Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaMUSIK CUNGKIR - Tulungagung, Kab. Tulungagung, Jawa Timur
Kemunculan kesenian musik cungkir di Tulungagung diawali pada tahun 1951. Pada waktu itu Pemerintah Kabupaten Tulungagung menyelenggarakan lomba “Musik Ronda Malam”. Dalam perlombaan tersebut “Musik Ronda Malam” karya Sabiso dari Desa Sembung, Kecamatan Tulungagung terpilih sebagai juara. Karya musik ronda dari Sabiso diberi nama “Thungkir/Cungkir” karena instrumen yang digunakan terbuat dari bambu (bambu petung, tutul, dan wulung) yang bentuknya hampir mirip alat musik angklung. Alat musik tersebut terdiri dari dua bagian yaitu bumbungan dan gambangan. Gambangan dibuat lancip dengan tujuan dapat dipergunakan sebagai senjata ronda selain digunakan sebagai instrumen musik ronda. Nama cungkir diambil dari alunan atau bunyi yang dihasilkan oleh seperangkat instrumen musik yang terbuat dari bambu. Pada awalnya dinamakan “thungkir”, yang diambil dari bunyi “thung” dan “thir”, namun oleh Sabiso nama itu kemudian diganti dengan “cungkir” yang berarti “ngacung” dan “mikir”. “Ngacung” berarti memegang instrumen ditangan dengan posisi vertikal, sedangkan “mikir” adalah berpikir. Hal ini mengandung arti bahwa seluruh pemain musik cungkir harus selalu berkonsentrasi penuh dalam menyajikan gendhing. Sabiso selain sebagai pengrawit musik cungkir juga dikenal sebagai pengrajin gamelan. Setelah karyanya yaitu musik ronda malam/cungkir dikenal oleh masyarakat luas, Sabiso kemudian mengembangkannya dengan berorientasi pada musik gamelan, baik instrumen maupun nada yang dihasilkan. Bentuk pengembangan dari alat musik cungkir yaitu instrumen bonang babok yang berjumlah delapan bilah (dua tlapak), bonang penerus berjumlah delapan bilah (dua tlapak), demung berjumlah enam bilah (dua tlapak), slentem berjumlah enam bilah (tiga tlapak), gong jenis tiup dan gong jenis pukul, gong suwuk satu buah, kendang satu buah, rebab satu buah, siter satu buah, dan kenong berjumlah empat bilah.