ Santi” dan “Swara” . Santi artinya puji, swara artinya menyanyi atau nembang. Jadi Santiswara adalah puji-pujian menggunakan tembang. Puji-pujian ini untuk memuji Allah (Tuhan Yang maha Esa), dan Kebesaran Nabi Muhammad SAW.
A. Sejarah Perkembangan
Kesenian Santiswara dan Laras madya termasuk kesenian yang menggunakan ricikan pengiring dan tabuhan, yaitu : kendang, trebang besar, trebang tengahan, trebang banggen, trebang cilik, dan kemanak. Santiswara diciptakan di Surakarta oleh Pangeran Sontokoesoemo cucu dari Paku Buwono V, kemudian dilanjutkan oleh Pangeran Kusumaningrat. Untuk menambah semangat, para empu karawitan Surakarta menambah ricikan pengiring dengan gender dan siter. Ternyata hasilnya nikmat dirasakan.
Santiswara dan Laras Madya berkembang di Jawa Tengah melalui penataran-penataran, termasuk di Kabupaten Purworejo. Hal ini ditanggapi positif oleh sejumlah kalangan seni Tradisi Lisan terutama grup/kelompok macapatan. Termasuk pula grup macapatan Desa Kaliharjo Kecamatan Kaligesing kabupaten Purworejo. Grup Macapatan di Desa Kaliharjo ini bernama Ganda Puspita anggotanya terdiri dari 12 orang putra dan putri. Latihan dilakukan setiap selapan sekali (36 hari menurut perhitungan Jawa), yaitu setiap malam Jum’at Kliwon. Masyarakat sekitar sering menggunakan grup macapatan ini pada saat-saat tertentu, misalnya acara hajatan, wungon bayi, tetakan (Sunatan), matenan (pernikahan), ulang tahun, dan lain sebagainya. Masyarakat lingkungan sekitar juga sangat senang dengan kegiatan kesenian macapatan ini karena isi tembang yang adiluhung, yang berisi nasehat-nasehat yang sangat baik.
Setelah ,mendapat penataran Santiswara, anggota grup macapatan lebih senang dan lebih bersemangat lagi serta lebih bergairah dalam latihan-latihan. Perkembangan selanjutnya grup Macapatan Ganda Puspita berganti nama menjadi “Langen Budaya” dan akhirnya dialihkan menjadi “ Santiswara Laras Madya Langen Budaya” dan terbukti respon masyarakat sangat positif jumlah anggota semula 12 orang sekarang menjadi 25 orang (aktif). Kegiatan latihan semula dilaksanakan selapanan tiap malam Jum’at Kliwon dialihkan juga menjadi tiap hari Jum’at malam Sabtu Pon.