Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | JEDOR PENCAK KUNTULAN - Paciran, Kab. Lmaongan Jawa Timur |
| Karya Budaya | Seni Pertunjukan |
| Karya Budaya Sub | Seni Musik |
| Kondisi Saat Ini | Sudah Berkurang |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Yoga |
| Pencatat Karya Budaya | Yustina Hastrini Nurwanti, S.S. |
| Narasumber | Sarbolah |
| Provinsi | Jawa Timur |
| Kabupaten/Kota | KAB. LAMONGAN |
| Penginput Data | Subiyantoro, S.Sn. |
Kesenian Jedor merupakan kolaborasi antara seni pencak dan jedor, Seni musik jedor ini juga merupakan seni musik yang rancak, artinya ketukan dalam memainkannya sama.Salah satu musik religius berbau islami ini telah lama ada di desa Sendangagung. Pada mulanya jedor ini dikenal dengan sebutan Pencak Kuntulan, yaitu perpaduan dari seni pencak silat asli Sendangagung yang ditemani dengan jedor, disebut dengan “Pencak kuntulan†yaitu karena perpaduan antara pencak silat (pencak) dan jedor yang dibungkus kain bergambar kuntul. Berdasarkan keterangan salah satu penggiat Seni Jedor yakni Bapak Sarbolah pencak kuntulan ini sudah ada bahkan sebelum Indonesia merdeka yaitu sekitar tahun 1930-an. Pada saat itu jedor dipesan langsung dari Palembang, Sumatera Selatan. Konon sampai saat ini jedor asli Palembang yang masih ada disimpan di selatan Sumur Grombyang sedangkan jedor-jedor yang baru saat ini biasanya dipesan dari Bungah, Gresik. Jedor Sendangagung dihidupkan oleh Carik Murib, yaitu carik pada masa Petinggi ( kepala desa ) Tajid. Beliau adalah orang yang pintar berkreasi dan terus menggalakkan kesenian ini di bumi Sendangagung. Bahkan beliau mendatangkan guru barzanji dari Bungah, Gresik. Sedangkan pemain jedor sendangagung maestro diantaranya yaitu, Bapak Muslihan (alm) dan H. Nur Hasyim (alm).
Awalnya, kesenian ini hanya ditemani oleh dua jedor ditambah dengan delapan terbang jedor, dua kendang dan diiringi tiga vokal pembaca dziba’. Lambat laun, Jedor Sendangagung akhirnya tidak lagi menemani permainan silat namun diganti dengan pembacaan dziba’ dan shalawat dengan memiliki ciri khas yaitu adanya pembacaan dziba’. Dziba’ yaitu untaian shalawat yang dirangkai dengan sejarah-sejarah Nabi Muhammad SAW. Seiring berlalunya waktu jedor sendangagung semakin digerus zaman, tidak banyak anak muda yang mengenalnya hal ini bisa jadi karena banyak remaja yang kurang peduli terhadap Jedor. Kini untuk menarik perhatian dan untuk melestarikan seni musik Jedor, dalam Jedor Sendangagung kemudian diberikan variasi-variasi baru, yaitu kadang kala terbang diganti gamelan, dan dziba’ diganti tembang-tembang jawa. Hingga akhirnya seni musik satu ini digunakan untuk meramaikan berbagai acara di desa Sendangagung diantaranya; coplok puser pada bayi, khitanan atau sunatan, acara pernikahan dan hajatan lainnya.