Cabuk Rambak, Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaCabuk Rambak, Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah
Karya BudayaKemahiran Kerajinan Tradisional
Karya Budaya SubMakanan / Minuman Tradisional
Kondisi Saat IniSudah Berkurang
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasYoga
Pencatat Karya BudayaDra. Dwi Ratna Nurhajarini, M.Hum.
NarasumberLastri
ProvinsiJawa Tengah
Kabupaten/KotaKOTA SURAKARTA
Penginput DataSubiyantoro, S.Sn.
Cabuk rambak adalah makanan khas yang sampai sekarang masih dapat ditemukan di Surakarta. Makanan ini bahan utamanya adalah beras putih dan wijen. Menurut penuturan ibu Lis salah seorang penjual Cabuk Rambak di Surakarta menuturkan bahwa makanan ini sudah ada sejak lama. Neneknya dari ibu Lis sudah menceritakan bahwa cabuk rambak sudah ada semenjak si nenek kecil. Makanan ini biasanya dihidangkan dalan ukuran kecil/ sedikit. Saat sekarang satu porsi cabuk rambak dijual rata-rata Rp. 5.000. Bahan-bahan: Beras putih, dibuat menjadi ketupat atau sering juga disebut gendar janur. Bumbu: Wijen, kelapa diparut, daun jerut purut, bawang putih, garam, lada halus, gula, kemiri dan kencur. Wijen dan kepala parut disangrai kemudian dihaluskan, begitu juga bumbu-bumbu lainnya. Setelah semua bumbu ditumbuk, saos itu dimasak dengan ditambah sedikit air. Dimasak dengan api kecil dan terus diaduk hingga kental. Cabuk adalah saos wijen yang dicambuk dengan bumbu-bumbu itu. Cabuk rambak biasa disajikan diatas daun pisang (pincuk) dan sebagai sendoknya memakai sebatang lidi. Ketupat diiris tipis-tipis dan disiram dengan saos atau bumbu wijen (cabuk), dan sebagai pelengkapnya adalah kerupuk dari beras atau sering disebut karak. Dahulu kerupuk yang digunakan adalah dari kulit sapi yang dikenal dengan nama rambak, namun karena harganya mahal, para penjual kemudian menggantinya dengan karak. Pada saat sekarang cabuk rambak pada setiap pagi kira-kira pukul 06.00-07.00 dapat ditemui disekitar Pasar Gede.