Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Tradisional Baritan - Samigaluh, Kab. Kulon Progo, DI Yogyakarta
Sejarah: Upacara Tradisional Baritan berasal dari kata “Lebar rit-ritan” yang artinya memotong damen (pohon padi) sesudah selesai panen. Tradisi ini sudah berlangsung sejak nenek moyang, setahun sekali sesudah panen gadhu, yaitu panen padi di musim kemarau. Upacara ini bertujuan memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus sebagai ungkapan syukur atas karunia rejeki dan panen padi yang telah selesai dikerjakan. Upacara Baritan merupakan ungkapan rasa kagum dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena karunia dan limpahan panenan, kecukupan sandang pangan, dan kebahagiaan lahir dan batin. Deskripsi: Upacara dimulai pukul 14.00 wib dengan berkumpul di kediaman kepala Dukuh Karang. Setelah berkumpul lalu berangkat dalam arak-arakan diawali oleh petugas yang membawa sesaji hasil bumi, air bunga setaman dan nasi tumpeng. Dibelakangnya diikuti para penabuh dan pemain jathilan. Selanjutnya diikuti para petani yang megiringi hewan ternak (raja kaya) yang akan digembala tidak jauh dari lokasi upacara. Terakhir para penonton yang menyaksikan jalannya upacara. Iring-iringan menuju Bulak Turi yang berjarak sekitar 1 km. setelah semua sampai di Bulak Turi dan berkumpul, acara diteruskan dengan berbagai sambutan dan mohon keselamatan, siraman air bunga, dan air dlingo bengle ke lahan persawahan sebagai lambang menghilangkan hama dan segala penyakit yang dapat menggangu hasil panen padi. Dilanjutkan menyiramkan air bunga ke raja kaya dilakukan oleh pejabat tinggi yang hadir. Sisa air bunga diserahkan (ngalap berkah) para warga yang hadir untuk disiramkan ke raja kaya masing-masing. Terakhir sambutan Lurah Desa Gerbosari.