Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaDolanan Anak-anak
Ratusan jenis permainan (dolanan-red) dan nyanyian (tembang-red) tradisional anak-anak asli Kabupaten Brebes diketahui punah. Kondisi itu membuat sejumlah pemerhati, pelestari dan budayawan asal Kota Bawang prihatin. "Selama sebelas bulan saya melakukan penelitian. Hasilnya ada sekitar 118 jenis dolanan dan tembang anak-anak asli Brebes yang punah. Kondisi ini jelas sangat memprihatinkan," tutur Asikin (57), Pemerhati dan Pelestari Budaya Brebes, Minggu (4/4). Pesiunan guru olah raga asli Desa Bandungsari, Kecamatan Banjarharjo itu mengaku, penelitiaanya dilaksanakan secara independen, tanpa sposor siapapun. Peneletian dilakukan dengan mengambil sempel 7 kecamatan. Di antaranya, Kecamatan Banjarharjo, Losari, Kersana, Ketanggungan, Salem, Bantarkawung dan Bumiayu. "Metodenya, saya wawancara dengan narasumber sesepuh dan tokoh masyarakat di wilayah tersebut," katanya. Menurut dia, sejumlah dolanan dan tembang tradisional yang telah punah itu di antaranya, Parengket-rengket Jengkol, Icip-icip Turi, Cingkrak, Boy-boyan dan Nonoet. Dolanan dan tembang tradisional tersebut kini tidak lagi bisa dijumpai di masyarakat. "Kalau untuk menyebut satu per satu saya tidak ingat, karena jumlahnya lebih dari 100 jenis. Namun, semuanya telah saya dokumetasikan," tandas bapak dua anak itu. Dia mengungkapkan, banyak faktor yang menyebabkan dolanan dan tembang anak asli Brebes punah. Namun, paling dominan adalah dampak kemajuan teknologi. Kini banyak bermunculan permainan elektronik seperti komputer, handphone, gamewatch dan playstations. Hal itu yang membuat dolanan dan tembang tradisional tersingkir. "Sampai sekarang saya masih melakukan penelitian ini. Semua data tentang dolanan dan tembang anak-anak saya tulis dengan tangan. Kami berharap keberadaan dolanan dan tembang anak ini bisa dihidupkan kembali," ungkapnya. Budayawan asal Brebes, Atmo Tan Sidik mengutarakan, kondisi itu terjadi karena banyak generasi muda yang tidak faham akan jati dirinya. Hal tersebut membuat mereka gagap terhadap permasalan itu. Sementara, dolanan dan tembang tradisional anak mempunyai nilai moral tinggi. "Kami berharap ada revitalisasi kekhasan budaya daerah, dan dimodifikasi ke dalam suatu yang relevan dengan zaman saat ini sehingga tidak punah," paparnya. Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga Pemkab Brebes, Sri Rubiyatun mengantakan, upaya menghidupkan kembali dolanan dan tembang anak yang punah kini mulai dilaksanakan. Rencananya akan disosialisasikan di sekolah. Dolanan yang mengandung unsur gerak bisa dimasukan dalam pelajaran olah raga. Bagi dolanan yang mengandung unsur seni bisa masuk ke kesenian. Sementara, tembang tradisional yang mengadung pantun masuk ke pelajaran bahasa. "Yang jelas kami akan berupaya menghidupkan kembali. Saat ini kami juga tengah melakukan inventarisasi, termasuk dengan merangkul para budayawan dan pemerhati budaya," terangnya.