Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Manganan Ngerong - Rengel, Tuban Jawa Timur |
Manganan ngerong merupakan upacara adat yang diselenggaarakan di kompleks gua ngerong
yang berada di Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban. Upacara tersebut
dilaksanakan pada hari Minggu Kliwon, bulan Besar menurut perhitungan kalender Jawa.
Pada awal mulanya upacara manganan ngerong dilaksanakan usai masa panen, ketika
masyarakat bersuka ria dan mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas
karuniaNya berupa sumber/sungai bawah tanah sepanjang 2 kilometer yang dimanfaatkan oleh
masyarakat tidak hanya untuk pertanian namun juga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pada zaman dahulu upacara manganan ngerong dilaksanakan oleh masyarakat dari tiga desa
yaitu Desa Rengel, Desa Sawahan dan Desa Sumberejo.
Rangkaian dari kegiatan upacara adat manganan ngerong, warga Rengel mengadakan
pergelaran wayang kulit dengan lakon yang diambil dari kitab Ramayana. Lakon-lakon
tersebut antara lain rama tambak, anggada balik atau anoman duta. Lakon yang melibatkan
tokoh kera sengaja diambil karena di sekitar gua ngerong terdapat banyak kera. Sesaji yang
dipersiapkan dalam upacara manganan ngerong antara lain kelapa, ikan, jajan pasar, tumpeng
dan panggang ayam tanpa bumbu yang disajikan setiap Jumat Pahing.
Pergelaran wayang dilaksanakan dari siang yang kemudian dilanjutkan pada malam harinya
dengan lakon yang diambil berbeda. Masyarakat dalam memilih lakon sangat berhati-hati
karena terdapat pengalaman, salah memilih lakon menjadikan air sungai menjadi merah seperti
darah. Di dalam sunga tersebut terdapat banyak ikan dan bulus, namun tidak ada warga yang
berani mengambilnya karena bagi sebagian orang ikan tersebut dikeramatkan. Selain itu di
dalam gua ngerong juga terdapat kelelawar yang bermukim disana secara bebas tanpa seorang
pun yang berani mengganggunya. Menurut legendanya sumber air di gua ngerong ditemukan
oleh seorang tua yang menolong seorang perempuan hamil yang sedang mencari air. Orang tua
tersebut kemudian menghujamkan tongkatnya ke dalam perut bumi dan kemudian keluarlah
air. Kemudian muncul beberapa ikan yang membuat mata air tersebut menjadi besar dan
menjadi sungai bawah tanah seperti sekarang ini.
Upacara manganan ngerong dilaksanakan satu kali dalam setahun. Upacara ini berupa ritual
memberi makan ikan palung dan bulus yang ada di dalam gua ngerong dengan klentheng (biji
randu). Konon apabila dalam upacara tersebut klentheng itu dimakan oleh bulus, tujuan dan
niat dari yang memberi makan akan terkabul. Dalam upacara tersebut memerlukan
perlengkapan yang terdiri atas judhang sebagai tempat makanan yang terbuat dari kayu dengan
ukuran panjang 125 cm dan lebar 40 cm; rinjing yang terbuat dari anyaman bambu dengan
diameter 40 cm dan ancak terbuat dari anyaman bambu. Sesaji berupa kembang boreh yaitu
pandan yang dirajang dan dicampur dengan lumatan beras dan kunir; klentheng (biji randu);
dan tumpeng kayon yaitu tumpeng yang terdiri atas berbagai macam makanan dan hasil
pertanian. Adapun alat-alat upacara terdiri dari payung, rontek dan obor.
Prosesi dari upacara manganan ngerong, semua peserta upacara berkumpul di balai desa,
kemudian mengadakan arak-arakan menuju gua ngerong yang dipimpin oleh kepala desa dan
dipandu oleh penganut adat. Urut-urutan dalam arak-arakan terdiri atas danyang-danyang,
cucuk lampah, tumpeng kayon dan warga. Arak-arakan diterima oleh pemuka adat dan juga
dibuka oleh pemuka adat sambil mendekat ke batu yang berbentuk arca. Danyang-danyang
menaburkan bunga dan dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh pemuka adat. Pelaku upacara
melaksanakan borehan yaitu mengoleskan kembang boreh pada reca wurung dan larung sesaji
ke mulut gua. Mereka memberi makan ikan palung dan bulus dengan klentheng. Kegiatan ini
dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada kaki dan nini danyang Kembang Jaya.
Pada acara selamatan makanan dibagi-bagikan dan pengambilan tumpeng kayon dilakukan
oleh perangkat desa yang kemudian diikuti oleh semua peserta selamatan dengan cara berebut.