Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Bakpao |
| Karya Budaya | Kemahiran Kerajinan Tradisional |
| Karya Budaya Sub | Makanan / Minuman Tradisional |
| Kondisi Saat Ini | Sedang Berkembang |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan Dan Pariwisata |
| Pencatat Karya Budaya | Drs. Salamun |
| Narasumber | Dinas pemuda Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tegal |
| Provinsi | Jawa Tengah |
| Kabupaten/Kota | KOTA TEGAL |
| Penginput Data | - |
Sejarah:
        Asal-usul bakpau sebenarnya berasal dari Zhuge Liang (181 – 234) salah satu ahli strategis terbaik China, yang juga sebagai perdana mentrei, insinyur, ilmuwan, dan penemu legendaris bakpao. Di zaman tiga negara (sam kok) pernah terjadi pemberontakan besar-besaran di daerah selatan Tiongkok, perdana mentri Tiongkok saat itu, Zhuge Liang meminta izin kepada kaisarnya, Liu Chan untuk menumpas pemberontakan di selatan itu, terkenal dengan sebutan “The Southern Campaign†Suku selatan itu disebut juga “Nanman†atau “orang barbar dari selatanâ€. Raja di daerah selatan yang memberontak itu bernama Meng Huo. Tak lama setelah Liang sampai di daerah selatan itu, Liang sudah mengalahkan Meng Huo 7 kali dan membebaskannya sampai 7 kali juga, dimana saat pembebasan ketujuhnya Meng Huo akhirnya menyerah dan berjanji tidak akan memberontak lagi kepada Shu Guo (saat itu belum ada sebutan Zhong Guo karena Tiongkok masih terpecah menjadi tiga negara: Shu,Wu, Wei). Sewaktu membebaskan Meng Huo, Zhuge Liang selalu ditentang oleh jendral-jendralnya: “Kenapa dia dibebaskan? Bagaimana jika dia memberontak lagi?â€, Liang dengan tenang menjawab: “Aku dengan mudah dapat menangkapnya kembali semudah mengeluarkan tangan dari saku. Kini aku sedang mengalahkan hatinya. Zhuge Liang tahu kalau Meng Huo ditangkap lalu dibunuh, akan ada pengganti Meng Huo lainnya yang akan memimpin pemberontakan ke Shu, karena itu dia pikir lebih baik membuat pemimpin daerah selatan yang berpengaruh ini berpihak kepadanya supaya Meng Huo bisa memimpin daerah selatan untuk setia kepada Shu. Pada peperangan terakhir yang ketujuh kalinya; Zhuge Liang membuat Meng Huo masuk ke lembah yang dikelilingi pegunungan Dilembah itu Liang menaruh kereta pengangkut makanan. Ketika melihat kereta itu, Meng Huo langsung tertarik dan memimpin pasukannya masuk ke lembah itu. Setelah pasukan Meng Huo mendekati kereta pengangkut makanan itu, ternyata kereta itu tidak berisi makanan melainkan bubuk mesiu! Langsung saja pasukan Shu yang sudah menunggu di kaki gunung memanah kereta-kereta yang penuh bubuk mesiu itu dengan panah api. Terjadi ledakan besar-besaran di lembah itu, dan dalam sekejap lembah itu menjadi lautan api yang menewaskan hampir semua pasukan Meng Huo. Kemenangan ini tidak membuat Liang senang, ia hanya agak menyesali: “Jasaku sangat besar kepada negara, namun dosaku juga sangat besar kepada Surga; semoga Surga berkenan mengampuniku karena aku hanya menjalankan kewajiban menjaga keamanan negara.†Setelah kejadian ini, Meng Huo kembali ditangkap pasukan Liang. Ketika Liang menemui Meng Huo, ia langsung melepaskan ikatan tali Meng Huo dan berkata: “Silahkan anda pergi lagi dan mempersiapkan pasukan baru anda untuk bertarung kembaliâ€, mendengar itu Meng Huo terharu dan berkata: “Tujuh kali tertangkap, tujuh kali juga dibebaskan! Kejadian seperti ini seharusnya tidak pernah dan tidak akan terjadi!! Meskipun aku tidak punya adat istiadat, aku masih punya upacara keagamaan yang masih menjunjung etika. Tidak, aku tidak sehina itu! Setelah kejadian ini, suku selatan tidak pernah memberontak lagi kepada Shu Ketika dalam perjalanan akan kembali ke Cheng Du (ibu kota Shu), Zhuge Liang harus melewati sungai besar. Di sungai itu Liang tertahan karena selalu saja ada gelombang besar dan badai ketika pasukan Shu akan menyeberang. Zhuge Liang kemudian meminta pendapat Meng Huo yang ikut mengantar Liang dan Meng Huo berkata: “Sejak zaman nenek moyang kami, orang yang ingin melewati sungai itu harus melemparkan 50 kepala manusia untuk persembahan kepada roh sungai.†Ia yang sebetulnya tidak sampai hati membantai orang tak berdosa, pada saat itu muncul ide dan segera memerintahkan pasukannya mencacah daging sapi dan kambing, setelah dibumbui dan diremas, lalu dimasukkan ke dalam sebagai isi dari adonan tepung yang dibentuk menyerupai kepala manusia serta di-tim, maka disebutlah ia sebagai Man Shou. Setelah dicemplungkan ke dalam sungai, ternyata mereka berhasil menyeberang dengan selamat, sedangkan kue Man Shou tersebut adalah leluhur dari kue Man Tou hari ini (Man pada awalnya ditulis dengan aksara Man / nama suku primitive di selatan; Shou = kepala adalah sinonim dari Tou. Di Indonesia terkenal sebagai kue Bak Pao).
Deskripsi:
        Bakpao merupakan makanan khas Republik Rakyat China (RRC). Makanan ini berasal dari kata bak dan pao, yang dalam bahasa Chinanya berarti bak adalah babi dan pao adalah bungkus. Jadi kesimpulannya bakpao adalah babi yang di bungkus. Selama ini yang banyak diketahui kata ba’ dalam banyak makanan dengan awalan ba’ (bakso, bakmi, bakwan, bakpia, bakpao, bacang) berarti makanan tersebut sebenarnya mengandung babi. Orang sering memberi kode B1 untuk daging babi, dan B2 untuk daging anjing. Hanya saja karena di indonesia mayoritas muslim, maka umumnya mengalami penyesuaian sehingga namanya tetap sama tetapi isi dari bakpau tersebut tidak hanya daging babi saja, melainkan daging ayam, kacang hijau, kacang hitam, strawberry, cokelat, keju dan masih banyak lagi. Asal-usul bakpau sebenarnya berasal dari Zhuge Liang (181 – 234) salah satu ahli strategis terbaik China, yang juga sebagai perdana menteri, insinyur, ilmuwan, dan penemu legendaris bakpao.Bakpao merupakan salah satu makanan kue basah dengan cara dikukus dan terkenal sebagai masakan China. Bentuknya yang bulat menggembung ke atas, warnanya yang putih bersih, dengan isi beraneka ragam didalamnya menjadi ciri khas bakpao. Salah satu bakpao yang terkenal di kota Tegal adalah Bakpao Sumatra Bikinan Hasan yang terletak di Jl. Kol. Sugiono No. 221 Kompleks Ruko Graha Mulia Griya Niaga Blok B-3 No.26 (sebelah barat PJR) Tegal. Dinamakan Bakpao Sumatra karena pemiliknya berasal dari Sumatra-Riau. Bakpao Sumatra ini mempunyai ciri khas yang membuatnya berbeda dari bakpao-bakpao yang lain yaitu kulitnya yang putih bersih tanpa bahan pengawet sangat lembut dan empuk seperti memakan kapas. Isi bakpao yang tersedia ada bermacam rasa diantaranya daging ayam, daging babi cincang, kacang hitam (taosa), kacang hijau,dan coklat. Bakpao Sumatra ini selain dijual sendiri, juga dititipkan melalui toko-toko maupun supermarket dan mall diantaranya Rita Super Mall, Toko Mitra, Toserba Marina, Toko Mira dan Toko Sumber. Hidangan.Pembeli bakpaopun bukan hanya orang dari daerah Tegal saja tetapi dari luar kota Tegal seperti Pemalang, Pekalongan, Semarang, Cirebon , Yogyakarta dll. Mereka yang dari luar kota Tegal hampir selalu menyempatkan diri untum mampir membeli bakpao dalam jumlah yang cukup banyak bila melewati Kota Tegal. Biasanya mereka membeli bakpao untuk dimakan saat perjalanan maupun untuk diberikan kepada Saudara, keluarga atau teman mereka. Jadi Jika Anda berkunjung ke Tegal jangan sampai lupa untuk mencicipi bakpao Sumatra, karena Anda pasti akan merasakan kelezatan yang berbeda dan tak akan terlupakan.