Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Permainan Khas Tegal |
| Karya Budaya | Tradisi dan Ekspresi Lisan |
| Karya Budaya Sub | Permainan Tradisional |
| Kondisi Saat Ini | Masih Bertahan |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Tegal |
| Pencatat Karya Budaya | Drs. Salamun |
| Narasumber | Dinas Kebudayaan dan Pariwisata  Kabupaten Tegal |
| Provinsi | Jawa Tengah |
| Kabupaten/Kota | KAB. TEGAL |
| Penginput Data | - |
Permainan tradisional sebenarnya adalah sebuah olahraga mini yang diciptakan untuk memberikan kesenangan dan keceriaan. Permainan ini juga diciptakan untuk memperkaya budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Tetapi sekarang permainan ini sukar ditemukan dalam zaman sekarang ini, karena permainan ini sudah tergeser oleh permainan modern. Padahal permainan ini hanya membuat anak lebih malas dan membuat anak kurang sosialisasi dengan sesama, seperti playstation disamping membuat anak malas belajar juga dapat merusak mata anak. Berikut ini merupakan permainan yang dulunya sering di permainkan oleh anak-anak tegal. Seperti: benteng, pembela, cirit, tetklungsu, gim-giman, kudangan, rok tongkrong, dan masih banyak lagi permainan khas Tegal.
Permainan Benteng bukan seperti yang dibayangkan. Permainan ini menuntut kecepatan lari dalam mengejar lawan. Permainan ini terdiri dari 2 kelompok dan tidak ada alat apapun lagi selain 2 batu bata yang ada disekitar kita. Para anggota kelompok harus menginjak batubata itu dan menjaganya dari injakan lawan. Permainan ini berprinsip siapa yang menginjak batubata paling akhir maka ia dapat mengejar lawan. Jika lawan itu terkena sentuhan dari pengejarnya maka ia harus menjadi tawanan pihak lawan dan ia akan berjejer dengan teman sesama tawanan sepanjangnya untuk meminta bantuan teman yang lain yang tidak ditawan. Kelompok yang paling banyak menginjakan kakinya pada batubata lawan maka kelompok itu akan dinyatakan sebagai pemenangnya.
Permainan Gim-giman masih digemari oleh anak-anak khususnya mereka yang ada di desa. Permainan ini hanya memerlukan bola kecil seperti bola tennis dan tumpukan genting pecah. Permainan ini juga terdiri dari 2 kelompok. Pertama-tama kelompok itu mebagi kelompok mana yang jaga dan yang bermain. Kelompok yang bermain akan melempari tumpukan genting agar jatuh. Jika mereka gagal maka kelompok lawan yang bergantian melemparinya dengan bola. Dan jika mereka berhasil maka kelompok jaga akan melempar bola itu pada tubuh kelompok lawan. Kelompok yang bermain, mereka harus menghindar dari lemparan bola lawan dan harus menata kembali tumpukan genting itu. Jika berhasil maka mereka akan bermain lagi dan jika semua anggota kelompok gagal maka mereka akan jaga.
Sama seperti permainan yang lain, permainan Cirit juga tidak lagi pernah dimainkan oleh anak tegal. Lazimnya permainan ini dimainkan pada malam hari yaitu setelah matahari terbenam dan gelap. Ini juga terdiri dari 2 kelompok. Permainan ini seperti petak umpet, tetapi bedanya ini dimainkan dengan 2 kelompok dan jarak umpetnya jauh. Kelompok yang jaga harus mencari lawan yang bersembunyi secara bergerombol dan merekapun harus mencarinya secara bergerombol sambil berteriak “ciritan-ciritan ……..ora cirit aku wisanâ€. Mendengar hal itu kelompok yang sembunyi harus berkata “ciriit……cirit…†kelompok yang jaga akan dapat menemukan lawan dengan bantuan suara lawan itu.
Permainan Tetklungsu rupanya sudah hilang terkikis zaman dan sudah tidak ada lagi yang memainkanya. Permainan ini diperlukan tebakan yang tepat dan para anggota yang dapat melompat jauh. Permainan ini hanya memerlukan 2 kelompok yang berhadapan dan klungsu (biji pohon asam). Mulanya ketua kelompok yang bermain akan menyembunyikan klungsu dalam tangan anggota sambil bernyanyi. Ketua kelompok lain harus menebak pada siapa klungsu itu di sembunyikan. Jika gagal maka anggota yang menyembunyikan klungsu itu akan melompat sejauh mungkin kearah lawan. Jika suatu kelompok sudah sampai pada garis awal lawan maka kelompok itu akan menang.