Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Ruwatan Spiritual - Wonosobo, Jawa Tengah |
Sejarah: Bapak Supriyanto pada saat masih muda suka melakukan tirakat dan berguru kebatinan yang dianggap mumpuni dalam hal spiritual, serta sering melakukan ziarah ketempat-tempat yang dianggap keramat. Suatu ketika ia mendapat isyarat wirid (petunjuk gaib) untuk mengadakan ruwatan. Ruatan dilakukan didalam kalangan keluarganya sendiri, kemudian sanak family yang mengikutinya. Pelaksanaan ruwatan sudah dilakukan beberapa tahun, namun tiba-tiba ia kedatangan tamu dari wilayah lain yang katanya mendapat petunjuk untuk datang ke Selowarta yaitu ke rumah Bapak Supriyanto. Sejak sat itu rumah Bapak Supriyanto semakin banyak tamu yang berkunjung dan meminta di ruwat. Bapak Supriyanto kini dikenal sebagai juru kunci kawah Candradimuka dan mendapat sebutan Ki Tunggul Selo.
Deskripsi: Ruwatan merupakan aktivitas dari masyarakat Jawa. Sebagai salah satu unsur budaya yang sudah lama keberadaanya di kalangan masyarakat Jawa, yang bertujuan menghilangkan “Sukerto atau kotoran” yang ada pada diri seseorang. Ruwatan di Selowarto dilaksanakan pada tanggal 5, 7, 9, dan 12 Sura (Bulan Jawa). Ruwatan dilakukan dari rumah ke Tunggul Selo yaitu dari segi persiapan sebelum tanggal tersebut., malam harinya diadakan selamatan dan tirakatan. Baru pada pagi harinya pada tanggal tersebut orang yang di ruwat diajak ke Pegunungan Dieng, yang cukup dingin tepatnya di Kawah Candradimuka. Sesampainya di kawah itu juru kunci membacakan doa/mantra, dan air yang suhunya begitu panas menjadi hangat. Setelah itu satu persatu para peserta dimandikan dengan air Kawah Candradimuka. Setelah dimandikan selesailah acara yang mereka sebut ruwatan spiritual. Ruatan ini bisa diikuti oleh siapa saja baik anak-anak atau yang sudah tua. Fungsi dari ruawatan ini adalah mengembalikan keseimbangan kejiawaan yang di alami seseorang.