Nyadran Makam Kyai Candrabumi

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaNyadran Makam Kyai Candrabumi
Karya BudayaAdat Istidat Masyarakat
Karya Budaya SubPerayaan - Perayaan
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasBelum diisi
Pencatat Karya BudayaErnawati Purwaningsih , S.Si., M.Sc.
NarasumberDinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magelang
ProvinsiJawa Tengah
Kabupaten/KotaKAB. MAGELANG
Penginput Data-
Sejarah: Nyadran makam Kyai Candrabumi sebagai penghormatan terhadap Kyai Candrabumi. Kyai Candrabumi, menurut cerita rakyat yang sudah melegenda di daerah ini adalah seorang prajurit P. Diponegoro. Ketika Belanda melakukan penyerangan terhadap pasukan P. Diponegoro, Kyai Candrabumi lari menyelamatkan diri sampai ke Kecamatan Candimulyo. Kyai Candrabumi mempunyai ilmu kanuragan, ilmu agama dan pertanian. Kyai Candrabumi diusia yang lanjut, bersemedi diantara pohon pakis dan kamboja, seperti terjepit, sehingga disebut Gupitan. Suatu hari Kyai Candrabumi moksha, wafat, tidak ada di tempat semedi. Deskripsi: Nyadran makam Kyai Candrabumi diselenggarakan warga Dusun Gupitan, Desa Podosoko, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang pada bulan Ruwah dengan pasaran Pon. Para Peziarah makam Kyai Candrabumi harus suci lahir batin, membawa sesaji nasi tumpeng komplit dengan lauk pauknya. Cara memasak tidak boleh dicicipi. Bahan pangan untuk masakan sesaji juga harus "bersih" luar dalam (halal). Setelah selesai acara nyadran, sesaji makanan dibawa pulang sebagai berkat, dan dimakan bersama keluarga di rumah masing-masing. Para peziarah pada umumnya datang ke makam untuk mencari berkah. Ada yang memohon kepada Allah SWT melalui almarhum Kyai Candrabumi agar usahanya lancar, naik pangkat, derajat, dll.