Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaMakam Ki Ageng Selo
Sejarah singkat: Wisata Religi ini terletak di desa Selo Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan atau 10 kilometer ke arah timur Kota Purwodadi. Sebagai obyek wisata religi, makam Ki Ageng Selo ini sangat ramai dikunjungi para peziarah terutama pada malam jumat dengan tujuan untuk mencari berkah agar permohonannya dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa . Menurut cerita yang berkembang, Ki Ageng Selo diakui memiliki kesaktian yang dapat menangkap petir kemudian diabadikan dalam bentuk hiasan pintu kerajaan yang disebut dengan pintu “ bledeg” . Ki Ageng Selo merupakan cikal bakal yang menurunkan raja-raja di Pulau Jawa. Deskripsi: Menurut cerita dalam Babad Tanah Jawi, Ki Ageng Selo adalah keturunan Majapahit. Kesukaan Ki Ageng Selo adalah bertapa di hutan, gua dan gunung sambil mengggarap sawah. Dia tidak mementingkan harta dunia. Hasil sawahnya dibagi-bagikan kepada tetangganya yang membutuhkan agar hidup berkecukupan. Bahkan akhirnya Ki Ageng Selo mendirikan perguruan Islam. Muridnya banyak yang datang dari berbagai penjuru daerah . Dalam tapanya itu KiAgeng Selo selalu memohon kepada Tuhan agar dia dapat menurunkan raja-raja besar yang menguasai seluruh Jawa. Ketika Sultan Demak Trenggana masih hidup,pada suatu hari Ki Ageng Sela pergi ke sawah. Hari itu sangat mendung,pertanda hari akan hujan.Tidak lama kemudian hujan lebat turun. Halilintar menyambar-nyambar.Tetapi Ki Ageng Sela tetap enak-enak mencangkul. Baru sebentar dia mencangkul, datanglah bledeg itu menyambar Ki Ageng Sela ,berwujud seorang kakek-kakek. Kakek itu cepat –cepat ditangkapnya dan kena. Kemudian diikat dipohon gandri dan ia meneruskan mencangkul sawahnya. Setelah cukup, ia pulang dan bledheg itu dibawa pulang dan dihaturkan kepada Sultan Demak. Oleh Sultan , bledheg itu ditaruh di dalam Jeruji besi yang kuat dan dipertontonkan di tengah-tengah alun-alun. Banyak orang berdatangan untuk melihatnya. Ketika itu datanglah seorang nenek-nenek dengan membawa air kendi. Air itu diberikan pada bledheg dan diminumnya. Setelah minum terdengarlah suara menggelegar memekakkan telinga . Bersamaan dengan itu lenyaplah kakek dan nenek bledheg tersebut, sedang jeruji besi tempat kakek itu dikurung hancur berantakan.