Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTari Seblang Olehsari
Seblang Olehsari merupakan pewarisan tari seblang yang sudah ada sebelumnya. Seblang ini pertama kali diketahui dipentaskan oleh Saridin pada tahun 1930. Pada waktu itu di Kecamatan Glagah terjadi wabah besar-besaran sehingga banyak orang yang meninggal. Atas kejadian itu maka masyarakat Olehsari (ulih-ulihan) dengan dipimpin Saridin melaksanakan upacara adat seblang secara besar-besaran. Pada saat itu Saridin bertindak sebagai pawang dan Jamilah sebagai penarinya. Upacara pada waktu itu dilaksanakan setiap 1 Suro namun sekarang dilaksanakan setelah hari raya Idul Fitri atau lebaran. Meski demikian sejarah seblang sebenarnya terkait dengan sejarah Blambangan sekitar tahun 1771. Namun dalam perkembangannya seblang yang merupakan pewarisan masa Hindu itu mengalami perubahan ketika pengaruh Islam masuk ke Banyuwangi sehingga peninggalan Hindu tidak dilaksanakan melainkan diganti dengan nuansa Islam. Misalnya waktu pelaksanaan dan doa-doa. Hal itu berlanjut sampai sekarang. Namun demikian sebagai peninggalan budaya lama, bahasa Using tetap dipakai dalam pelaksanaan upacara tersebut. Secara keseluruhan adat seblang dilaksanakan selama 7 hari yaitu 3 hari menjelang sampai 3 hari sesudah hari raya Idul Fitri. Tari seblang Olehsari merupakan tari adat yang bersifat sakral. Sebelum pelaksanaan upacara adat seblang masyarakat di Desa Olehsari mengadakan upacara bersih desa. Di Desa Olehsari upacara adat seblang ditutup dengan upacara ider bumi yaitu menjelang senja di hari terakhir. Untuk melaksanakan adat seblang dilakukan 4 tahapan, pertama kejiman pada waktu itu pawang mengundang arwah. Pelaksanaannya dibuka dengan selamatan persiapan untuk macaki genjot (tempat pelaksanaan). Kemudian orang yang kejiman melakukan gerakan yang kadang disertai nyanyian. Setelah ditentukan maka menjelang senja upacara adat dimulai dan berlangsung selama 7 hari bertutur-turut. Mula-mula penari seblang diarak dari rumah menuju pembuat omprog. Di rumah pembuat omprog penari dihias dan diberi pakaian omprog. Setelah itu penari diarak ke arena pelaksanaan adat seblang dengan diapit pawang dan pengudang serta diiringi oleh sinden dan penjamu. Dalam iring-iringan itu ada seorang pembawa payung berwarna kuning. Penari seblang kemudian didudukkan di tempat yang sudah disediakan sambil membawa nyiru. Pada saat itu pawang membaca mantra serta mengenakan omprog. Selanjutnya jika nyiru sudah jatuh maka penari seblang sudah dalam keadaan trance dan ia menari sesuai iringan gamelan serta gending yang dinyanyikan. Dalam kondisi seperti itu penari akan secara tidak sadar mengikuti semuanya sesuai nyanyian dan bunyi gamelan. Setelah menyanyikan semua lagu yang wajib dinyanyikan maka pawang menyadarkan penari. Pada saat itu gending yang dinyanyikan adalah candra dewi. Pada saat itu penari terkulai lemas tidak sadarkan diri. Dan di saat itu pula penonton naik ke arena untuk memberikan sedekah kepada penari. Setelah itu pawang menyadarkan penari. Upacara dilanjutkan dengan ider bumi yaitu mengelilingi empat arah mata angin karena diyakini masing-masing arah ada penunggunya atau ditempati oleh leluhur. Tempat-tempat yang dipercaya di tempat arwah leluhur itu adalah makam Buyut Ketut dan sumber sukma ilang.