Tradisi Hari Raya Ketupat (Kupatan)

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaTradisi Hari Raya Ketupat (Kupatan)
Karya BudayaAdat Istidat Masyarakat
Karya Budaya SubPerayaan - Perayaan
Kondisi Saat IniSedang Berkembang
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasPara Ulama di Durenan
Pencatat Karya BudayaDra. Emiliana Sadilah
NarasumberPara Ulama di Durenan
ProvinsiJawa Timur
Kabupaten/KotaKAB. TRENGGALEK
Penginput Data-
Sejarah singkat: Tradisi Hari Raya Ketupat atau lazim dikenal "Kupatan", awal mulanya berasal dari kebiasaan seorang ulama yang tinggal di Durenan sekitar abad 19 saat itu setelah melaksanakan sholat Ied, mereka saling bersilaturahmi di antara warga Durenan tersebut. Lepas tanggal 1 Syawal mereka ini (warga Durenan) melaksanakan puasa "sunnah" enam hari, yang dimulai dari tanggal 2 - 7 syawal. Usai melaksanakan puasa sunnah tersebut padahari ke 7 mereka mengadakan perayaan ketupat atau lazim disebut dengan "Bada ketupat" atau "kupatan". Pada perayaan hari Ketupat itu seluruh warga Durenan saling kujung mengunjungi layaknya seperti Hari Raya Iedul Fitri. Deskripsi: Perayaan ketupat di Durenan Setelah 1 hari di hari puasa sunnah / 1 syawal selama 6 hari terus di akhiri dengan makan ketupat. Masing-masing rumah membuat katupat / lontong dengan ringkaian sayur nangka muda dimasak kare dimasuki ayam (jadi satu) atau ayam lodo. - Ada bubukan kedelai Bumubu krawu → kelapa diparut di bumubu pedas → di kukus di bungkus daun pisang. Orang datang dari rumah kerumah, untuk silaturahmi, salam-salaman saling minta maaf lalu diwajibkan makan. Selama 1 hari, yang datang tetangga, keluarga, handai tolan, bahkan dari daerah luar seperti : Tulungagung, Ponorogo, Blitar dan Surabaya.