Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Jamasan Pusaka Suralaya: Upacara Menyambut Satu Sura - Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta |
| Karya Budaya | Adat Istidat Masyarakat |
| Karya Budaya Sub | Upacara Tradisional |
| Kondisi Saat Ini | Sudah Berkurang |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Belum diisi |
| Pencatat Karya Budaya | Titok Nurwidadi, A.Md. |
| Narasumber | - |
| Provinsi | DI Yogyakarta |
| Kabupaten/Kota | KAB. KULON PROGO |
| Penginput Data | Supriyanto |
Upacara menyambut satu sura di Gunung Suralaya, Desa Gerbosarim, Kec. Samigaluh, Kab. Kulon Progomerupakan warisan dari para leluhur. Upacara ini bertujuan untuk memohon keselamatan kepada Tuhan maupun kepada para leluhur yang dianggap berjasa. Sebagian besar para orang tua masih percaya bahwa Gunung Suralaya masih dianggap keramat dan daerah tersebut belum banyak dijamah oleh manusia dan dikatakan dengan istilah Janma mara janma mati, satu moro satu mati, artinya jika orang yang datang ke tempat tersebut tidak kuat iman maka akan mati. Sehingga masyarakat sekitar menganggap perlu untuk melakukan upacara sesaji dengan segala perlengkapannya. Pada tahun 1991 prosesi upacara menyambut satu sura lebih diarahkan kepada upacara jamasan berupa tombak Kyai Manggolo Murti dan Payung Manggolo Dewa pemberian dari Kraton Yogyakarta. Upacara Menyambut Satu Sura dilaksanakan pada malam satu sura, yaitu setahun sekali pada malam tahun baru Jawa (Sura). Dalam upacara ini selalu diberikan sesaji yang dimaksudkan untuk sarana mendekatkan diri dengan harapan agar segala seuatu yang dimohon atau diminta dapat terkabul. Dalam upacara ini sesaji yang digunakan berujud nasi gurih disertai ingkung dan nasi ambengan serta jajan pasar yang dikendurikan bersama. Kenduri dilaksanakan ditempat bapak kepala dusun dengan upacara yang bersifat sederhana. Terdapat perubahan prosesi upacara ini pada tahun 1991, berdasarkan kesepakatan dari pemerintah daerah, tingkat kecamatan dan pemerintah desa, prosesi menyambut satu kemudian digubah lebih kepada upacara jamasan berupa tombak Kyai Manggolo Murti dan Payung Manggolo Dewa pemberian dari Kraton Yogyakarta. Pada malam hari pusaka tersebut sebelum diadakan jamasan disemayamkan dirumah mantan dukuh dan kurang lebih pukul 09.00 WIB diberangkatkan menuju sendang kawidodaren untuk dijamasi. Kedua pusaka tersebut diarak oleh para sentana termasuk pihak dari Kraton Yogyakarta.