Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaBatik Pemalang
Seni batik tulis dari Pemalang kalah tenar dengan Pekalongan karena kualitasnya berbeda. Jika diteliti dengan seksama, menunjukkan hasil yang kurang rapi. Misalnya gambar bunga satu dengan yang lain dalam satu kain ukurannya tidak sama. Demikian pula warnanya. Sementara itu motif, warna, dan kualitas pekerjaan kain batik tulis dari Pekalongan dikerjakan dengan teliti. Akan tetapi, kelemahan hasil seni batik tulis dari Pemalang tidak terlalu kentara. Kalau bukan ahlinya, pasti tidak akan melihat perbedaan tersebut. Para perajin batik tulis di Pemalang tersebar di beerapa desa di Kecamatan Petarukan dan Comal. Kondisi mereka tidak menentu tergantung pada situasi. Kadang membuat batik kadang tidak. Jika ada stok produksi dan butuh uang, kain batik bisa dijual tidak sesuai dengan standar. Guna menggairahkan kegiatan mereka, Diperindag sedang menjajaki untuk mengubah batik tulis menjadi cap. Dilijhat dari pembuatannya, batik cap lebih gampang dan lebih rapi. Sementara itu, motifnya masih khas Pemalang, yaitu Parag Curiga, Kepedak, Gemek Setekem, dan Sawat Rante. Dari empat motif itu, yangs ering dipesan orang adalah Parang curiga. Disperindag pernah memesan 50 potong untuk dipakai dalam perayaan HUT Pemalang pada Januari beberapa waktu lalu. Penyebab makin surutnya kegiatan seni batik tulis itu karena biaya produksi dan tenaga tidak sebanding dengan harga jual. Untuk setiap potong batik tulis minimal menghabiskan biaya Rp. 100.000 degan waktu pembuatan sekitar dua minggu. Sementara itu, harganya Rp. 150.000-200.000. Bahkan, terkadang dijual di bawah biaya produksi karena butuh uang. Faktor lainnya, kecintaan masyarakat terhadap kain batik sudah semakin lentur. Mereka hanya mengenakannya pada acara-acara tertentu.