Wayang Krucil

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaWayang Krucil
Karya BudayaSeni Pertunjukan
Karya Budaya SubSeni Teater
Kondisi Saat IniTerancam Punah
Status BudayaPenetapan
Pelaku KomunitasDinas Kebudayaan Dan Pariwisata Daerah Nganjuk
Pencatat Karya BudayaTheresiana Ani Larasati, S.Psi., M.Psi.
NarasumberWawancara dan http://putra-wilis.blogspot.com/2007/09/wayang-krucil-nganjuk-asing-di-daerah.html, diunduh Selasa 20 Juli 2010 pukul 15.00 wib.
ProvinsiJawa Timur
Kabupaten/KotaKAB. NGANJUK
Penginput Data-
Wayang Krucil yang ada di desa Garu ini bisa jadi merupakan satu-satunya di Nganjuk atau Jawa Timur yang masih bertahan, sedangkan di desa lainnya sudah punah dan tak memiliki pewaris lagi. Wayang Krucil satu-satunya yang tertinggal di Nganjuk ini dikenal sebagai Wayang Krucil Garu, karena tinggal dan berkembang di Desa Garu. Wayang Krucil dibuat dari kayu Mentaos berbentuk pipih. Mula-mula kayu dipotong dan dibuat papan agak tebal. Setelah itu, papan kayu diberi gambar, diukir dan diberi cat sesuai tokoh wayang yang akan dibuat. Kayu Mentaos dipilih karena memiliki serat halus sehingga saat dibuat wayang hasilnya bagus. Namun, kayu tersebut sekarang semakin sulit diperoleh. Meskipun bentuknya pipih, Wayang Krucil berbeda dengan Wayang Kulit. Pada Wayang Krucil, memiliki ketebalan 2-3 cm, sedangkan Wayang Kulit sekitar 3 mm. Boleh dikatakan, bentuk Wayang Krucil mengarah tiga demensi sehingga karakter tokoh-tokoh pada Wayang Krucil terkesan lebih bernyawa dibandingkan Wayang Kulit. Perbedaan lainnya, pada Wayang Kulit (purwa), satu wayang mewakili satu tokoh atau satu karakter dan memiliki satu nama, sedangkan pada Wayang Krucil Sri Guwak ini satu wayang bisa berganti-ganti memerankan beberapa tokoh dan karakter. Seperti misalnya tokoh Baladewa dapat digunakan ketika sang dalang mengambil sumber cerita Mahabarata. Namun, ketika mengangkat cerita Menak, tokoh ini digunakan sebagai figur Prabu Rusmantono, Raja Sindukaas, sedangkan Bima (Bratasena) menjadi tokoh Raja Lamdaur Alam dari Kerajaan Srandil. Wayang Krucil Garu Nganjuk juga berbeda dengan Wayang Golek atau Wayang Tengul. Wayang Golek berbentuk boneka, sedang Wayang Krucil pipih. Untuk mementaskan kesenian itu, diringi perangkat gamelan Mardi Laras dengan 20-an pemusik (penabuh) dan 5 pesinden (penyanyi). Cerita Wayang Garu Nganjuk mengambil beberapa sumber, diantaranya cerita yang berkaitan dengan Kerajaan Kediri, seperti kisah Panji Semirang Asmara Bangun, Candra Kirana, Panji Asmaratanka, Candra Kirana Mbarang Jantur. Mengambil juga dari sumber cerita rakyat tentang pemberontakan kepada Belanda, seperti kisah perlawanan Untung Surapati, Diponegoro, Trunojoyo, atau cerita-cerita seputar Walisongo dan pendirian Kerajaan Islam Demak. Di samping itu, ada pula cerita dari Serat Menak yang diadaptasi dari Persia. Cerita ini berkaitan dengan prkembangan agama Islam, seperti pada cerita Umarmaya, Umarmadi, Amir Hamzah, namun nama-nama tokohnya sudah diadaptasi. Bahkan, dalang juga bisa mengambil sumber cerita dari Mahabarata. Selain itu, dalang juga membuat cerita sendiri atau dikenal sebagai lakon carangan. Kondisi Wayang Krucil Garu Nganjuk kini dalam keadaan yang menyedihkan. Tak banyak yang peduli, kecuali segelintir seniman. Bahkan, pemerintah daerah setempat pun tak banyak berbuat. Menurut penuturan Ki Sudiono, setiap tahun rata-rata hanya bisa tampil 4 kali, biasanya untuk memeriahkan kegiatan bersih desa. Di Desa Garu sendiri, acara seperti ini rutin dilakukan setiap tahun sekali. Meskipun demikian, Ki Sudiono bertekad untuk tetap melestarikan kesenian ini. Selama ini, dirinya lebih banyak meluangkan waktunya untuk membuat wayang. Dalam waktu satu minggu, Ki Sudiono bisa menyelesaikan satu wayang. Ia hanya membuat wayang apabila ada pesanan. Untuk pasar lokal, satu wayang dijual sekitar Rp700 ribu, sedangkan pemesan luar negeri dipatok harga diatas satu juta rupiah. Hal yang membanggakan bagi Ki Sudiono bahwa Wayang Krucil Nganjuk sudah dikenal sampai di Jerman.