Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | DISTRIKAN - Sukorejo, Kab. Pasuruan, Jawa Timur |
Upacara distrikan diselenggarakan di beberpa desa di Kabupaten Pasuruhan. Upacara adat ini bertujuan untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar hujan segera turun dan air ranu (danau) bertambah banyak sehingga dapat mengairi sawah. Upacara ini dilangsungkan agar yang mbaureksa ranu tidak mengganggu warga yang memanfaatkan air ranu. Bentuk sesajian dan penentuan hari pelaksanaan upacara menjadi tanggungjawab juru kunci ranu.
Adapun jalannya upacara, warga mempersiapkan peralatan khususnya perahu untuk melarung sesaji, sehari sebelum upacara dilaksanakan. Pada pagi harinya peserta upacara mempersiapkan diri dengan segala peralatan dan sesaji di tempat pesanggrahan ranu. Sesaji (sandhingan) berupa tumpeng diletakkan di sebuah getek/rakit. Dua buah sampan hias yang akan dinaiki oleh peserta upacara untuk melarung sajian juga disiapkan. Sesepuh/Kepala Desa Ranuklindungan kemudian memerintahkan supaya upacara segera dimulai. setelah mendapat mandat juru kunci ranu membacakan asal-usul ranu dengan diiringi tembang macapat dhandhanggula ranu grati.
Sesepuh desa kemudian mempersilakan para peserta untuk mengikuti upacara larung di tengah ranu dengan cara menggunakan perahu hias dan membawa getek berisi sesaji (sandhingan) tumpeng. Peserta menuju ke tengah ranu bersama sebuah perahu lain berisi pengrawit dan seorang sinden serta getek berisi sesaji. Suara gamelan dan sinden terus mengalun hingga di tempat pelarungan. Dari arah lain muncul sampan kecil yang dinaiki oleh warga sekitar ranu. Sesampainya di tengah ranu, sesepuh desa kemudian mempersilahkan juru kunci untuk membacakan doa keselamatan.
Setelah doa selesai, peserta upacara kembali ke pesanggrahan ranu untuk mengadakan kembul bujana (makan bersama) sambil menonton pertunjukan wayang kulit. Dua perahu hias kembali ke pesanggrahan dengan diiringi suara gamelan dan sinden sampai di gisik (luar arena). Getek yang berisi tumpeng ditinggal di tengah ranu. Warga sekitar ranu kemudian saling berebutan sesaji yang berada di atas getek yang ditinggal di tengah ranu. Setelah acara larung, di pesanggrahan diselenggarakan pagelaran wayang kulit gaya Jawa Timuran hingga sore hari dengan lakon tetap yaitu watu gunung. Pada malam harinya juga diadakan pagelaran wayang kulit gaya Jawa Timuran semalam suntuk dengan lakon berbeda untuk menghibur warga. Upacara distrikan di Kabupaten Pasuruhan dilakukan sebagai wujud permohonan agar Tuhan Yang Maha Esa berkenan menurunkan air yang dapat mengaliri sawah mereka.