Kebo Kinul

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaKebo Kinul
Karya BudayaAdat Istidat Masyarakat
Karya Budaya SubRitus
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPenetapan
Pelaku KomunitasPanitia Bersih Desa Genengsari
Pencatat Karya BudayaDrs. Ign. Wahjudi Pantja Sunjata
NarasumberWawancara dengan Y. Sri Raharjo, S.Sn. di Sukoharjo, Jawa Tengah
ProvinsiJawa Tengah
Kabupaten/KotaKAB. SUKOHARJO
Penginput Data-
Sejarah: Kebo Kinul merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang erat kaitannya dengan kegiatan seni dan ritual, yang tergolong dalam teater rakyat, didalamnya terdapat alur cerita, dialog, tari, dan karawitan. Isi cerita diambil dari legenda Desa Genengsari Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo. Kebo Kinul adalah penjaga tanaman berbentuk orang-orangan dari jerami yang diyakini oleh masyarakat sekitarnya sebagai simbol kesuburan. Sebagai ungkapan rasa syukur karena telah terhindar dari pagebluk, warga desa mengadakan syukuran dengan sajian tari-tarian untuk menghibur warga masyarakat, sementara warga masyarakat juga ikut ambil bagian dalam tarian tersebut. Deskripsi: Pertunjukan Kebo Kinul mengisahkan tentang masyarakat Desa Genengsari Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo yang mengalami pagebluk (wabah penyakit yang menyerang manusia maupun tanaman), warga gagal memanen hasil pertanian karena rusak yang tidak diketahui apa penyebabnya. Setelah diteliti ternyata yang merusak adalah kebo kinul sendiri yang dipercaya sabagai penjaga tanaman yang dibantu oleh hama tanaman seperti: tikus, celeng, menthek, dll. karena merasa tidak dihargai keberadaanya, para petani melalaikan kewajibannya untuk mengadakan sesaji/selamatan ketika memanen hasil pertaniannya. Warga desa tidak ada yang mampu menjinakkan kebo kinul yang sedang mengamuk tersebut, akhirnya minta pertolongan seorang Kyai bernama Kyai Pethuk. Kyai Pethuk meminta kepada Kebo Kinul untuk tidak merusak semua tanaman, namun kebo kinul terus membabi buta merusak tanaman warga, akhirnya peperangan sengit tidak terelakkan lagi. Kyai Pethuk berdoa memohon petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa agar bisa menghentikan pagebluk yang sedang terjadi, dengan sarana sebuah keris pusaka akhirnya kebo kinul tunduk menyerah, namun kebo kinul mempunyai permintaan agar para warga memberikan sesaji mengadakan selamatan pada waktu memanen hasil pertaniannya. Setelah warga desa menyanggupi permintaan tersebut lenyaplah pagebluk yang melanda desa Genengsari, Kebo Kinul akhirnya menjadi sahabat petani dalam hal menjaga dan mengolah tanaman agar terhindar dari hama, dan hasil panenan dapat melimpah. Sebagai ungkapan rasa syukur karena telah terhindar dari pagebluk, warga desa mengadakan syukuran dengan sajian tari-tarian untuk menghibur warga masyarakat, sementara warga masyarakat juga ikut ambil bagian dalam tarian tersebut.