Kerajinan Kuningan Bejijong

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaKerajinan Kuningan Bejijong
Karya BudayaKemahiran Kerajinan Tradisional
Karya Budaya SubKerajinan Tradisional
Kondisi Saat IniSedang Berkembang
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasHaryadi
Pencatat Karya BudayaTh. Esti Wuryansari, S.Ant.
Narasumber-
ProvinsiJawa Timur
Kabupaten/KotaKAB. MOJOKERTO
Penginput DataDwi Hastuti, S.Pd.
Kerajinan kuningan di Bejijong diawali oleh orang tua Mbah Sabar yang membuat kerajinan dengan bahan baku tanah liat atau terakota. Pada waktu itu hasil kerajinan tersebut belum banyak yang meresponnya. Ketika Mbah Sabar diterima bekerja di Museum Mojokerto sebagai penjaga malam, hampir setiap hari ia membantu bersih-bersih rumah di kediaman orang Belanda yang bekerja juga di Museum Mojokerto. Pada suatu hari orang Belanda tersebut ke Kediri untuk membuat patung dan Sabar diajak. Setelah berkali-kali ikut ke Kediri, Sabar kemudian diajari membuat patung dari bahan tanah liat dan kemudian meningkat menggunakan bahan kuningan dan perunggu. Setelah pensiun pada tahun 1964, Sabar kemudian menekuni membuat patung dari bahan kuningan. Hasil karyanya berupa patung ganesha, shywa, nandi katak dan sebagainya. Hasil karyanya pada waktu itu tidak diminati oleh warga sekitar namun diminati oleh turis asing yang berwisata di Mojokerto. Setelah itu hasil karyanya diminati banyak orang, dan Sabar mengajak anak-anaknya termasuk Haryadi untuk belajar membuat patung. Pada akhirnya usaha ini banyak diikuti oleh warga Bejijong dan menjadi sumber utama pendapatan warga Bejijong. Bahan baku untuk membuat kerajinan kuningan berupa biji logam. Biji logam tersebut diperdagangkan dalam bentuk ingot hasil cetakan biji logam dari barang-barang rongsokan yang sudah dilebur. Dahulu untuk mendapatkan bahan baku harus membelinya ke Jakarta, Kediri atau Kalimantan, namun sekarang bisa diperoleh di pengepul barang rongsokan yang ada di sekitar Mojokerto.