Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Bersih Desa Taruban |
Sejarah:
Upacara ini berlatar belakang legenda Jaka Tarub, dilaksanakan oleh warga Dusun Tarub, Desa Tuksono Sentolo setiap bulan Sapar, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang melimpah. Warga Tuksono menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui perantaraan para dhayang leluhur desa yang telah memberikan hasil pertanian yang melimpah dan untuk keselamatan warga dengan menolak kekuatan-kekuatan gaib, roh, makhluk halus gentayangan yang mengganggu desa.
Deskripsi:
Upacara dilakukan dalam dua tahap yaitu: Upacara Mboyong Mbok Sri dan Upacara di Sendang Kamulyan.
Upacara Mboyong Mbok Sri: setelah panenan pertama (methik), slametan methik (wiwit). Diawali pembacaan mantra oleh pemimpin upacara yang kemudian memotong padi yang kemudian dibuat menjadi boneka penganten disebut Parijatha atau Pari Penganten, lalu anak-anak membawa tangkai padi ke empat pojok sawah tempat padi di panen. Nasi kenduri dibagi-bagi kepada peserta, dengan cara diperebutkan. Padi Penganten digendong dan dipayungi lalu dibawa pulang untuk disimpan di lumbung padi.
Upacara di Sendang Kamulyan: warga membawa tumpukan padi dan berkumpul di Sendang Kamulyan. Setelah didoakan padi dibagi-bagikan kepada warga untuk dijadikan benih.
Sesaji:
- The anyep dan kopi pahit
- Rokok srutu dan ciu putih
- Rujak madu buah-buahan
- Nasi gurih dan ingkung
- Gedhang raja setangkeb
- Tumpeng
Sesaji dibuat oleh setiap kepala keluarga ke Sendang Kamulyan untuk diminta berkah Tuhan melalui Eyang Kertayuda. Pada malam harinya pagelaran wayang kulit atau kethoprak dan tayuban yang konon merupakan kesenian kegemaran Eyang Kertayuda. Lakon wayang kulit untuk sehari semalam biasanya membawakan cerita Sri Boyong atau Sri Mulih. Upacara diawali dengan kirab dari rumah sesepuh Dusun Taruban menuju Sendang Kamulyan dan berziarah di Makam Jaka Tarub. Sesudah ziarah diadakan kenduri dan malamnya pentas wayang