Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Seni Tiban Cemeti Macan Putih |
Sejarah singkat:
Seni Tiban muncul ketika kerajaan Kediri mengalami bencana kekeringan. Saat itu Raja Kertajaya meminta rakyatnya mau melakukan pengorbanan agar segera di bebaskan dari bencana. Kesenian tari Tiban ini sebagai bentuk ritual untuk memohon hujan ketika kemarau panjang melanda wilayah ini. Ritual dalam bentuk pengorbanan yang dilakukan dibawah terik matahari dengan jalan menyiksa diri dengan menggunakan pecut yang terbuat dari sodo aren.Cucuran darah yang keluar dari tubuh rakyat sebagai wujud persembahan, inilah yang kemudian yang dianngap mampu mendatangkan hujan di bumi. Hingga saat ini seni Tiban yang merupakan upacara ritual ini masih di yakini masyarakat Kediri karena mampu menghidarkan dari bencana kekeringan.
Deskripsi:
Seni Tiban ini menampilkan aksi penari yang saling mencambuki tubuh mereka sampai berdarah. Tari Tiban dilakukan secara berpasangan (2 orang) dan hany oleh kaum lelaki saja. Waktu kegiatan Tari Tiban ini dilakukan pada siang hari waktu terik matahari dan terjadi di musim kemarau panjang. Peralatan yang di gunakan adalah perangkat gamelan sebagai iringannya. Sementara untuk penarinya menggunakan pakaian warna menyala (merah) dengan membawa cemeti (pecut) yang terbuat dari sodo aren. Cemeti digunakan untuk saling mencambuki satu dengan yang lain, sehingga kesannya seperti orang yang sedang berkelahi.