Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTerbang Kencer - Pemalang, Jawa Tengah
Terbang terbuat dari kayu yang dibentuk sedemikian rupa (melingkar), kemudian bagian atasnya diberi kulit. Jadi, hampir serupa dengan bedug atau gendang. Bedanya, jika bedug badannya besar dan panjang, kemudian gendang badannya kecil dan sedikit panjang, tetapi terbang badannya sedang (lebih kecil dari bedug tetapi lebih besar dari gendang pada umumnya) dan pendek. Pada bagian terbang ada tiga pasang logam (besi putih) yang oleh masyarakat setempat disebut kecrek atau genjring atau kencer, sehingga jika terbang tersebut dibunyikan, tidak hanya mengeluarkan suara yang berasal dari kulit, tetapi juga suara gembrinjing (gemerincing). Oleh karena itu, terbang tersebut dinamakan sebagai terbang kencer atau terbang genjring. Meskipun ada dua nama untuk terbang ini, namun masyarakat lebih sering menyebutnya sebagai terbang kencer. Sesuai dengan namanya, kesenian terbang kencer hanya memerlukan satu jenis alat musik yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai “terbang”. Alat ini bentuknya bundar menyerupai piring yang bagian alasnya terbuka. Permukaan bagian atasnya bergaris tengah sekitar 40 centimeter. Permukaan ini ditutup dengan kulit kambing. Jadi, bukan kulit kerbau atau kulit sapi karena kulit mereka lebih tebal ketimbang kulit kambing sehingga jika menggunakannya, suara yang dihasilkannya tidak lebih nyaring dari suara yang dihasilkan dati kulit kambing. Pemasangannya menggunakan perekat (lem), kemudian dipaku dengan paku jamur (paku yang salah ujungnya menyerupai bintang). Tampaknya tidak semua orang dapat memasangnya, tetapi ada ahlinya. Oleh karena itu, jika ada kerusakan dan memang harus diganti kulitnya, maka mesti dibawa ke ahlinya yang berada di luar daerah. Bahan pembuatan terbang kencer yang hanya berupa kayu sawo, kulit kambing, paku jamur, dan rotan memang relatif mudah diperoleh. Namun demikian, di Kelurahan Beji tiak ada ahlinya, sehingga mau tidak mau harus memesan atau membeli di daerah Tegal. Demikian juga, jika permukaan terbang yang terbuat dari kulit kambing rusak, maka mau tidak mau juga ke tempat yang sama, sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Sedangkan, bagian bawah terbang bergaris tengah sekitar 35 centimeter. Jadi, semakin ke bawah semakin menyempit. Badan terbang terbuat dari jenis kayu tertentu, yaitu kayu sawo karena jenis kayu ini disamping keras, kuat, dan tidak mudah retak, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah dapat menimbulkan gaung (efek suara) yang bagus. Pada badan terbang yang semakin ke bawah semakin kecil itu ada tiga lubang yang berukuran tinggi 1 centimeter dan panjang 11 centimeter dengan posisi mendatar. Jarak antara lubang yang satu dengan yang lainnya sama. Di setiap lubang ada dua buah logam yang berbentuk bundar pipih menyerupai compac disc (CD) atau digital video disc (DVD) yang terbuat dari nekel (besi putih). Alat ini disebut kecrek atau kencer. Jika terbang ditabuh maka alat ini akan menimbulkan suara gembrinjing (gemerincing). Bunyi inilah yang kemudian membuat terbang tersebut, sebagaimana telah disinggung pada bagian atas, disebut sebagai “terbang grinjing” atau “terbang kencer”. Selain kecrek, terbang juga dilengkapi dengan rotan yang melingkar di dalamnya (di bawah kulit terbang) yang disebut sentek. Garis tengahnya kurang lebih sama dengan garis tengah terbang. Alat ini dimasukkan atau diselipkan pada celah antara kulit dan bagian permukaan bawah terbang. Fungsinya untuk mengencangkan kulit terbang, sehingga suaranya sesuai dengan yang diinginkan (lantang). Jika terbang tidak digunakan (disimpan), alat ini dicopot dan dibiarkan ada di dalam terbang. Agar terbang tidak cepat rusak atau berdebu, maka sebelum disimpan dimasukkan dalams ebuah kantong yang terbuat dari kain. Sebuah terbang kencer beratnya kurang lebih 2 kilogam. Ketika digunakan terbang tersebut diletakkan di atas tangan kiri dengan posisi tangan membentuk sudut 30-400. Jika di dalam ruangan, maka posisi duduknya seperti duduknya sinden (bersimpun). Akan tetapi, jika dalam arak-arakan (dalam lapangan) posisi berdiri karena harus berjalan menyusuri route yang telah ditetapkan. Di masa lalu peralatan terbang kencer hanya sejumlah terbang (4 buah). Kemudian, biar kelihatan lebih semarak lagi ditambah dengan bedug, khususnya ketika arak-arakan. Bedug tersebut diboncengkan sepeda karena ukurannya lebih besar (kurang lebih garis tengahnya 60 centimeter), sehingga jika dibawa dengan tangan relatif berat. Jadi, ada orang yang menuntun sepeda dan ada orang yang berperan sebagai penabuh. Dewasa ini bedug tersebut telah diganti bedug drumband.alasannya adalah disamping praktis membawanya (tidak perlu dengan sepeda), tetapi biar kelihatan lebih canggih (modern). Pemain terbang kencer minimal berjumlah 4 orang. Jumlah ini ada kaitannya dengan peranan dalam kesenian terbang kencer itu sendiri. Dalam konteks ini ada yang berperan sebagai : telon, banggen, kapat, dan pajek. Masing-masing mangkon terbang tersendiri. Oleh karena itu, dalam suatu pelatihan atau pertunjukan yang hanya dilakukan 4 orang pemain disebut sepangkon. Demikian juga terbang-nya yang berjumlah 4 buah itu disebut terbang sepangkon. Disebut demikian karena pada waktu terbang itu tidak dibunyikan (ditabuh dengan telapak tangan), ia ditaruh di atas pangkuan. Group kesenian terbang kencer Kelurahan Beji memiliki 8 buah terbang (rong pangkon). Jika dalam suatu pelatihan atau pagelaran ke-8 terbang tersebut digunakan, maka disebut rong pangkon. Meskipun pemainnya ada 8 orang bukan berarti bahwa ketukan yang dilakukan oleh setiap orang berbeda, tetapi sama seperti sepangkon. Jadi, setiap pemain dilakukan oleh 2 orang (telon, banggen, kapat dan pajeg dilakukan oleh 2 orang pemain). Selain pengetuk terbang, ada 3 orang lagi yang berperan sebagai penjawab (pelantun lagu) dan sekaligus sebagai pengganti jika ada salah seorang pengetuk terbang yang karena satu dan lain hal harus diganti (capai misalnya). Lagu-lagu yang dilantunkan bersumber pada Kitab Barzanji yang berbahasa Arab. Dengan demikian, secara keseluruhan jumlah pemainnya ada 11 orang. Rangkaian dan ketukan antarpemain yang berbeda itu pada gilirannya membuat satuan bunyi yang khas. Bunyi ini tidak akan terwujud jika ada ketukan yang tidak pas (keliru). Untuk itu, setiap pemain harus betul-betul menguasainya. Kostum yang dikenakan di masa lalu mereka berkemeja putih, bersarung palekat, berjas dan berkopiah (pecis). Kemudian, pernah juga mereka berkemeja, bersarung byur dan berkopiah (pecis). Sekarang mereka berbaju muslim (tanpa leher), bersarung byur dan tetap berkopiah. Alasannya adalah lebih leluasa dan praktis. Dengan berkemeja agak lebih leluasa, tetapi lebih leluasa memakai baju muslim karena baju ini cukup longgar. Makanya, kami memutuskan untuk memakai baju muslim lebih praktis. Kesenian tradisional masyarakat Pemalang yang disebut terbang kencer tidak membutuhkan tempat atau ruangan yang luas serta panggung. Ia bisa dilakukan di lantai ruang tamu yang dialasi dengan tikar. Malahan, ketika arak-arakan dalam rangka hajatan seseorang atau kegiatan yang berkiatan dengan hari-hari besar keagamaan (Islam) atau hari-hari besar nasional 17 Agustusan, cukup memainkannya dengan berjalan. Lagu-lagu yang dilantunkan dalam pagelaran terbang kencer bersumber pada Kitab Barzanji. Ada 7 pasal yang dilantunkan, yaitu : (1) Ashola tuala nabi, (2) Salatun, (3) Subhanama, (4) Sayidi, (5) Shola alaika, (6) Budad, dan (7) Sakratul ya nabi. Ke-7 pasal itu dilantunkan oleh 3 orang secara bersama-sama dan bersamaan dengan pengetukan terbang. Di kalangan mereka para pelantun itu disebut sebagai penjawab. Adakalanya pengetuk terbang juga ikut melantunkannya, terutama bagi yang sudah ahli (biasanya ketuanya). Selain ke-7 pasal tersebut ada pasal-pasal lain yang tidak dilantunkan, tetapi cukup hanya dibaca. Pada saat-saat seperti itu terbang diketuk tidak diketuk, sehingga yang terdengar hanya suara si pembaca. Pembacaan tidak dilakukan secara bersama-sama, tetapi salah seorang yang ditugasi oleh ketuanya (biasanya orang fasih pengucapannya dan suaranya bagus).