Upacara Pemandian Pusaka - Brati, Kab. Grobogan, Jawa Tengah

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaUpacara Pemandian Pusaka - Brati, Kab. Grobogan, Jawa Tengah
Karya BudayaAdat Istidat Masyarakat
Karya Budaya SubRitus
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasDrs. Moh Legowo (Kabid Pariwisata)
Pencatat Karya BudayaEndah Susilantini
NarasumberInternet, Buku
ProvinsiJawa Tengah
Kabupaten/KotaKAB. GROBOGAN
Penginput Data-
Sejarah : Konon kabarnya , Nyai Dewi Nawang Wulan adalah tiga bersaudara. Ketiganya berasal dari lemah bong daerah Demak Bintoro. Akibat kemarahan dari seorang Wali di sana, pusaka itu dibuang jauh-jauh sehingga beterbangan dan jatuhlah mereka di daerah surakarta/Solo, Tuban/Bonang dan Nyai Dewi Nawang Wulan sendiri jatuh di daerah Karangsari, Kecamatan Grati, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Pada suatu hari yaitu pada zaman Ki Ageng, beberapa anak gembala kerbau menemukan bendhe tersebut di sebidang tanah sawah disebelah selatan Dusun Karangsari. Sawah tersebut sekarang terkenal dengan nama sawah Mbendhe. Maksut hati bendhe itu akan diambil oleh mereka dan dibawa pulang akan tetapi yang terjadi adalah tak ada seorangpun yang dapat mengangkatnya. Akhirnya berita tentang bendhe tersebut tersebar ke seluruh daerah disekitarnya. Dan setiap orang yang datang ingin mengangkat tetap tidak ada yang bisa mengangkatnya.Tiba-tiba datanglah seorang anak gembala yang berbadan lemah dan cacat, banyak luka didalamnya (gudiken) dan dialah yang dapat mengangkat bendhe tersebut kemudian di bawa pulang ke sabatuwo, karena dia adalah abdi dari Ki Ageng Sabatuwo. Sebagai layaknya barang biasa, bendhe tersebut diletakkan disembarang tempat dan beberapa bulan tidak terawat..Sehingga si tuan rumah sering bermimpi dikejar-kejar seorang petani , ia meminta makan dan mandi dengan air dari sendang soka pasiraman. Akhirnya Ki Ageng Sabatuwo berpendapat bahwa yang menyebabkan mimpi tersebut adalah bendhe yang ada di dirumahnya tersebut. Oleh sang abdi bendhe itu digendong ke hutandan diletakkan di bawah pohon plasa disebelah barat dusun pasiraman. Kejadian tersebut kemudian terdengar oleh orang sabatuwo dan akhirnya abdi KI AgengSabatuwo bercerita tentang bendhe yang dibuang tersebut. Hal ini kemudian dilaporkan kepada bapak kepala desa Pasiraman. Oleh beliau diperintahkan agar bendhe tersebut diambil dan dipelihara dan kepadanya diberi biaya pemeliharaan berupa tanah sawah seluas 1 bahu. Hal ini masih berlaku sampai sekarang. Maka mulai saat itu Nyai bendhe dirawat oleh seorang pasirawan bernama Proyoguna bersama orang sabatuwo bernama Sodiryo dan sawahnya dibagi dua. Deskripsi : Di dukuh Pasiraman, Desa Katekan, Kecamatan Brati, Kabupaten Grobogan, Yang berada kurang lebih 15km disebelah utara Kota Purwodadi setiap tahun ada upacara tradisional memandikan sebuah pusaka yang disebut Nyai bendhe. Disebut Nyai Bendhe karena berwujud sebuah bendhe dan bentuknya serupa dengan bonang/kronong/kethuk. Adapun besarnya sama dengan ketuk berdiameter 20cm. Tetapi menurut penyelidikan, nama sebenarnya adalah Nyai Dewi Nawang Wulang. Nama pusaka ini memakai sebutan Nyai Dewi, berarti pusaka tersebut perempuan, namun belum dapat dipastikan juga karena terkadang pusaka itu menjelma sebagai seorang perempuan, tapi kadang kala juga menjelma menjadi seorang laki-laki. Tentang kepastiannya tidak perlu kita permasalahkan karena namanya memang demikian. Nyai bendhe Nawang Wulan. Pusaka Nyai bendhe Dewi Nawang Wulan setiap tahun sekali pada bulan sapar hari jumat pah