Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Tari Topeng Sandur Manduro - Kabuh, Jombang Jawa Timur |
| Karya Budaya | Seni Pertunjukan |
| Karya Budaya Sub | Seni Tari |
| Kondisi Saat Ini | Terancam Punah |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan Dan Pariwisata |
| Pencatat Karya Budaya | Theresiana Ani Larasati, S.Psi., M.Psi. |
| Narasumber | Wawancara dengan Bapak Nasrul Ilah, Kasi Pengembangan & Pelestarian Kebudayaan dan Artikel di Harian Kompas, Senin 5 Januari 2009, |
| Provinsi | Jawa Timur |
| Kabupaten/Kota | KAB. JOMBANG |
| Penginput Data | - |
Kesenian Sandur berbentuk teater rakyat. Pementasan topeng sandur biasanya diawali dengan pemberian sesaji, seperti telur ayam kampung mentah, kemenyan, gula merah, dan sejumlah jajan pasar. Sesaji tersebut dilengkapi pembacaan rapal khusus dalam Bahasa Madura.
Pementasan dibuka dengan laga seorang penari yang mengenakan topeng utama bernama Kelana Wijaya, diiringi rancak musik dari dua kendang, satu terompet, dan satu gong bambu yang ditiup. Selanjutnya pada urutan kedua, penari dengan topeng bernama tokoh Gunungsari yang dilanjutkan dengan sogolan, yaitu berupa percakapan tiga buruh tani seputar masalah pertanian. Biasanya adegan tersebut berdurasi sekitar satu jam.
Adegan selanjutnya berturut-turut adalah tarian bapang, tarian panji yang menggunakan topeng berbeda, tarian tandak yang membutuhkan topeng perempuan dengan gerakan gemulai, tarian jalang dan tari jaranan dengan bentuk topeng menyerupai kepala kuda. Pada tahap terakhir merupakan pementasan sejumlah tuan tanah dan para pemilik modal yang tengah berburu.