Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKetoprak Cahyo Mudho
Sejarah: Ketoprak Cahyo Mudho yang terkenal dengan sebutan Ketoprak Bakaran berdiri tahun 1950-an. Awalnya bernama Budi sampurno. Pada tahun 1955 berganti nama menjadi Cahyo Mudho. Ketoprak Cahyo Mudho dikenal sebagai legenda kejayaan ketoprak Pati. Ketua grup adalah Kabul Sutrisno yang telah berusia 65 tahun. Cahyo Mudho merupakan salah satu dari lima grup ketoprak papan atas (terkenal) di Pati selain Siswo Budoyo, Langen Marsudi Rini, Wahyu Budoyo, dan Ronggo Budoyo. Siswo Budoyo memang yang paling laris. namun dari segi stabilitas dan konsistensi, Cahyo Mudho yang unggul karena semenjak berdiri sampai sekarang tetap eksis. eksistensi ketoprak Cahyo Mudho karena adanya hajatan atau haul sedekah bumi atau sedekah laut yang selalu menanggap ketoprak. bahklan ada anggapan jika tidak menaggap ketoprak Bakaran panennya bisa gagal, yaitu di DEsa Mojolampir dan Nduni masuk Kecamatan Jaken, Desa Klumpit, Karangbale, Dukuhmulyo dan Glonggong masuk Kecamatan Jakenan, disamping Desa Bakaran sendiri. Deskripsi: Ketoprak Cahyo Mudho beranggotakan 65 personel. Honor pemain didasarkan atas kelas pemain yang terdiri atas A, B, dan C. Mulai dari 50.000-200.000 rupiah untuk pemain inti sekali pentas. Pemain tua yang sudah pensiun diberi jatah sekali pentas 5000 rupiah. sebagai paguyuban, menyisihkan dana setiap mendapat tanggapan untuk syukuran manganan di makam sesepuh dann untuk sosial (hajatan, membangun rumah, sakit, meninggal) bagi anggotanya. Besaran tanggapan grup-grup ketoprak hampir sama. Ada perbedaan besaran tanggapan menurut jaraknya. Di desa sekitar Pati + 5 juta, di luar Pati bisa + 10 juta. Eksistensi ketoptrak Cahyo Mudho disamping karena adanya haul sedekah bumi dan laut juga harus melihat perkembangan jaman. Ketoprak gaya Pati memang berbeda dari ketoprak gaya Yogyakarta atau lainnya. Menurut pemilik grup, konsepsi ketoprak menurutnya adalah "rame tur akeh lucune". Supaya disukai penonton, disuguhkan pentas yang banyak perang, gandrung, dan banyak lucunya. Demi memenuhi konsep tersebut, apabila adegan perang, gandrung dan lawak mendapat porsi lebih besar dari adegan lain. Adegan pasewakan disajikan seperlunya. Oleh karena itu pelawak ketoprak bisa lebih dikenal, populer dan digandrungi penonton dari pada pemain inti. Pemain lawak Cahyo Mudho yang dikenal dan menjadi ikon adalah Penjol dan Kunthing. Ketoprak telah menjelma sebagai salah satu sarana bagi masyarakat Pati dan seluruhnya untuk mengekpresikan dunianya. Hal ini tercermin dari lakon-lakon yang disuguhkan yang bersumber dari cerita yang sudah dikenalnya. Lakon/cerita tersebut antara lain : Maling Gentiri, Dhalang Sapanyana, Demang Yuyurumpung, Saridin, dan kisah kepahlawanan dari Pati. Dialek secara keseluruhan dalam dialog antara tokoh kental dengan dialek Pati yang lebih pesisiran, kecuali dalam adegan pasewakan menggunakan bahasa Jawa baku. Ketoprak Cahyo Mudho bukan ketoprak tobong, melainkan merupakan ketoprak tanggapan. Setiap tahun Ketoprak Cahyo Mudho + 120 kali manggung. Selama tahun 2001, mendapat tanggapan 161 kali, tahun 2002 sebanyak 159 kali, tahun 2003 sebanyak 138 kali, tahun 2004 sebanyak 139 kali, tahun 2005 sebanyak 122 kali, tahun 2006 sebanyak 140 kali. Masa sekarang ini, banyaknya tanggapan tergantung bagus tidaknya hasil panenan. Apabila hasil panenan bagus, sebulan bisa manggung 25 kali, namun apabila buruk + 17 kali.