Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTradisi Mretelung
Sejarah: Mretelung sudah menjadi tradisi turun-temurun warga setempat. Tujuannya untuk gotong-royong khususnya dalam kaitannya dengan pekerjaan di sawah. Kapan tradisi Mretelung ini muncul tidak diketahui dengan pasti. Yang jelas tradisi ini sudah ada sejak dulu sampai sekarang. Apa yang dilakukan di sawah lewat tradisi Mretelung membuat pekerjaan menjadi ringan dan semua merasakan, karena dilakukan secara bergantian. Sebuah peristiwa panenan yang dilakukan melalui tradisi Mretelung menunjukkan panenan satu petani, satu lahan seakan-akan menjadi milik bersama dan menjadi kebahagian bersama. Di sini (orang desa) kalau satu senang yang lain juga ikut merasakan, satu peristiwa panenan yang lain ikut merasakan. Deskripsi: Peristiwa Mretelung atau tradisi gotong-royong merupakan kegiatan yang berlangsung turun-temurun sejak dahulu. Kegiatan Mretelung di Desa Selaganggeng, Kecamatan Mrebet Purbalingga dilakukan 1-2 hari tergantung luas lahan yang dipanen. Mretelung dilakukan dari mencabut kacang dari tanah, mretheli biji kacang dari akar hingga mengumpulkan hasil panen, semua dilakukan bersama-sama tanpa dibayar. Kegiatan ini dilakukan secara bergiliran di tempat ladang anggota Mretelung. Bila 10 orang anggota, maka secara bergantian mengerjakan bersama-sama. Walaupun mereka secara sukarela tidak dibayar,tetapi mendapat imbalan yang disebut bawon. Bawonnya tergatung dari panennya. Apabila panen padi mendapat bawon gabah, bila panen kacang bawonnya kacang. Bila panen kacang misalnya mendapat bawon ± 1.5 kg kacang. Pada saat Mretelung ini biasanya di ladang tersebut ada orang-orang (tua maupun anak-anak) yang mencari sisa-sisa kacang di dalam tanah yang tidak tercabut yang disebut ngasak . Kegiatan mengasak dapat diperoleh setengah tompo kacang tanah atau ± 1.5 kg.