Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTEATER TRADISIONAL SUNGGING - Tegalsiwalan, Kab. Purbolinggo, Jawa Timur
Kesenian sungging merupakan salah satu kesenian teater tradisional yang berkembang di Desa Sumber Klidung, Kecamatan Tegal Siwalan, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. Kesenian sungging pertama kali dikenalkan oleh Haji Harun seorang seniman dari Madura pada tahun 1981. Kesenian sungging mendapat antusias yang besar dari masyarakat karena penyajiannya yang ringan dan isi cerita yang penuh dengan pesan moral. Lakon dalam cerita yang dimainkan mengenai kisah kerajaan-kerajaan yang ada di Pulau Jawa seperti majapahit, singasari, sejarah suatu daerah, perjalanan para walisongo, cerita tentang Joko Seger dan Roro Anteng. Namun sekarang ini banyak mengangkat cerita rakyat seperti Lutung Kasarung. Nama Grup kesenian sungging yang ada di Desa Sumber Klidung adalah Sinar Famili yang dipimpin oleh Bapak Alfi. Grup kesenian sungging Sinar Famili dibentuk pada tahun 2006. Dalam pertunjukannya kesenian sungging melibatkan banyak pemain. Satu pementasan sungging melibatkan kurang lebih 60 orang yang terdiri 22 orang aktor/aktris, 16 pemusik, 13 orang artistik dan 7 orang lighting dan sound sistem. Bentuk penyajian sungging: pembukaan: pembukaan pada pementasan sungging tidak langsung pada cerita yang akan ditampilkan. Pada awalnya penonton disuguhi dengan lawakan (banyolan) yang dimainkan 2-3 orang. Kejhungan: mengawali penampilan cerita yang akan dibawakan didahului dengan musik gamelan slendro dan masuknya seorang sinden ngejhung (kidung). Isi dari kejhungan yang dibawakan adalah pantun jenaka yang mengandung unsur humor dan diikuti dengan tarian yang sederhana dan tidak terstruktur. Babak cerita: pembawaan cerita disusun dalam beberapa babak. Pada setiap babaknya selalu disertai dengan lagu yang dinyanyikan oleh pemain sesuai dengan cerita yang sedang diperankan. Penutup: Pertunjukan ditutup dengan sinden ngejhung (kidung) dan menyimpulkan cerita yang dibawakan serta memberikan pesan-pesan moral terhadap penonton. Pertunjukan sungging dimulai pada pukul 22.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 03.00 WIB. Hal ini dikarenakan sebelum pementasan sungging tuan rumah meminta sinden untuk tampil nembang bersama di atas panggung, sementara para tamu undangan memberikan uang (nyawer) kepada tuan rumah.