Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaBersih Desa Sedekah Bumi
Sejarah: Penghormatan/mengingatkan terhadap cikal bakal di Desa Nglambangan, menurut cerita Nyi Lambang Kuning adalah seorang keturunan kerajaan Mojopahit yang melarikan diri karena dikejar-kejar oleh musuhnya sehingga sampailah beliau di dusun tersebut lalu membabat lingkungan disitu untuk jadi tempat tinggal dengan diberi nama Desa Nglambangan. Dan sampai akhir hayatnya beliau wafat dan dimakamkan di Desa Nglambangan. Selanjutnya makam tersebut dikenal warga sebagai punden. Untuk selalu mengingat akan jerih payah beliau maka masyarakat Desa Nglambangan selalu mengadakan upacara adat tiap-tiap tahun yang jatuh pada hari malam Jumat Legi bulan Muharam. Adapun wujudnya berupa rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas karunia, keselamatan, pangan yang berlimpah di Desa Nglambangan dengan jalan mengadakan sedekah bumi di punden tersebut. Dengan cara mengadakan selamatan bersama semua masyarakat dengan membawa hasil bumi atau tumpengan sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang dipimpin oleh ulama desa dan tokoh upacara, tokoh masyarakat setempat. Dilanjutkan makan bersama-sama untuk mempersatu kerukunan masyarakat desa. Dan pada malam harinya diadakan pagelaran kesenian sekaligus tirakatan dengan menggelar wayang kulit semalam suntuk. Deskripsi: Urutan upacara adat sedekah bumi sebagai berikut: Bapak Kepala Desa di depan dengan memakai adat kerajaan di belakangnya diiringi prajurit-prajurit dari masyarakat/tokoh desa, di belakangnya beriringan masyarakat desa dengan membawa hasil bumi atau makanan yang berupa tumpeng masing-masing orang membawa. Iring-iringan tersebut berjalan dimulai dari rumah Kepala Desa menuju punden makam Nyi Lambang Kuning yang kira-kira perjalanan menempuh 1 Km. Setelah sampai tujuan Bapak Lurah menyerahkan tumpeng besar (gunungan) kepada tokoh adat setempat yang selanjutnya diadakan upacara adat dan didoakan yang dipimpin oleh ulama setempat. Doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar supaya masyarakat diberi limpahan rejeki dan diberi kebahagiaan lahir maupun batin. Setelah makan gambul bersama, Bapak Kepala Desa menyerahkan gunungan wayang kulit kepada dalang untuk ditandainya mulai pertunjukan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.