Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Asrah Batin - Kedungjati, Kab. Grobogan, Jawa Tengah
Pada zaman dahulu kala terdapat dukuh yang bernama dukuh Dhadapan. Dukuh ini dihuni oleh seorang janda yang mempunyai dua orang anak yaitu Kedhini (yang perempuan) dan Kedhono (yang laki-laki). Pekerjaan kedua anak itu adalah membantu orang tuannya menggembala kambing. Ketika itu musim kemarau dimana cuacanya panas sekali dan mereka sangat lapar saat menggembala kambing. Kemudian mereka pulang ke rumah sambil merengek kepada ibunya yang sedang memasak nasi belum masak, keduanya tidak sabar terus meminta pada ibunya untuk diberi nasi, ibunya (Mbok Rondho Dhadapan) tadi hilang kesabarannya kepada kedua anak tersebut dan akhirnya centhong (sendok nasi) dilemparkan kepada kedua anak tersebut dan mengenai pelipis Kedhono sampai luka. Kedhono merasa sakit hati atas perbuatan ibunya dan ia melarikan diri dari rumah. Karena adiknya Kedhini merasa kasian melihat kakaknya Kedhono maka ia pun ikut meninggalkan rumah bersama dengan kakaknya. Mereka berdua pergi dari rumah tanpa arah tujuan yang pasti. Kedua anak itu berjalan tanpa kenal lelah melewati hutan dan bertemu dengan berbagai binatang hutan. Setelah menemukan lahan untuk membuat tempat tinggal disini timbul niat Kedhini untuk melanjutkan perjalanan sendiri, maka iapun meminta ijin kepada kakaknya untuk melanjutkan perjalanan sendiri untuk mencari Langes (debu bekas bakaran) yang jatuh dan bertebaran di hutan. Namun, Kedhono keberatan karena seorang wanita pergi sendirian melewati hutan belantara, tetapi karena sifat Kedhini yang keras pantang menyerah maka dengan tekad bulat ia pamit kepada kakaknya. Kemudian ia berkelana mencari langes tadi dan setiap ia menemukan langes ia namakan daerah tersebut dan menjadikannya sebagai daerah kekuasaanya. Seiring waktu berlalu, Kedhono tumbuh menjadi perjaka yang mempunyai paras rupawan begitupun juga dengan kedhini yang tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Salah satu dukuh yang dipimpin Kedhini bernama dukuh Kranggenan, tempat ini merupakan dukuh yang subur dan makmur. Ketika itu, Kedhini bersama dengan warganya sedang mencari ikan di sungai. Pada saat yang sama Kedhono sedang melakukan napak tilas bersama warganya. Ketika mereka saling bertatap muka, maka ketika itu pula mereka saling jatuh cinta. Setelah beberapa hari, Kedhono menyatakan isi hatinya berniat untuk meminang Kedhini dan keduanya mulai bernesraan dengan memahami isi hati masing-masing sambil petan (mencari kutu). Betapa terkejutnya Kedhini ketika mengetahui terdapat bekas luka di kepala Kedhono dan ia pun bertanya kepada kedhono bagaimana terjadinya bekas luka tersebut. Alangkah terkejut dan terperangahnya Kedhini ketika mengetahui bahwa lelaki yang meminangnya adalah kakaknya sendiri. Dan pinangan itu akhirnya dibatalkan sebelum menimbulakn aib dan bencana. Maka keduanya berikrar untuk tinggalan anak cucu dengan anam “asrah bati”(menyerahkan isi hati). Maka kedua desa yaitu Desa Karanglangu dan Ngombak tidak pernah ada ikatan perkawinan dari dulu sampai sekarang, dan hal ini tidak ada yang berani melanggar. Walaupun itu tidak ditulis dalam perjanjian tertentu tetapi kedua desa tersebut meyakininya. Asarah Batin merupakan upacara tradisional yang melibatkan masyarakat dua desa di wilayah Kecamatan Kedungjati yaitu Desa Ngombak dan desa Karanglangu, kegiatan budaya dan ritual yang sudah dilakukan secara turun temurun sejak nenek moyang dari kedua desa tersebut. Upacara ini merupakan perwujudan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas dipertemukannya dua saudara kakak beradik yang telah lama terpisahkan selama kurun waktu puluhan tahun lamanya. Acara Asrah Batin berupa rangkaian kegiatan selama kurang lebih 15 hari dan dilaksanakan setiap dua tahun sekali pada bulan kemarau (ketika bulan Jawa) dan puncak acara hari H dilaksanakan pada hari Ahad Kliwon dimulai dengan perjalanan Kepala Desa Karanglangu beserta masyarakatnya dengan berjalan kaki lengkap dengan pakaian tradisional adat Jawa menyusuri hutan menuju Desa Ngombak selanjutnya menyeberangi tali tintang di Kedungmiri dan dilanjutkan dengan serangkaian upacara adat di pendopo desa Ngombak selama satu hari penuh. Rangkaian acara dalam Asrah Batin meliputi gebyug, kerja bakti, pembuatan obat jenu (tubo), acara tubo, doa selamat, gladi bersih, kerja bakti bedah rumah kepala desa, pembuat boreh/bobok (bedak dingin), sasrahan badeg dari Karanglangu, persiapan malam midodareni dan upacara Asrah Batin (puncak acara).