Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaBenta-benti
Sejarah:         Sebagaimana yang telah disebutkan bahwa kesenian tradisional Benta-Benti merupakan warisan budaya bangsa yang sampai sekarang masih digemari oleh masyarakat Desa Selapura. Benta-benti terbuat dari bambu yang direkayasa sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk manusia terutama badan, kaki dan tanganya. Kepala terbuat dari tempurung kelapa atau irus (alat untuk mengambil kuah) dan dilukis menyeruapai wajah manusia. Agar Benta-Benti terlihat indah, badan, kaki dan tanganya dilapisi dengan pakaian, wajahnya dihiasi dengan anting-anting dan dilehernya tergantung kalung dengan liontinnya. Badan bagian belakang diberi tali untuk pegangan Kemlandang dengan maksud agar Benta-Benti yang digerakkan dan dijalankan oleh peri atau makhluk halus yang memasukinya tidak jatuh ke tanah. Deskripsi: Benta-Benti merupakan warisan budaya bangsa yang sampai sekarang masih digemari oleh masyarakat Desa Selapura. Benta-benti terbuat dari bambu yang direkayasa sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk manusia terutama badan, kaki dan tanganya. Kepala terbuat dari tempurung kelapa atau irus (alat untuk mengambil kuah) dan dilukis menyeruapai wajah manusia. Agar Benta-Benti terlihat indah, badan, kaki dan tanganya dilapisi dengan pakaian, wajahnya dihiasi dengan anting-anting dan dilehernya tergantung kalung dengan liontinnya. Badan bagian belakang diberi tali untuk pegangan Kemlandang dengan maksud agar Benta-Benti yang digerakkan dan dijalankan oleh peri atau makhluk halus yang memaukinya tidak jatuh ke tanah. Kemlandang Benta-Benti adalah seorang wanita dewasa yang pernah berumah tangga, mempunyai tugas membuat dan mendampingi Benta-Benti, dapat membaca mantera serta bertenggung jawab selama pertunjukan berlangsung. Menjadi Kemlandang tidak perlu menyucikan diri dengan keramas, mandi dan ngasrep (makan minum serba tawar) seperti halnya Kemlandang pada pertunjukan Sintren maupun Lais karena Benta-benti terbuat dari benda mati atau bukan manusia. Penyanyi yang mengiringi pertunjukan Benta-Benti terdiri dari remaja putri, orang wanita dewasa dan jarang sekali ditemui penyanyi dari kaum pria. Nyanyian yang dilantunkan secara terus menerus sampai pertunjukan selesai pada umumnya bermuatan doa, saran, kritik, nasehat dan lainnya. Apabila penyanyi kurang serasi dalam melantunkan lagu atau tiba-tiba berhenti, maka Benta-Bentinya akan berhenti pula. Peran penyanyi sangat dominan dalam pertunjukan tersebut walau selama menyanyi mereka tidak mengharapkan imbalan. Penabuh alat musik hampir sama dengan penyanyi mereka terdiri dari remaja putri dan orang wanita dewasa jarang ditemui penabuh dari kaum pria. Jumlahnya tidak banyak disesuaikan dengan alat muusik yang ada selama pertunjukan berlangsung alat musik ditabuh terus menerus untuk mengiringi irama laguyang dilantunkan oleh penyanyi. Pada umumnya para penabuh tidak mengharapkan upah, mereka bekerja atas dasar guyub dan ikhlas. Alat musik tradisional yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan Benta-Benti sangat sederhana sekali, bentuknya dari dahulu sampai sekarang tidak berubah demikian pula bunyi yang dihasilkannya enak didengar dan khas. Alat musik tersebut terdiri 5 (lima) macam antara lain : Bumbung, Buyung, Tampah, Aten, Kain Bekas, Pedupaan, dan Mok Setelah Benta-Benti selesai dibuat oleh Kemlandang kemudian diletakan dibawah pohon yang dianggap angker sekitar pukul 17.30 WIB atau menjelang magrib selanjutnya mantra dibacakan oleh Kemlandang sebagai berikut : “ Kyai sing tunggu penggonan kiye inyong pan gawe Benta-Benti kanggo njaluk udan” Kurang lebih 1 (satu) jam kemudian Kemlandang mengambil Benta-Benti dengan membawa pedupaan diiringi oleg para penyanyi, selanjutnya kemenyan dibakar agar mengeluarkan asap yang baunya sangat wangi dan mantra dibaca sebagai berikut : “Bismillahirrahmaanir rahiim niyat ingsun pan ngobong dupa bade damel Benta-Benti kinten-kinten dados, kados pundi ingkang tunggu panggonan mriki supados kelampahan.” Berikutnya Kemladandang memegangi tali yang berada dibelakang badan Benta-Benti dan para penyanyi dengan serentak melantunkan lagu Benta-Benti secara terus menerus yang syairnya : “Benta-Benti aja lali-lali laki ana gondrong lorong-lorong silorong mba ayu santri nurunane udan tak lenggok-lenggok liyed, tak liyed-liyed kewes. Di cancang sabuke modang di gandeng sabuke jinde kunir pista usma rendeng, aja rendeng-rendeng ingsun nggadengan kemben ira.” Setelah mendengar lagu tersebut Benta-Benti berjalan menuju arena pertunjukan dan menari-nari kesana kemari dengan lincahnya. Selanjutnya lagu Kembang Andul dilantunkan oleh penyanyi yang syairnya “Kembang andul kembang kuwista es es, bocah kidul kaya bendera kita, lindri-lindri kaya mantri gudang kopi la la la sliting gading, kemrumyang kalungmu ilang.” Benta-Benti berkeliling sambil menari-nari melenggok kekanan dan kekiri bagaikan seorang gadis cantik yang menari dengan lemah gemulai sehingga penonton tidak beranjak dari tempatnya. Semakin malam penonton semakin banyak terutama para remaja yang sambil menonton berharap pula ketemu jodoh. Nyanyian tersebut berakhir kemudian Benta-Benti berhenti menari dan Kemlandang segera meminta lagu lainnya yaitu Kembang Mawar yang syairnya sebagai berikut : “Kembang mawar disebar tengahe latar, latar kene ana ulane, mbayar Benta-Benti salilane” Nyanyian ini mengisyaratkan bahwa Benta-Benti akan minta temohan sehingga para penonton mempersiapkan uang recehan untuk memberi temohan. Kemlandang memberitahu kepada penyanyi agar lagu tersebut terus menerus dikumadangkan, kemudian Benta-Benti bergerak maju dan mok yang berada ditangan kanan Kemlandang terdengar bunyi nyaring pertanda para penonton telah memeberikan temohannya berupa uang logam. Setelah lagu kembang mawar selesai dilanjutkan dengan Jeruk-Jeruk Kuning yang bunyinya : “Jeruk-jeruk kuning, jeruke wong randugunting, ana Benta-Betni lagi keliling mangga mbayu ngudari benting” Bersamaan dengan bunyi lagu tersebut Benta-Benti menari-nari sambil berkeliling mendekati para penonton barangkali masih ada yang belum memberi, selain itu untuk menyampaikan terima kasih atas temohannya. Benta-Benti menari dengan lincahnya begitu pula para penyanyinya, mereka tidak merasa lelah karena mengetahui uang yang diperoleh Benta-Benti sangat banyak jumlahnya. Tidak lama kemudian Benta-Benti berhenti mendadak karena lagu yang dibawkan oleh para penyanyi berhenti ditengah jalan. Kemlandang berteriak agar lagu dikumandangkan kembali dan para penyanyi segera melaksanakannya. Benta-Benti menari kembali tetapi tampak letih sehingga tidak lama kemudian berhenti menari. Sambil menaruh mok ditempatkannya, Kemlandang meminta lagu Nini Nini Katisen yang syairnya sebagai berikut: “Nini Nini katisen gerodong nang ngingsor gentong, geletek nang ngingsor getek” lagu ini mengisayaratkan bahwa Benta-Bentinya minta hujan, selanjutnya Kemlandang memerintahkan seseorang untuk mengambil sebuah paso (tempat menampung air terbuat dari tembikar yang bagian atas terbuka dengan diameter + 40 cm dan bagian bawah tertutup dengan diameter + 25 cm). paso tersebut diletakkan ditengah arena pertunjukan kemudian diisi air sampai penuh, berikutnya para penyanyi melantunkan lagu diiringi dengan musik. Atraksi ini sangat ditunggu-tunggu oleh para penonton, mereka penasaran ingin menyaksikan bagaimana caranya Benta-Benti meminta hujan. Benta-Benti segera menari kesana kemari sambil menggoyangkan tubuhnya dan Kemlandang mengikutinya dari belakang. Tak lama kemudian Benta-Benti menuju paso dengan gerakan meloncat kepalanya dimasukkan ke dalam air sampai basah kuyup, kemudian berdiri dan kepalanya digerakkan ke kanan dan ke kiri sehingga air yang berada di kepalanya memercik kemana-mana membasahi para penonton. Sorak dan tepuk tangan para penonton menggema bahkan ada yang berteriak-teriak. Atraksi tersebut dilakukannya berulang-ulang sampai air dalam paco tinggal sebagian. Percikan air tersebut melambangkan air hujan yang turun dari langit menuju bumi setitik demi setitik secara terus menerus. Para penyanyi melantunkan lagu berulang-ulang dan Benta-Benti pun menari kesana kemari. Tak lama kemudian ia berhenti menari, kakinya di hentak-hentakkan ke tanah, badannya digoyangkan ke kanan dan ke kiri untuk menghilangkan air yang masih melekat di badannya.selanjutnya Kemlandang minta lagu lainnya yaitu Pitik Walik yang syairnya sebagai berikut : “Pitik Walik selisik munggah kurungan, ijo royo-royo kaya penganten anyar” Seperti biasanya para penyanyi segera melantunkan lagu tersebut dengan semangat, kemudian Kemlandang memerintahkan seseorang untuk mengambil sebuah kurungan ayam terbuat dari anyaman bambu yang tingginya + 1 meter dan lebarnya + 60 cm. Kurungan ditempatkan di tengah arena pertunjukan demikian pula disediakan sebuah galah yang terbuat dari bambu dengan panjang + 4 meter, lebar + 5 cm. Ujung galah ditempatkan di atas kurungan dan pangkalannya diletakkan di atas tanah. Benta-Benti menari kesana kemari, badannya digoyangkan ke kanan dan ke kiri kemudian berjalan menuju galah. Dengan gerakan melompat, ia naik diatas galah dan berjalan sambil melompat-lompat kecil menuju kurungan bagian atas. Setelah sampai loncatannya semakin kencang sehingga Kemlandang sangat kewalahan. Adegan ini dilakukan berulang-ulang dan para penonton kagum melihatnya karana Benta-Benti dapat berjalan di atas galah yang kecil tetapi tidak jatuh ke tanah. Selain pandai menaiki kurungan, ia pandai pula naik di atas pohon perdu. Setelah merasa lelah para penyanyi berhenti melantunkan dan Benta-Benti berhenti menari kemudian Kemlandang minta sebuah lagu yaitu Albasiah yang syairnya sebagai berikut : “Kembang Albasiah mengetan parane sawah paman bibi aja sringkah, diomongi sing duwe umah.” Mendengar lagu yang apik itu Benta-Benti segera menari-nari dan melenggak-lenggok ke kanan dan ke kiri dengan gerakan yang agak kasar sehingga kalung dan liontingnya jatuh ke tanah. Kejadian yang tidak disangka-sangka ini menimbulkan rasa kaget Kemlandang. Sambil senyum diambilnya kalung tersebut kemudian dipakai kembali. Benta-Benti menari lagi tetaapi tidak lama kemudian berhenti. Hari semakin malam udara yang dingin semakin dingin, rembulan tersenyum sambil berjalan ke arah barat menuju peraduannya. Kemlandang tanggap akan tanda alam, oleh karena itu segera minta lagu Tangis-Tangis Layung. Lagu tersebut menimbulkan suasana haru, baik dikalangan penonton, para penyanyi dan penabuh alat musik maupun Kemlandangnya karena permainan akan segera usai. Kemlandang mangambil pedupaan, asap kemenyan dibuatnya membumbung tinggi selanjutnya kepada para penyanyi diminta mengumandangkan lagu Tangis-Tangis Layung sebagai berikut : “ Tangis-tangis layung tangise wong wedi mati, sapa ira ngelingena, ning ora pangeran ira, gendung eling-eling, tangise wong wedi mati, sapa ira ngelingena, ning ora pangeran ira, babadana rancasana, delanggung suwarga padang, gendung eling eling.” Lagu ini dinyanyikan terus menerus dan merupakan pertanda bahwa pertunjukan akan berakhir. Benta-Benti segera menari, musik dan penyanyi mengiringinya demikian pula Kemlandang dengan sabar mengikuti geraknya dan tanpa diduda Benta-Benti berjalan menuju pohon yang angker diikuti pula oleh para penyanyi. Setelah sampai ditempatnya Benta-Benti menjatuhkan diri, para penyanyi segera memberhentikan nyanyainnya kemudian pulang ke rumahnya masing-masing demikian pula Kemlandangnya. Hari berikutnya pertunjukan Benta-Benti digelar kembali, penontonnya makin banyak sehingga dari jauh Benta-Bentinya tidak kelihatan karena tertutup oleh penonton yang berdesak-desakan. Pertunjukan tersebut dapat digelar sampai hari ke 7 (tujuh), apabila penonton masih menghendaki dapat dilanjutkan sampai hari ke 14 (empat belas). Setelah pertunjukan selesai seluruhnya pada esok hari Kemlandang mengumpulkan para penyanyi dan penabuh alat musik untuk melaksanakan selamatan yaitu ucapan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan perlindungan sehingga pertunjukan Benta-Benti selamat tanpa halangan sesuatu apapun. Adapun bentuk selamatan tersebut berupa tumpeng halus 1 (satu) buah, jajan pasar, ketupat, lepet, sega liwet, arang-arang kembang (roti, gula merah, rengginan dicampur dengan air), kembang melati ponggol pitu, rujak crobo (jeruk, gandul, gedang klutuk, gula merah, cabe, terasi, garam dilembutkan), kayu bakar seikat dan rumput seikat. Selanjutnya memimpin selamatan dengan membaca doa surah Qunut dan Al Fatihah kemudian tumpeng dan lain-lainnya dibagikan kepada yang hadir.