Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaHODO - Asembagus, Kab. Situbondo, Jawa Timur
Hodo merupakan upacara adat untuk meminta hujan yang diselenggarakan oleh warga Dukuh Pariopo, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur. Tradisi ini dilaksanakan berdasarkan tradisi lisan yang masih hidup di kalangan warga Desa Bantal yaitu tradisi yang terkait dengan kisah perjalanan Raaden Damarwulan seorang tokoh dari Kerajaan Majapahit. Diceritakan bahwa Raden Damarwulan pada waktu itu diutus untuk memerangi Kadipaten Blambangan. Setelah berhasil menaklukan Blambangan, Raden Damarwulan dan prajuritnya kembali ke Majapahit. Pada saat tiba di tempat yang kering dan tandu yang diapit oleh dua bukit, mereka kehausan dan kelaparan. Mereka kemudian membuat batu tomang (tungku) sebagai tempat untuk memasak. Namun karena kesulitan air, Raden Damarwulan lalu bersemedi di sebuah gua yang terletak di sebelah utara batu tomang. Dalam semedinya Raden Damarwulan mendapat petunjuk agar memotong hewan kurban berupa kambing yang berwarna hitam di kaki Gunung Masali dan membuat sesaji yang diletakan di sekitar batu tomang sebagai sarana memohon hujan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Petunjuk tersebut kemudian dijalankan dan tak lama kemudin hujan turun menyelamatkan warga dari bencana kekeringaan. Rangkaian upacara Hodo terdiri dari: 1) bersemadi dengan cara melekan (tidak tidur) selama satu malam di dalam gua untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar hal-hal yang akan dikerjakan keesokan harinya mendapat izin dan ridhoNya; 2) menyucikan diri, semua peserta upacara Hodo melakukan mandi, keramas, dan bersuci di sungai Masali untuk membersihkan diri lahir dan batin; 3) memotong hewan kurban dengan menyembelih kambing sebagai binatang kurban untuk perlengkapan sesaji; 4) membuat tumpeng agung: dengan mengenakan pakaian kebesaran, semua peserta membawa tumpeng agung dan panji-panji serta bakaran dupa menuju altar pemujaan yaitu batu tomang; dan 5) memanjatkan doa: semua pelaku ritual kemudian berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang dipimpin oleh pemangku spiritual. Adapun jalannya upacara Hodo diawali dengan prosesi pembakaran dupa wangi yang dilakukan oleh pemangku spiritual. Kidung tua dilantunkan oleh seorang pelakubritual dan sesekali diikuti oleh para penari. Pada akhir kidungan semua pelaku ritual membunyikan tabuhan secara bersahutan dan dilanjutkan dengan melantunkan pujian. Para pengrawit membunyikan gamelan dan para penari mengggerakan tangan dan kepala yang menggambarkan penyembahan dan permohonan kepada Sang Pencipta. Para penari menggerakkan tubuhnya dengan khidmat untuk memohon turunnyaa hujan. Pada bagian akhir para penari menarikan tarian suka ria yang menggambarkan bahwa permohonannya dikabulkan oleh Sang Pencipta dan diikuti oleh peserta yang lain. Pemangku spiritual kemudian menaburkan bunga sebagai pertanda selesainya seluruh rangkaian upacara.